Usaha Susu Kambing Warga Kampar Kian Menjanjikan
Selasa, 14 Januari 2014 20:18 WIB
KAMPAR - Amril Nurman kini benar-benar kewalahan. Saban hari pesanan susu kambing makin membengkak saja. Tak hanya dari konsumen perorangan, tapi juga dari distributor di Bangkinang dan Panam, Pekanbaru, yang selama ini membantu pemasaran susu kambingnya.
“Kalau ada 30 liter per hari, pasti habis. Sebab permintaan makin hari makin banyak. Sementara hasil dari sini masih sangat minim. Paling tinggi cuma 2 liter satu hari,” kata ayah empat anak ini dalam sebuah perbincangan di komplek kandang kambing kelompoknya di Dusun Padang Tengah, Desa Koto Perambahan, Kecamatan Kampar Timur, Kamis pekan lalu. Kalau permintaan melonjak, lelaki 38 tahun ini terpaksa memesan kepada koleganya yang ada di Sumatera Barat.
Sudah tiga tahun belakangan jebolan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Karya Nyata Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu ini ‘bercengkrama’ dengan kambing jenis Etawa dan Peranakan Etawa (PE).
Bermula dari bantuan ternak kambing perah dari anggaran APBN pada 2011 lalu, Amril dan 9 rekannya yang tergabung dalam Kelompok Tani Peternakan ‘Perambahan Etawa’ kebagian 30 ekor betina dan 3 jantan. Tak ketinggalan duit untuk membikin kandang senilai Rp8 juta.
“Kami tidak dikasih ternak. Tapi uang cash. Kamilah yang mencari jenis kambing perah apa yang akan kami pelihara. Duit bikin kandang dan kantor akhirnya nombok Rp54 juta. Kan uang untuk bikin kandang cuma Rp8 juta. Sementara ukuran kandang saja sudah 4,5 x 18 meter,” cerita Amril.
Tapi gara-gara uang cash ini pula, sebahagian anggota kelompok menjadi ‘silau’. “Kawan-kawan ada yang minta uang saja. Makanya sekarang, anggota yang aktif hanya 4 orang,” ujar Amril.
Di Kampar, tadinya orang masih asing dengan yang namanya susu kambing. Makanya, ketika kambing-kambing itu sudah menghasilkan susu, kulkas di kantor kelompok tani itu sempat dipadati oleh bungkusan plastik seperempat liter berisi susu kambing. “Kami sempat hampir putus asa. Tapi Alhamdulillah, setelah kami upayakan pemasarannya, sekarang justru kami yang kewalahan memenuhi permintaan,” kenang Amril tertawa.
Kini, dari 52 ekor populasi kambing yang dimiliki kelompok tani Desa Perambahan di kilometer 36 lintas Pekanbaru-Bangkinang ini -22 ekor indukan, 5 jantan dan 25 anakan- yang saban hari menghasilkan susu baru empat ekor. Tapi bakal ada 7 ekor lagi yang akan bisa diperah. “Sekarang lagi musim kering. Nanti kalau kambing sudah beranak, baru bisa diperah,” terang Amril.
Memerah susu kambing itu, kata Amril, bisa dilakukan pagi atau sore. Lantaran cuma empat ekor yang baru bisa diperah, kelompok ini baru bisa menghasilkan susu 2 liter sehari. Tiap liter dijual Rp60 ribu. Satu liter susu dibagi dalam empat kemasan plastik yang masing-masing berisi seperempat liter. Ini berarti, saban hari kelompok ini bisa mengantongi duit Rp240 ribu.
Tak hanya dari hasil susu itu kelompok ini bisa mengantongi duit. Dari air kencing dan kotoran seekor kambing, kata Amril, mereka bisa dapat Rp50 ribu per bulan. Kalikan saja dengan jumlah kambing yang ada saat ini.
Terus, selama tiga tahun pelihara kambing, Amril dan kawan-kawan sudah menjual sekitar 10 ekor anakan umur 5-6 bulan. Satu ekor dijual pada kisaran Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. “Dari usaha kambing ini, alhamdulillah saya sendiri sudah bisa bikin rumah beton berukuran 8x16 meter. Terus saya juga sudah bisa membeli sepeda motor,” ujar Amril.
Meski jumlah kambing kelompok ini sudah berkembang pesat, bukan berarti tidak ada angan-angan kelompok ini yang belum kesampaian. “Kami ingin menjadikan Kampar sebagai sentra susu kambing di Riau. Saat ini saja, ini baru satu-satunya tempat kambing perah,” kata Amril. Amril dan kawan-kawan juga berusaha membikin sarana air bersih yang bagus. Terus tempat pemerahan dan pengolahan susu yang lebih bagus lagi.
Hanya saja, untuk mendapatkan indukan dan pejantan, bukan perkara mudah. Selain harus membeli langsung ke Kaligesing, Jawa Tengah, harganya pun cukup mahal. “Yang indukan Rp3,5 juta per ekor. Sementara pejantan Rp5,8 juta per ekor. Bisa saja menunggu anakan menjadi dewasa. Tapi prosesnya lama. Butuh waktu 9 bulan. Itupun kalau kambingnya jenis super,” ujar Amril.
Walau indukan dan pejantan tadi mahal, Amril dan kawan-kawan tetap bertekad untuk mewujudkan impian mereka itu. Sebab mereka sudah kadung ‘enak’ menikmati hasil bisnis kambing ini. “Satu ekor kambing bisa menghasilkan duit Rp500 ribu per bulan. Itu termasuk hasil jual air kencing dan kotorannya. Kalau mau serius berbisnis, minimal harus punya 5 ekor kambing per orang,” kata lelaki yang pernah punya 9 ekor kambing PE peliharaan sendiri pada 2009 itu.
Amril mengaku sudah pernah beternak sapi. Tapi kambing perah justru lebih menjanjikan. Memelihara 5 ekor kambing sama biayanya dengan memelihara seekor sapi. “Pakan untuk lima ekor kambing cuma Rp10 ribu per hari. Pakannya juga gambang. Asal hijauan, pasti dimakan. Lalu, penghasilan harian kita dapat dari susu. Mingguan dari kotoran dan tahunan dari anakan,” kata Amril.
Biar hasil susu maksimal, konsentrat musti full. Kalau konsentrat bagus, per ekor kambing bisa menghasilkan 1 liter susu per hari. “Saya ndak khawatir jika kelak susu melimpah. Sebab susu kambing bisa dijadikan sabun. Harganya juga menjanjikan,” katanya.
Lantaran misi besar tadi, Amril dan kawan-kawan berharap supaya Dinas Peternakan dan Penyakit Hewan lebih intens membina mereka. “Selama ini sih kami sudah dapat bimbingan teknis. Kalau bisa ya misi kami untuk mewujudkan sentra susu kambing itu mendapat dukungan dari Pemkab Kampar,” Amril berharap.
Bupati Kampar Jefry Noer langsung menyambut keinginan kelompok tani ini. Jefry minta Dinas Peternakan lebih intens membina dan membantu apa yang menjadi misi Amril dan kawan-kawan. “Kelompok semacam ini musti kita perhatikan dan bantu. Sebab mereka sudah membuktikan keuletannya sebagai peternak. Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga musti turun tangan,” pinta Jefry.
Sebagai peternak yang sudah menjalankan usaha, Jefry juga minta kepada Amril dan kawan-kawan untuk memberikan support kepada masyarakat untuk lebih ulet berusaha, layaknya kelompok Amril. “Inilah kerja sama yang musti kita bangun. Tak hanya pemerintah yang musti melakukan sosialisasi. Tapi juga pelaku usaha yang sudah tergolong berhasil. Biar misi zero kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh yang sedang kita geber, lebih cepat terwujud,” pinta Jefry.***(man)
“Kalau ada 30 liter per hari, pasti habis. Sebab permintaan makin hari makin banyak. Sementara hasil dari sini masih sangat minim. Paling tinggi cuma 2 liter satu hari,” kata ayah empat anak ini dalam sebuah perbincangan di komplek kandang kambing kelompoknya di Dusun Padang Tengah, Desa Koto Perambahan, Kecamatan Kampar Timur, Kamis pekan lalu. Kalau permintaan melonjak, lelaki 38 tahun ini terpaksa memesan kepada koleganya yang ada di Sumatera Barat.
Sudah tiga tahun belakangan jebolan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Karya Nyata Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu ini ‘bercengkrama’ dengan kambing jenis Etawa dan Peranakan Etawa (PE).
Bermula dari bantuan ternak kambing perah dari anggaran APBN pada 2011 lalu, Amril dan 9 rekannya yang tergabung dalam Kelompok Tani Peternakan ‘Perambahan Etawa’ kebagian 30 ekor betina dan 3 jantan. Tak ketinggalan duit untuk membikin kandang senilai Rp8 juta.
“Kami tidak dikasih ternak. Tapi uang cash. Kamilah yang mencari jenis kambing perah apa yang akan kami pelihara. Duit bikin kandang dan kantor akhirnya nombok Rp54 juta. Kan uang untuk bikin kandang cuma Rp8 juta. Sementara ukuran kandang saja sudah 4,5 x 18 meter,” cerita Amril.
Tapi gara-gara uang cash ini pula, sebahagian anggota kelompok menjadi ‘silau’. “Kawan-kawan ada yang minta uang saja. Makanya sekarang, anggota yang aktif hanya 4 orang,” ujar Amril.
Di Kampar, tadinya orang masih asing dengan yang namanya susu kambing. Makanya, ketika kambing-kambing itu sudah menghasilkan susu, kulkas di kantor kelompok tani itu sempat dipadati oleh bungkusan plastik seperempat liter berisi susu kambing. “Kami sempat hampir putus asa. Tapi Alhamdulillah, setelah kami upayakan pemasarannya, sekarang justru kami yang kewalahan memenuhi permintaan,” kenang Amril tertawa.
Kini, dari 52 ekor populasi kambing yang dimiliki kelompok tani Desa Perambahan di kilometer 36 lintas Pekanbaru-Bangkinang ini -22 ekor indukan, 5 jantan dan 25 anakan- yang saban hari menghasilkan susu baru empat ekor. Tapi bakal ada 7 ekor lagi yang akan bisa diperah. “Sekarang lagi musim kering. Nanti kalau kambing sudah beranak, baru bisa diperah,” terang Amril.
Memerah susu kambing itu, kata Amril, bisa dilakukan pagi atau sore. Lantaran cuma empat ekor yang baru bisa diperah, kelompok ini baru bisa menghasilkan susu 2 liter sehari. Tiap liter dijual Rp60 ribu. Satu liter susu dibagi dalam empat kemasan plastik yang masing-masing berisi seperempat liter. Ini berarti, saban hari kelompok ini bisa mengantongi duit Rp240 ribu.
Tak hanya dari hasil susu itu kelompok ini bisa mengantongi duit. Dari air kencing dan kotoran seekor kambing, kata Amril, mereka bisa dapat Rp50 ribu per bulan. Kalikan saja dengan jumlah kambing yang ada saat ini.
Terus, selama tiga tahun pelihara kambing, Amril dan kawan-kawan sudah menjual sekitar 10 ekor anakan umur 5-6 bulan. Satu ekor dijual pada kisaran Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. “Dari usaha kambing ini, alhamdulillah saya sendiri sudah bisa bikin rumah beton berukuran 8x16 meter. Terus saya juga sudah bisa membeli sepeda motor,” ujar Amril.
Meski jumlah kambing kelompok ini sudah berkembang pesat, bukan berarti tidak ada angan-angan kelompok ini yang belum kesampaian. “Kami ingin menjadikan Kampar sebagai sentra susu kambing di Riau. Saat ini saja, ini baru satu-satunya tempat kambing perah,” kata Amril. Amril dan kawan-kawan juga berusaha membikin sarana air bersih yang bagus. Terus tempat pemerahan dan pengolahan susu yang lebih bagus lagi.
Hanya saja, untuk mendapatkan indukan dan pejantan, bukan perkara mudah. Selain harus membeli langsung ke Kaligesing, Jawa Tengah, harganya pun cukup mahal. “Yang indukan Rp3,5 juta per ekor. Sementara pejantan Rp5,8 juta per ekor. Bisa saja menunggu anakan menjadi dewasa. Tapi prosesnya lama. Butuh waktu 9 bulan. Itupun kalau kambingnya jenis super,” ujar Amril.
Walau indukan dan pejantan tadi mahal, Amril dan kawan-kawan tetap bertekad untuk mewujudkan impian mereka itu. Sebab mereka sudah kadung ‘enak’ menikmati hasil bisnis kambing ini. “Satu ekor kambing bisa menghasilkan duit Rp500 ribu per bulan. Itu termasuk hasil jual air kencing dan kotorannya. Kalau mau serius berbisnis, minimal harus punya 5 ekor kambing per orang,” kata lelaki yang pernah punya 9 ekor kambing PE peliharaan sendiri pada 2009 itu.
Amril mengaku sudah pernah beternak sapi. Tapi kambing perah justru lebih menjanjikan. Memelihara 5 ekor kambing sama biayanya dengan memelihara seekor sapi. “Pakan untuk lima ekor kambing cuma Rp10 ribu per hari. Pakannya juga gambang. Asal hijauan, pasti dimakan. Lalu, penghasilan harian kita dapat dari susu. Mingguan dari kotoran dan tahunan dari anakan,” kata Amril.
Biar hasil susu maksimal, konsentrat musti full. Kalau konsentrat bagus, per ekor kambing bisa menghasilkan 1 liter susu per hari. “Saya ndak khawatir jika kelak susu melimpah. Sebab susu kambing bisa dijadikan sabun. Harganya juga menjanjikan,” katanya.
Lantaran misi besar tadi, Amril dan kawan-kawan berharap supaya Dinas Peternakan dan Penyakit Hewan lebih intens membina mereka. “Selama ini sih kami sudah dapat bimbingan teknis. Kalau bisa ya misi kami untuk mewujudkan sentra susu kambing itu mendapat dukungan dari Pemkab Kampar,” Amril berharap.
Bupati Kampar Jefry Noer langsung menyambut keinginan kelompok tani ini. Jefry minta Dinas Peternakan lebih intens membina dan membantu apa yang menjadi misi Amril dan kawan-kawan. “Kelompok semacam ini musti kita perhatikan dan bantu. Sebab mereka sudah membuktikan keuletannya sebagai peternak. Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga musti turun tangan,” pinta Jefry.
Sebagai peternak yang sudah menjalankan usaha, Jefry juga minta kepada Amril dan kawan-kawan untuk memberikan support kepada masyarakat untuk lebih ulet berusaha, layaknya kelompok Amril. “Inilah kerja sama yang musti kita bangun. Tak hanya pemerintah yang musti melakukan sosialisasi. Tapi juga pelaku usaha yang sudah tergolong berhasil. Biar misi zero kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh yang sedang kita geber, lebih cepat terwujud,” pinta Jefry.***(man)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Lingkungan
Bhabinkamtibmas Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pekarangan Rumah di Dumai Kota
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar

