Tak Kunjung Difungsikan
Jalan Menuju Kantor Baru Camat Pekaitan Berlumpur
Sabtu, 21 Februari 2015 12:16 WIB
PELALAWAN - Kantor camat baru Pekaitan, Rokan Hilir sampai saat ini belum digunakan, padahal bangunanya sudah lama selesai dikerjakan. Namun secara kasat mata, salah satu penyebab belum difungsikan kantor itu karena jalan menuju kantor itu tidak memadai.
Wartawan, Jum'at (20/2/15) berupaya menuju kantor baru tersebut, namun sekira 200 meter dari arah samping, didapati jalan berlumpur dan tidak bisa dilalui kendaraan roda dua, kecuali dengan berjalan kaki.
Padahal saat itu cuaca cukup terik, lumpurnya masih banyak, tak dapat dibayangkan jika hujan datang, tentu akan sulit lagi dilalui.
Karena sulit ditempuh, riauterkinicom membatalkan niat, dan hanya melihat dari kejauhan saja, dua buah bangunan cukup megah memakai kubah terlihat, dan salah satu diantaranya sudah miring (kantor camat, red).
Asumsi awal wartawan sebelum mengkonfirmasi pihak terkait, mengapa sampai saat ini belum juga ditempati kantor camat tersebut, karena jalan menuju kantor camat tidak bisa dilalui, serta belum diketahui penyebab lain, dan berkemungkinan masih banyak lagi.
Lalu dimanakah pihak kecamatan berkantor?
Setelah menelusuri jalan poros Pekaitan, didapati sebuah kantor bertuliskan "Kantor Kecamatan Pekaitan", kantor ini setara dengan kantor datuk penghulu atau lurah.
Setelah melihat kedalam, ternyata kantor tersebut sangat tidak representative disebut sebagai kantor kecamatan, bangunan tidak terurus, cat mulai mengelupas.
Saat itu, hanya ada dua orang staf kantor camat yang hadir, menambah keyakinan, kalau kantor camat tersebut belum layak dikatakan kantor camat, melainkan seperti kantor datuk penghulu atau kantor lurah.
Lalu kemana pegawai atau honorer lainnya? Ternyata jumlah pegawai dan honorer baik laki-laki maupun perempuan berjumlah 21 orang.
Selain dari dua staf, Camat Safruddin saat itu memang berada di kantor, kebetulan waktu itu, dia memanggil Datuk Penghulu Suak Air Hitam dan Datuk Penghulu Sungai Besar.
Setelah memanggil dua penghulu tersebut, sang camat terlihat menuju arah Jembatan Pedamaran diantar salah satu staf, dan berkemungkinan, dia ada urusan ke Bagansiapiapi.
Sang camat, dibonceng memakai sepeda motor, meninggalkan Pekaitan menelusuri jalan usaha tani yang sulit dilalui, dipinggir sawah, dengan lobang yang tidak terhitung, dan dan hanya bisa dilalui ketika cuaca terik, kalau hujan, wallahu alam.
Dua buah titian harus dilalui masyarakat Pekaitan jika ingin ke Bagansiapiapi, dan pada pangkal salah satu titian, malah dipasang ampang-ampang pula, sepertinya ada tiga pria meminta jasa, bagi siapa saja yang lewat.
Dua orang gadis pekaitan ditemui wartawan ditengah perjalanan, ketika ditanya, bagaimana pendapatnya tentang jalan yang berkubang lumpur tersebut, mereka malah berkata. "Ini lumayan," katanya.
Ternyata, meski jalannya tidak layak disebut sebagai jalan penghubung antara Pekaitan dengan Bagansiapiapi, ibu kota kabupaten, mereka malah bersyukur, karena hari tidak hujan.
Dibalik derita masyarakat tersebut, tidak jauh dari tempat itu, berdirilah jembatan pedamaran II dan jembatan pedamaran I.
Ironis sekali, gaung jembatan pedamaran I dan jembatan pedamaran II sudah menggema kemana-mana, namun masyarakat disana perlu dipertanyakan dari hati nurani kita, apakah mereka sudah merdeka atau belum.
Dua orang ibu-ibu melintas pada dua buah titian, pada titian pertama, mereka untuk bisa lewat, mesti meminta bantuan penjaga ampang-ampang, bantuan itu sangat diharapkannya, karena mereka tidak bisa melewatinyanya.
Pada titian kedua, kebetulan ibu-ibu tersebut beriringan dengan riauterkinicom, menggunakan bahasa Jawa, kedua ibu-ibu tersebut meneriaki, ternyata mereka minta bantu, untuk bisa melewati titian itu.
Setelah riauterkinicom bantu sepeda motornya melewati titian, mereka turun sambil berjalan kaki, keluar kalimat keluhan, kalau bukan karena terpaksa, mereka tidak akan mau pergi ke Bagansiapiapi.
Lalu ditanya, apa alasan mendesak mereka sehingga memaksakan diri melewati jalan dan titian berbahaya tersebut. "Tetangga kami dirawat dirumah sakit, akibat meminum racun," kata mereka.
Maka didapatkan jawaban, kata kunci, jika bukan karena terpaksa, dikorelasikan dengan kemerdekaan Pekaitan, tarik kesimpulan sendiri.
(nop/rtc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Pendidikan
5 Tips Bijak Bermedia Sosial Ala Remaja Terbaru 2024
-
Hiburan
Via Vallen Teriak Histeris Dengar Suara Rintihan Saat Live IG
-
Sosial
Mensos Bersama Gubernur Riau Kunjungi Balai Abiseka Pekanbaru
-
Sosial
Menteri Sosial Minta Bank Buka Blokir Kartu Bansos di Riau
-
Lingkungan
Upaya Pemerintah Dalam Pelaksanaan Perhutanan Sosial Riau
-
Ekbis
Gubernur Riau Promosikan Produk UMKM Masyarakat Lewat Medsos Pribadinya

