• Home
  • Lingkungan
  • Air Asin Laut Pengaruhi Produksi Kopi di Kepulauan Meranti

Air Asin Laut Pengaruhi Produksi Kopi di Kepulauan Meranti

Jumat, 02 Mei 2014 10:31 WIB

SELATPANJANG - Pencemaran air asin yang melanda daratan akibat cuaca ekstrim selama tiga bulan, berpengaruh terhadap produksi buah kopi di Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir. Hasil panen warga semakin menurun, dikarenakan daun dan batang kopi menjadi kering menyebabkan bunga kopi ikut runtuh gagal berbuah. 

Menurut salah seorang petani bernama Sudarmo (43 th), yang juga memiliki usaha penggilingan kopi di Dusun Parit Gantung, Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, mengaku panen buah kopinya terus menurun setiap tahunnya. Meskipun penurunan hasil panen kopinya tak sampai 50%, namun dengan menurunnya produksi panen buah kopinya otomatis turut berimbas pada hasil pendapatannya. 

Rata-rata persentase penurunan produksi panen kopi kita berkisar antara 15%-20% dalam setiap panennya. Cuaca ekstrim panas tidak hanya merontokkan bunga kopi dan gagal menjadi buah. Unsur-unsur hara didalam tanah yang merangsang produksi buah juga ikut rusak. 

"Cuaca panas yang berlebihan menyebabkan tanah menjadi kering, sementara kopi membutuhkan kadar kelembaban tanah untuk meningkatkan pertumbuhan buah. Kalau dikonversikan, dalam kondisi normal petani mampu panen 600 kg/ha kopi jambu, sekarang tinggal 480 kg/ha,” ungkap Sudarmo. 

Selain cucaca ekstrim lanjut Sudarmo, intrusi air laut juga turut berdampak buruk pada panen kopi petani. Dengan kuatnya intrusi air masin, menyebabkan rusaknya unsure-unsur hara dalam tanah yang menyebabkan produktifitas buah kopi menurun. 

Hal ini ditandai dengan menguningnya daun kopi yang kemudian gugur. Kondisi ini akan terus menular pada daun kopi lainya yang pada ahirnya juga akan turut merontokkan bunga kopi. 

“Kita benar-benar kehabisan akal untuk menanggulangi penurunan produksi panen kopi akibat perubahan iklim ini. Kita sudah upayan dengan melakukan pemupukan, dengan menggunakan pupuk buah. Hasilnya tetap sama, produksi buah kopi tetap menurun. Meskipun pada awalnya bunga kopi banyak, namun tidak berumur lama jatuh gugur akibat cuaca panas” bebernya. 

Turunya prosduksi panen buah kopi, tidak hanya disebabkan cuaca ekstrim. Sarni (60 th) salah seorang petani kopi desa Kedaburapat lainnya, banjir dalam yang menenggelamkan akar kopi dalam waktu lama, juga akan berdampak buruk pada produksi buah kopi. 

Toleransi tananam kopi terhadap ketahanan banjir hanya berkisar 4-6 hari. Bila banjir terjadi lama, lebih dari batas toleransi tersebut daun kopi akan layu secara serentak, menguning dan kemudian rontok. Rata-rata tanaman kopi yang terendan banjir dalam waktu lama, akan mati mongering. 

“Kalau soal penyakit, saya rasa tidak ada Pak. Musuh kami para petani kopi ini hanyalah persoalan cuaca ekstrim, intrusi air laut dan banjir. Terus terang tiga persoalan ini, memang menjadi persoalan yang sangat rumit untuk diatasi. Terkadang saya berfikir mau beralih menanam pisang ataupun tanaman lain yang lebih cepat produksi dan tahan cuaca ekstrim” tandas Sarni.***(roy)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar