Keracunan MBG di Dumai, 45 Siswa Dirawat

Redaksi Jumat, 14 Agustus 2026 17:32 WIB
RIAUHEADLINE.COM - Sebanyak 45 siswa dari SDN 013 dan SDN 015 Buluh Kasap, Kota Dumai, Riau, mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (13/8/2026). 

Para siswa tersebut mengeluhkan sakit perut, mual, hingga muntah dan telah mendapatkan penanganan medis di RSUD dr Suhatman Kota Dumai.

Kasi Humas Polres Dumai AKP Zaini Waluyo mengatakan, berdasarkan laporan awal, terdapat 43 siswa SDN 013 dan dua siswa SDN 015 yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan MBG.

“Korban dari SDN 013 sebanyak 43 orang dan dari SDN 015 sebanyak dua orang. Saat ini seluruh korban telah mendapat penanganan medis di RSUD dr Suhatman Kota Dumai,” ujar Zaini.

Peristiwa bermula ketika makanan MBG tiba di SDN 013 sekitar pukul 08.00 WIB. Paket makanan tersebut berisi nasi putih, bakso orek, tempe goreng, tumis labu siam dan wortel, serta buah jeruk.

Sebelum makanan dibagikan, pihak sekolah terlebih dahulu melakukan pemeriksaan awal. Sekitar pukul 09.00 WIB, makanan kemudian mulai dikonsumsi oleh para siswa.

Satu jam berselang, sejumlah siswa mulai merasakan gangguan kesehatan. Sekitar pukul 10.00 WIB, beberapa siswa mengalami mual dan muntah. Pihak sekolah kemudian menghubungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab menyalurkan makanan tersebut.

Sekitar pukul 10.15 WIB, tiga perwakilan SPPG tiba di sekolah. Mereka mengecek kondisi siswa sekaligus meminta agar makanan MBG yang sudah didistribusikan segera ditarik.

Tidak lama setelah itu, ambulans Pemerintah Kota Dumai datang secara bergantian untuk membawa siswa yang mengalami keluhan ke rumah sakit. Para siswa kemudian menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan medis.

Polisi bersama Dinas Kesehatan Kota Dumai selanjutnya melakukan pemeriksaan di sejumlah lokasi yang berkaitan dengan distribusi makanan tersebut. Pemeriksaan dilakukan di SDN 013, SDN 015, serta dapur SPPG Yayasan Mahudun Untuk Negeri.

Dari pemeriksaan awal petugas Dinas Kesehatan, dapur SPPG ditemukan dalam kondisi basah dan disebut belum memiliki pengontrol suhu panas. Kondisi itu diduga berpotensi memengaruhi kualitas makanan serta mempercepat pertumbuhan mikroorganisme.

Meski demikian, aparat belum memastikan penyebab kejadian tersebut. Pemeriksaan dan pengujian laboratorium terhadap sampel makanan serta air masih diperlukan untuk mengetahui sumber masalah secara lebih pasti.

“Namun, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan dan uji laboratorium terhadap sampel makanan maupun air,” terang Zaini.

Makanan Sempat Dicicipi Sebelum Dikemas


Juru masak SPPG memberikan keterangan kepada petugas mengenai proses pengolahan makanan. Proses memasak disebut dimulai sekitar pukul 00.00 WIB.

Setelah makanan selesai dimasak, makanan tersebut terlebih dahulu dicicipi. Saat itu, menurut keterangan juru masak, tidak ditemukan bau yang tidak sedap.

Makanan kemudian dikemas dalam kondisi dingin sekitar pukul 04.00 WIB. Namun, persoalan baru diketahui ketika proses pengemasan berikutnya berlangsung sekitar pukul 08.30 WIB.

Petugas packing disebut menemukan bau menyengat yang berasal dari masakan bakso. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada ahli gizi dan juru masak SPPG.

Setelah ikut mencicipi makanan, juru masak menyatakan bakso orek tersebut sudah tidak layak dikonsumsi. Ia kemudian meminta agar makanan yang telah didistribusikan ditarik kembali.

Namun, sebelum proses penarikan dapat dilakukan secara menyeluruh, sebagian makanan sudah dikonsumsi oleh siswa di SDN 013 dan SDN 015. Kondisi tersebut kemudian diikuti munculnya keluhan kesehatan pada puluhan siswa.

Makanan yang diproduksi SPPG Yayasan Mahudun Untuk Negeri di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Buluh Kasap, Kecamatan Dumai Timur, pada hari itu sedianya didistribusikan kepada 3.199 penerima manfaat.

Selain dua sekolah yang siswanya mengalami keluhan, paket makanan tersebut juga direncanakan untuk disalurkan ke sejumlah sekolah lain serta posyandu di wilayah tersebut.

Sejumlah Makanan Ditolak dan Ditarik


Dalam laporan kepolisian disebutkan, makanan untuk Yayasan Al-Huda sebanyak 107 porsi dan SLB Negeri Dumai sebanyak 133 porsi tidak diterima. Makanan tersebut disebut telah berbau atau basi.

Sementara itu, makanan yang sempat dikirim ke SDN 017 untuk 248 penerima manfaat langsung ditarik kembali. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul temuan mengenai kondisi makanan.

Adapun makanan untuk SMPN 23 sebanyak 479 porsi, SMPN 2 sebanyak 1.067 porsi, serta Posyandu Buluh Kasap sebanyak 338 porsi belum sempat disalurkan kepada penerima.

Polisi kini mengamankan sejumlah sampel sebagai bagian dari proses penyelidikan. Sampel tersebut berasal dari sisa makanan yang dikonsumsi siswa serta makanan yang berada di dapur SPPG.

Dinas Kesehatan Kota Dumai juga mengambil sampel makanan dan air dari dapur SPPG untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pengujian nantinya diharapkan dapat membantu mengungkap penyebab munculnya keluhan pada para siswa.

“Sat Reskrim Polres Dumai mengamankan barang bukti berupa sampel makanan untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujar Zaini.

Hingga kini, polisi masih menyelidiki dugaan keracunan tersebut untuk memastikan penyebab dan sumber masalah. Kondisi para siswa yang masih menjalani perawatan di RSUD dr Suhatman Kota Dumai juga terus dipantau.

Sementara itu, Kepala Pelayanan Pemenuhan Gizi Provinsi Riau, Widya, mengatakan pihaknya masih mendalami kejadian tersebut. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab munculnya gangguan kesehatan setelah makanan MBG dikonsumsi.

“Iya, masih diperdalam penyebabnya apa,” kata Widya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Berita DumaiKeracunanKeracunan MBGMakan Bergizi Gratis
Komentar