- Home
- Lingkungan
- Karhutla Membuat Masyarakat Riau dan Pemerintah Sengsara
Karhutla Membuat Masyarakat Riau dan Pemerintah Sengsara
Minggu, 25 Mei 2014 18:27 WIB
PEKANBARU - Ketidaknayaman yang dirasakan pemerintah Singapura akibat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau beberapa waktu lalu lebih dirasakan dan malah menjadi sebuah kesengsaraan bagi pemerintah dan rakyat Riau, demikian kata Gubernur Annas Maamun.
"Tidak saja sengsara, namum hampir semua sektor perekonomian menjadi lumpuh, pendidikan terkendala dan kesehatan masyarakat menjadi taruhan yang sangat mahal bagi masyarakat dan pemerintah Provinsi Riau," kata Annas saat diwawancarai Correspondent Channel News Asia Devianti Faridz, Jumat (23/5) di kediaman Gubernur Riau kemarin.
Selain itu, menurut dia kerugian akibat karhutla ini mencapai tujuh teriliun yang tentunya angka yang sangat pantastis, ungkap Annas.
Annas Maamun menambahkan, menyikapi kehawatiran akan kembali terjadi kebakaran hutan dan lahan seperti yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatogi dan Geofisika (BMKG), bahwa puncak musim kemarau akan terjadi pada Juli dan Agustus 2014 mendatang.
Menurut Gubernur Riau, Pemprov Riau dalam upaya pencegahan terjadi karhutla telah menetapkan status siaga darurat melalui keputusan Gubernur Riau nomor : kpts. 268/IV/2014 tanggal 17 April 2014 tentang penetapan Status Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau tahun 2014.
Di samping itu juga, kata Gubernur Riau, telah dibentuk Tim Sosialisasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Riau.
"Tim sosialisasi ini dibentuk dalam empat tim yang akan melakukan sosialisasi di 12 kabuapaten dan kota di Riau. Dan mengaktifkan posko-posko di provinsi dan kabupaten," katanya.
Upaya lain yang dilakukan adalah melalui Instruksi Gubernur Riau nomor 1 tahun 2014 dimana pemerintah kabupaten/kota dan perusahaan untuk membuat embung dan kolam penampung air.
"Pembuatan embung ini sudah di tindak lanjuti oleh Pemkab Bengkalis dengan membuat 40 sumur di daerah rawan kebakaran dan kabupaten yang lain masih dalam proses. ujar Annas
Di sisi lain kata Annas, kabupaten/kota telah membuat rencana aksi dalam menghadapi musim kemarau kering, intinya membuat perencanaan kebutuhan peralatan dan perlengkapan, kesiapan personel pemadaman dan pembuatan sumber-sumber air seperti embung, sumur dan kolam penampung air.
Disamping ia menjelaskan, langkah lain adalah pihak Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) masih menyiagakan tiga helikopter.
Satu Unit helicopter Bolcow, satu unit helicopter Sikorsky dan satu unit helicopter Kamov untuk melakukan survey/patroli water bombing.
Pihak BNPB juga menyiagakan satu unit pesawat Hercules dan satu pesawat Cassa untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca, serta satu unit helikopter untuk patroli dan menjemput tersangka.
Kemudian Annas Maamun menambahkan terobosan lain yang dilakukan, membentuk masyarakat peduli bencana (MPB). Setiap desa lima orang MPB dan tiap kecamatan tiga orang.
"Mereka ini diberi honorium yang sesuai dengan aturan kemampuan daerah, mereka ini diberi perlengkapan dan akan diberi pelatihan dan keterampilan khusus dalam penanggulangan bencana," kata Annas.
Dibagian akhir wawancara itu, Gubernur Riau menjelaskan bahwa anggaran bencana akan dinaikkan pada APBD Perubahan 2014 dan APBD 2015 mendatang.
Anggaran Bencana yang semula hanya Rp10 miliar menjadi Rp40 miliar. Annas minta pelaku pembakaran hutan dan lahan ini hendaklah diberi sanksi yang seberat beratnya termasuk juga mafia kayu.***(mcr-din)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Lingkungan
Bhabinkamtibmas Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pekarangan Rumah di Dumai Kota
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar

