Syarwan Sesalkan Sikap Tokoh Riau Memandang Masalah Gubri
Kamis, 04 September 2014 14:24 WIB
PEKANBARU - Mantan Mendagri Syarwan Hamid tolak tawaran islah (berdamai) oleh para tokoh masyarakat kepada Gubernur Riau Annas Maamun. Syarwan menegaskan tidak ada istilah pengibaran "bendera putih" terkait perseteruanya dengan orang nomor satu di provinsi ini.
"Saya prinsipnya merespon baik dari mereka yang mengaku tokoh masyarakat tersebut. Tapi untuk islah, saya katakan tidak. Bukan ego, melainkan untuk kepentingan orang banyak," kata Syarwan, menanggapi pertemuan para tokoh di RM Khas Melayu, kemarin.
Menurut Syarwan, soal perseterua antara dirinya dan Gubri Annas jangan dilihat persoalan secara pribadi. Tetapi murni karena menyangkut kepentingan yang lebih besar.
Dimana Syarwan menilai kepemiminan yang dilakukan Annas sebagai kepala daerah jauh dari standar. Seperti seenaknya menggeser pejabat seenaknya, tanpa pernah kompetensi dan kepangkatan. Kemudian menempatkan anak dan saudaranya tanpa memperhatikan melihat ketentuan.
Selain itu, dengan mudahnya mengeluarkan kata kotor dan makian kepada orang lain. Hingga dugaan kasus asusila yang dilakukanya terhadap anak tokoh pendidikan Riau berinisial WW (39).
"Ini bukan pribadi saya dengan Annas. Tetapi prilaku keribadian Annas yang jauh dari standar dari kepemimpinan itu sendiri. Selain mendengar, saya jugakan mendapatkan masukan. Hanya mereka tak berani berbicara," ungkap Syarwan.
Syarwan menyatakan, kritikanya belakangan yang dirasakan tidak nyaman oleh Annas adalah sebagai tokoh masyarakat, mantan Mendagri.
"Kalau tak saya mengkritik siapa lagi. Siapa yang berani mengkritik dia. Saya waktu jadi Mendagri dia masih di DPRD. Jadi jangan melihat permasalahan ini masalah pribadi saya dengan Annas. Tapi pandang dia sebagai gubernur dan saya tokoh masyarakat," ujar Syarwan lagi.
Karena itu, mantan Kasospol ABRI ini menegaskan kalau pun nantinya dirinya harus berjuang sendiri, sementara yang lain tetap "bersembunyi" Syarwan akan tetap berjuang, mengkritisi sikap Annas selama dinilai bersikap semaunya.
Lebih lanjut, Syarwan juga mengkritisi kehadiran dua orang tokoh masyarakat bertitel profesor di RM Khas Melayu tersebut. Yakni, Prof Isjoni dan Prof Suwardi, yang meminta antara Annas dan Syarwan islah dengan alasan mengganggu kekondusipan Riau dalam membangun. Serta meminta pemberitaan dugaan tindakan asusila yang dilakukan Gubri Annas terhadap WW dihentikan.
"Ciri-ciri profesor itu berpikir rasional, bukan berbicara atas pesananan orang. Saya bukan lagi anak kecil. Saya juga tak mungkin mengajari mereka. Kalau memang mau silahkan undang saya, jangan orangnya tak ada lalu diomongin," tantang Syarwan.
Pada pertemuan di RM Khas Melayu tersebut, selain dua orang profesor itu hadir juga para tokoh masyarakat lainya diantaranya Mardianto Manan, Emrizal Pakis, Fahrudin Bakar, Meizir Mit, Tarmizi, tokoh masyarakat Jawa Riau Suradi Faizan. (mok)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Lingkungan
Bhabinkamtibmas Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pekarangan Rumah di Dumai Kota
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar

