Nelayan di Meranti Keluhkan Laut Tercemar Minyak Hitam
Selasa, 04 Februari 2014 16:29 WIB
MERANTI - Akibat laut di Kepuluan Meranti tercemar limbah cair, puluhan Nelayan asal Desa Gayung Kiri, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti ketika mencari ikan di laut sekitar Selat Malaka harus pulang dengan tangan kosong.
Bahkan para Nelayan jaring tradisionil ini usai pulang menjaring ikan merasa pusing dan mual-mual, akibat sengatan uap dari lapisan minyak hitam yang menutup sebagaian perairan Kepulauan Meranti itu.
Cairan minyak hitam ini sudah berlangsung sejak 4 hari lalu. "Malah sekarang cair itu sudah melebar, dan hampir mencapai pantai. Akibatnya banyak ikan terbunuh, termasuk merusak jaring milik nelayan,” ujar Sutrisno salah seorang nelayan yang merasakan dampak negative akan pencemaran laut tersebuat, kemarin.
Sutrino mengakui, nelayan tidak berdaya menghadapi kondisi tersebut. Apakah ada unsur kesengajaan oleh pihak perusahaan membuang limbahnya ke laut, yang pada akhirnya sampai ke perairan Meranti.
“Kami minta kepada pemerintah kabupaten, provinsi bahkan pemerintah pusat, agar melakukan penelitian terjadinya pencemaran laut tersebut. Masa depan kami para nelayan sangat terancam. Kalau selama ini limbah kilang Sagu juga turut mempengaruhi tingkat pencemaran perairan, berdampak pada menurunnya hasil tangkapan nelayan," katanya.
Belakangan ini juga hasil tangkapan nelayan kian menurun akibat beroperasinya kapal keruk perusahaan tambang timah. Dan saat ini laut kita kembali tercemar dengan lapisan minyak berwarna hitam pekat dan saat ini, telah menutupi permukaan laut hampir sejauh 5 Km2.
“Jika hal ini tidak segera diatasi, maka malapetaka akan terjadi, dan juga jika tidak dilakukan penelitian serius oleh instansi terkait, kondisi ini akan terus terulang dari tahun ke tahun,”ungkap Sutrisno.
Di tempat terpisah, Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Kabupaten Kepulauan Meranti H Wan Amirudin mengatakan, tingkat pencemaran laut di perairan Meranti sudah sangat parah. Semua itu berdampak pada penderitaan masyarakat kecil seperti para Nelayan tradisionil.
“Kita berharap masalah ini akan ditelusuri hingga diketahui pihak mana yang melakukan pembuangan limbah di laut itu. Persoalan ini juga harus disampaikan ke Pemerintah Pusat. Sehingga negara turut mencari dan mengusut terjadinya pencemaran laut kita tersebut," katanya.
"Kami keluarga besar para nelayan dari seluruh nusantara ini berharap hal ini tidak didiamkan. Melainkan harus ditindaklanjuti kalau perlu dengan membentuk kerjasama antar negara," lanjutnya.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Meranti Irmansyah, usai menerima sample limbah yang dibawa Kades Sei Gayung Kiri, Syaherullah mengatakan, pihaknya akan membawa contoh limbah itu ke EMP di Kurau, untuk mengetahui jenis limbah tersebut.
Untuk sementara sebut Irmansyah, limbah itu kemungkinan besar minyak mentah. Dan pihaknya juga telah menyampaikan laporan itu ke instansi terkait dan juga ke Pemprov Riau, untuk tindakan lebih lanjut. (fan/hkc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Lingkungan
Bhabinkamtibmas Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pekarangan Rumah di Dumai Kota
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar

