Ratusan Warga Kepulauan Meranti Masih Tinggal di RTLH
Senin, 06 Januari 2014 17:59 WIB
SELATPANJANG - Seiring bertambahnya setiap tahun warga Komunitas Adat Tertinggal (KAT) di Dusun Banau, Desa Beting, Kecamatan Rangsang Pesisir, kehidupan masyarakat semakin memprihatinkan.
Bedasarkan data dari Kantor Desa Beting, jumlah Komunitas Adat Tertinggal di Desa Beting mencapai 220 Kepala Keluarga (KK). Rata-rata KK di KAT ini, tinggal rumah tak layak huni (RTLH).
Menurut Kepala Desa Beting, Sutarno terkait upaya program pemberdayaan Komunitas Adat Tertinggal di Desa Beting hidup dibawah garis kemiskinan.
“Komunitas Adat Tertinggal di Banau desa Beting, memang sudah membaur dengan masyarakat. Namun, tekanan ekonomi yang tinggi menyebabkan ratusan KK KAT tersebut, tinggal dirumah-rumah tak layak huni," katanya, Senin (6/1/14).
Dari 220 KK KAT di dusun Banau 100 KK diantaranya, tingggal dirumah-rumah tak layak huni. Rata-rata profesinya sebagai buruh tebang sagu, nelayan dan pencari kayu bakau untuk panglung arang.
"Untuk itu, atas nama pemerintah desa Beting berharap ada upaya dari Pemkab Kepulauan Meranti untuk memprogramkan pembangunan Rumah Layak Huni bagi 100 KAT di dusun Banau tersebut," ujar Kades Sutarno.
Menurutnya, meskipun fasilitas infrastruktur pendidikan dasar sudah tersedia di Desa Beting, namun jumlah anak-anak KAT yang tamat sekolah Dasar sangat terbatas. Sebagian besar mereka hanya bersekolah separuh jalan.
"Dari 20 orang anak-anak KAT yang masuk, yang mampu bersekolah hingga tamat SD hanya 2-3 orang. Sedangkan sisanya berhenti, dengan alasan bekerja membantu orang tuanya menjadi buruh tebang sagu ataupun pencari kayu teki untuk panglung arang," ungkapnya.
Rutinitas anak-anak KAT bila sudah berumur 13-14 tahun, sebagian besar tidak bersekolah ikut bekerja membantu orang tuanya untuk mencari uang. Bagi Komunitas Adat Tertinggal, pendidikan bukanlah hal yang sangat penting.
"Yang paling penting, bagaimana mencari uang sebanyak-banyaknya. Untuk mencari uang bukan harus bersekolah. Persepsi inilah yang menyebabkan kenapa anak-anak KAT banyak yang tak bersekolah," katanya.
Dikatakan Kades, secara emosional anak-anak KAT sangat patuh pada orang tuanya. Meskipun mereka berkeinginan untuk sekolah, tapi kalau orang tuanya mengajak bekerja mereka akan patuh. "Disinilah sulitnya merubah pola pikir masyarakat KAT, sehingga rata-rata SDM mereka jauh tertinggal," beber Kades Sutarno.
Menyikapi masalah ini, pihak Pemdes Beting dan pihak Sekolah sudah berupaya untuk mengajak kembali anak-anak KAT ini bersekolah. Namun, upaya yang dilakukan tidak berhasil. "Rata-rata anak-anak KAT enggan kembali masuk sekolah, alasannya malu dan mau membantu orang tuanya," pungkasnya.***(fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Lingkungan
Bhabinkamtibmas Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pekarangan Rumah di Dumai Kota
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar

