• Home
  • Hukrim
  • Putrinya Dicabuli, ST Sempat Ingin Membunuh HAM

Putrinya Dicabuli, ST Sempat Ingin Membunuh HAM

Selasa, 12 Agustus 2014 14:40 WIB

PEKANBARU - Setelah berulang kali menolak permintaan wawancara, akhrinya ST, seorang tokoh masyarakat Riau yang putrinya menjadi korban pencabulan pejabat terpenting Pemprov Riau berisial HAM, bersedia menjawab sejumlah pertanyaan wartawan, Senin (11/8/14).

Mantan senator asal Riau tersebut selama wawancara kerap menangis. Nyata sangat terpukul dengan musibah yang menimpa putri dan keluarganya. 

“Seumur hidup saya, belum pernah mengalami musibah yang seberat ini. Mohon didoakan kami semua tabah menghadapinya,” ujarnya dengan suara serak karena tangis. 

Dikatakan ST, sampai saat ini ia dan putrinya terus berusaha agar keluarga besar tidak mengetahui peristiwa aib ini terjadi. Selain dirinya dan putrinya, hanya suami korban yang telah tahu. 

“Baru kami bertiga yang tahu ada peristiwa aib ini. Saya, putri saya dan suaminya. Saya bersyukur suami putri saya sangat sabar dan percaya kalau istrinya adalah korban,” tuturnya. 

Bagi ST, kabar yang disampaikan putrinya awal Juni lalu, di mana pencabulan terjadi pada Juma, 30 Mei 2014, lebih mengejutkan dari gelegar halilintar di siang bolong. Sungguh, sulit percaya bahwa putrinya dinistakan seorang pejabat sangat penting yang semula sangat dihormati dan didukungnya. 

Bahkan, sedemikian terkejut dan marahnya, ST sampai ingin membunuh HAM demi memulihkan kehormatan keluarganya. 

“Kalau tidak dilarang suami putri saya, saya sudah datangi kantornya (HAM.red). Mau saya bunuh dia. Biarlah saya masuk penjara,” ujarnya masih di antara tangis. 

ST mengaku sangat kecewa pada HAM. Tidak sekedar karena tindakan amoralnya terhadap putrinya, tetapi juga karena sikapnya yang tak bertanggung-jawab. Sampai saat ini surat yang dikirimnya belum mendapat tanggapan. 

Terlebih lagi, HAM membantah melakukan pencabulan dan justru menuding ada upaya pemerasan terhadap diri dan keluarganya terkait penyebaran info dugaan asusila tersebut. 

“Dia (HAM.red) harus berani menyebutkan siapa yang mencoba memeras dirinya. Kami bukan orang kaya, tetapi kami tidak mungkin menistakan diri dengan cara-cara seperti itu,” sergahnya. 

Dikatakan ST, mengapa surat yang dikirimnya kepada HAM juga ditembuskan kepada Kapolda, Kejati dan LAM Riau? Tujuannya agar tidak muncul dugaan dirinya memanfaatkan musibah putrinya untuk kepentingan dunia. 

ST tetap berharap HAM mau mengakui perbuatan bejadnya dan meminta maaf. Tidak hanya kepada putrid dan keluarganya, tetapi juga kepada seluruh masyarakat Riau. 

“Dia itu pimpinan. Harus minta maaf kepada seluruh rakyat Riau yang telah dikhianati amanahnya,” demikian pinta ST.***(dok)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Hukrim
Komentar