• Home
  • Lingkungan
  • Hotmix Kota Bengkalis, Diduga Tak Memenuhi Spesifikasi Tekhnis

Hotmix Kota Bengkalis, Diduga Tak Memenuhi Spesifikasi Tekhnis

Selasa, 07 Januari 2014 17:26 WIB

BENGKALIS - Pengerjaan aspal hotmix dalam kota Bengkalis yang telah selesai dikerjakan pada akhir tahun 2013 lalu, diduga kuat tidak memenuhi standar atau spesifikasi tekhnis. Untuk itu, pihak penegak hukum didesak untuk melakukan penyelidikan terhadap kualitas pekerjaan yang menelan anggaran hampir Rp 10 milyar.
 
“Aspal Beton (Hotmix) adalah campuran agregat halus dengan agregat kasar, dan bahan pengisi (Filler) dengan bahan pengikat aspal dalam kondisi suhu panas tinggi. Dengan komposisi yang diteliti dan diatur oleh spesifikasi teknis, sehingga diduga pekerjaan pengaspalan tersebut tidak mengacu kepada spesifikasi tekhnis di lapangan,”papar Reza Alfian, pengamat konstruksi di Bengkalis, Selasa (7/1/14).
 
Dikatakan sarjana tekhnik itu, berdasarkan bahan yang digunakan dan kebutuhan desain konstruksi jalan aspal Beton mempunyai beberapa jenis. Antara lain, Binder Course ( BC ) dengan tebal minimum 4cm biasanya digunakan sebagai lapis kedua sebelum wearing course. Kemudian Asphalt Traeted Base ( ATB ) dengan tebal minimum 5 Cm digunakan sebagai lapis pondasi atas konstruksi jalan dengan lalu lintas berat / Tinggi.

Namun, sambung Reza, dalam pekerjaan hotmix jalan lingkungan dalam kota Bengkalis itu tidak memperhatikan aspek tersebut diatas. Seperti Hot Roller Sheet ( HRS ) / Lataston / laston 3 dengan tebal penggelaran minimum 3 s/d 4 cm digunakan sebagai lapis permukaan konstruksi jalan dengan lalu lintas sedang (FG) Fine Grade dengan tebal minimum 2.8 cm maks 3 cm bisanya digunakan untuk jalan perumahan dengan beban rendah.

“Lihat saja, lapisan konstruksi aspal beton yang dikerjakan tersebut tidak peka terhadap air, serta dapat dilalui kendaraan setelah pelaksanaan penghamparan. Mempunyai sifat flexible sehingga ada kenyamanan bagi pengendara, dengan pemeliharaan yang relative mudah dan murah. Bahkan jalan yang di-hotmix itu rentan terjadinya deformasi,”tambah Reza, alumni STTNAS Jogjakarta itu.
 
Sementara itu salah seorang kontraktor di Bengkalis Narno SE dengan tegas meminta supaya pekerjaan aspal hotmix dalam kota Bengkalis itu diselidiki aparat penegak hukum. Kualitas pekerjaan yang amburadul dengan nilai yang besar, sangat memungkinkan terjadinya praktek korupsi atau mark up.
 
“Alat yang digunakan rekanan dalam melaksanakan pekerjaan adalah alat lama. Setahu saya, dalam klausul kontrak kerja, rekanan harus mempergunakan alat yang baru. Demikian juga dengan nilai pekerjaan yang sangat tinggi, sehingga harus dilakukan proses hukum,”saran Narno.
 
Sebelumnya, dalam beberapa kesempatan, Kepala dinas Pekerjaan Umum melalui Sekretaris Dinas PU Tarmizi membantah kalau pekerjaan konstruksi jalan berupa aspal hotmix itu bermasalah. Ia menyebut rekanan bekerja ssuai dengan spek dan ketentuan serta nilanya juga dalam kewajaran.***(win)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar