• Home
  • Sosial
  • Kulit Sagu Meranti, Energi Terbarukan Yang Terlupakan

Kulit Sagu Meranti, Energi Terbarukan Yang Terlupakan

Selasa, 01 November 2016 19:22 WIB
MERANTI - Kulit sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau yang dinyatakan sebagai limbah, ternyata pernah diolah menjadi arang atau energi terbarukan.

"Kemarin itu, kulit dari batang sagu sudah di produksi menjadi arang. Lalu diekspor ke negara-negara musim salju," ucap warga Rizal Fahril di Selatpanjang, Meranti, Selasa.

Selama ini, ia berkata, negara-negara memiliki musim salju seperti Jepang di kawasan Asia, pasti membutuhkan penghangat ruangan biomassa atau sumber energi terbarukan.

Dia contohkan, seperti penggunaan batu baru kini bisa digantikan dengan memakai arang dari kulit pohon sagu yang lebih efisein.

"Kalau pakai kulit sagu, maka lebih tahan lama dan harga jauh lebih murah. Dibanding batu bara," terang Ketua Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia (APJI) Kepulauan Meranti.

Tapi, bebernya, informasi terakhir perusahaan mengolah kulit pohon sagu di Kepulauan Meranti sudah tidak beroperasi lagi.

"Kendalanya itu, ada pada terbatasnya persediaan air atau listrik. Tapi kita tidak tahu pasti, sebab perusahaan ini tidak operasi lagi," papar Rizal.    

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kepulauan Meranti pada akhir tahun lalu menyatakan, pihaknya masih memiliki rencana mengolah limbah sagu menjadi biomasa.

"Selain kurangi masalah lingkungan, limbah ini juga bisa ciptakan kemandirian energi bagi warga di sekitar kilang sagu," ucap Kepala BLH Kepulauan Meranti, Irmansyah.

Ia melanjutkan, masih marak terjadi pencemaran di kawasan perairan akibat banyaknya kilang sagu membuang limbah secara sembarangan.

Pihaknya berinisiatif mengajarkan pemanfaatan limbah menjadi biomasa, agar warga desa setempat mengubah prilaku demi menambah penghasilan dengan menjadikan energi alternatif.

"Ini terjadi karena perhatian terfokus pada pati sagu, sehingga pemanfaaatan tanaman sagu jadi tidak maksimal dan kurang diperhatikan," katanya.

(ant/ant)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags
Komentar