Tempat Maksiat Kian Menjamur,
Forkopincam di Duri Terkesan Tutup Mata
Rabu, 14 Mei 2014 15:08 WIB
DURI - Semakin hari, tempat maksiat semakin menjamur di Kota Duri, Kecamatan Mandau, Bengkalis. Namun sangat miris, (Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan) Mandau terkesan tutup mata dan membiarkan bak jamur tumbuh subur dimusim penghujan.
Dari pantauan wartawan disejumlah titik rawan aksi prostitusi tersebut betopengkan berbagai macam cara. Mulai dari kedok pengobatan tradisional hingga salon kecantikan yang keseluruhannya bila ditelusuri akan menawarkan jasa esek-esek.
"Masa sih ada pengobatan tradisional karyawannya muda dan cantik, serta penawaran pijatnya hingga ratusan ribu rupiah. Jika tidak esek-esek apa bisa ditolerir," ujar Rapi, salah seorang warga yang mengaku pernah tertipu akan pengobatan tradisional tersebut yang awalnya normal namun berubah spontan menawarkan jasa esek-esek.
Senada akan pengakuan Rudi yang kerap mengunjungi pijat tradisional yang dibarengi oleh penawaran jasa esek-esek itu. "Awalnya sih pijat betulan, namun lama-lama memang ditawari ngeseks. Lama-lama emang ketagihan juga sih," akunya.
Menanggapi aksi maksiat berkedok usaha tersebut, Ketua Lembaga Adat Melayu Riau- Mandau, Zulfikar Indra secara tegas tidak mentolerir segala macam aksi maksiat yang ada di Negeri penghasil minyak bumi ini.
"Pokoknya kita tidak mentolerir segala macam aksi maksiat di Duri ini dan secepatnya kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait," tegasnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon genggamnya, Rabu (14/5/14).
Hingga berita ini diturunkan, Camat Mandau Hasan Basri belum dapat dikonfirmasi terkait menjamurnya tempat praktek maksiat tersebut. Telepon genggamnya saat dihubungi berulang kali tak kunjung tersambung.***(hen)
Dari pantauan wartawan disejumlah titik rawan aksi prostitusi tersebut betopengkan berbagai macam cara. Mulai dari kedok pengobatan tradisional hingga salon kecantikan yang keseluruhannya bila ditelusuri akan menawarkan jasa esek-esek.
"Masa sih ada pengobatan tradisional karyawannya muda dan cantik, serta penawaran pijatnya hingga ratusan ribu rupiah. Jika tidak esek-esek apa bisa ditolerir," ujar Rapi, salah seorang warga yang mengaku pernah tertipu akan pengobatan tradisional tersebut yang awalnya normal namun berubah spontan menawarkan jasa esek-esek.
Senada akan pengakuan Rudi yang kerap mengunjungi pijat tradisional yang dibarengi oleh penawaran jasa esek-esek itu. "Awalnya sih pijat betulan, namun lama-lama memang ditawari ngeseks. Lama-lama emang ketagihan juga sih," akunya.
Menanggapi aksi maksiat berkedok usaha tersebut, Ketua Lembaga Adat Melayu Riau- Mandau, Zulfikar Indra secara tegas tidak mentolerir segala macam aksi maksiat yang ada di Negeri penghasil minyak bumi ini.
"Pokoknya kita tidak mentolerir segala macam aksi maksiat di Duri ini dan secepatnya kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait," tegasnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon genggamnya, Rabu (14/5/14).
Hingga berita ini diturunkan, Camat Mandau Hasan Basri belum dapat dikonfirmasi terkait menjamurnya tempat praktek maksiat tersebut. Telepon genggamnya saat dihubungi berulang kali tak kunjung tersambung.***(hen)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Lingkungan
Bhabinkamtibmas Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pekarangan Rumah di Dumai Kota
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar

