Diskes Kepulauan Meranti Catat Penderita Diare Cukup Tinggi
Kamis, 14 Mei 2015 12:55 WIB
MERANTI - Keterbatasan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga, menimbulkan banyak konsekuensi munculnya berbagai jenis penyakit. Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti mencatat tahun 2014 terdapat 4.355 kasus diare, sedangkan Mei 2015 tercatat 367 kasus serupa.
Kabid Pengawasan Masalah Kesehatan Lingkungan (PMKL), Ria Sari, mengatakan warga yang tinggal di kawasan gambut sudah terbiasa menggunakan air yang berwarna seperti teh. Dampaknya, kulit warga terkena iritasi dan gigi warga sekitar banyak yang keropos akibat tingginya asam yang terkandung dalam air itu.
"Terjadinya krisis air bersih akan memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat, karena serangan berbagai penyakit akan datang di antaranya diare dan penyakit kulit," ujarnya.
Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), terdapat 48.205 KK yang harus mendapatkan akses air bersih.
Secara tradisional, lanjut Ria, sebagian masyarakat Kabupaten Meranti telah memakai hujan sebagai sumber air bersih utama. Padahal, air hujan paling rendah kadar logam beratnya. Meskipun begitu, tetap saja air hujan harus diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
Ria mengingatkan, jika ada warga yang terkena diare maka orang tersebut diupayakan tidak jatuh ke dalam keadaan kekurangan cairan dan elektrolit. Kekurangan cairan dan elektrolit jika tidak terdeteksi dan tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan komplikasi yang lanjut, seperti gangguan fungsi ginjal sampai menyebabkan kematian.
Penyakit yang lain yang akan meningkat adalah penyakit kulit khususnya jamur kulit. Sebagai negara tropis, kasus infeksi jamur kulit di Indonesia memang tinggi. Apalagi dalam kondisi keterbatasan air bersih masyarakat akan mengalami gangguan dalam mencuci pakaian dan mandi.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir saat pelantikan Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) di Kecamatan Tebing Tinggi beberapa waktu lalu, berjanji akan menyelesaikan masalah ini di 2017 mendatang.
Solusi yang ditawarkan bupati adalah dengan membuat waduk untuk sumber mata air di wilayah sungai Perumbi. Selain itu, wilayah yang bisa terakses PDAM akan diperluas. Dengan cara ini, diharapkan krisis air bersih bisa teratasi.
Akan tetapi, di Kecamatan Rangsang Pesisir sama sekali tidak ada sumber mata air. Baik air sungai maupun air bawah tanah, sehingga Pemkab Meranti sangat kesulitan mencarikan solusinya.
Sumber air yang tersedia yakni hanya dari aliran Sungai Perumbi dan Tasik Nambus. Akan tetapi, untuk Tasik Nambus, bila air itu ingin mengaliri ke wilayah tersebut harus disedot dengan mesin pompa.
"Masalahnya, pengadaan untuk membeli mesin pompa itu sangat mahal. Harganya bisa ratusan juta. Belum lagi, harus ada bak penampungan untuk proses water treatment. Jadi, biaya mengatasi masalah krisis air bersih di desa ini sangatlah besar," ujarnya.
(adv/hum)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Sosial
Bupati Meranti Ajak Seluruh Masyarakat Dukung Program Pembangunan
-
Sosial
Bupati Meranti Klaim Sukses Turunkan Angka Kemiskinan Meski Anggaran Minin
-
Ekbis
Sekda Klaim Kemampuan Anggaran Pemda Kepulauan Meranti Memprihatinkan
-
Hukrim
Puluhan Pengunjukrasa Geruduk Kantor Bupati dan DPRD Meranti
-
Hukrim
Korupsi Dana Desa, Dua Oknum Kades di Kepulauan Meranti Menghilang
-
Sosial
Wabup Meranti Hadiri Peringatan Ke-71 Bhayangkara dan Sunatan Massal

