• Home
  • Lingkungan
  • BKSDA Riau Dinilai Kurang Tanggap Tangani Konflik Warga dan Satwa Liar

BKSDA Riau Dinilai Kurang Tanggap Tangani Konflik Warga dan Satwa Liar

Rabu, 11 Maret 2015 16:44 WIB
ROKAN HULU - Kepala Desa Menaming, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Firdaus Daulay, menilai Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau kurang tanggap dalam menangani konflik warganya dengan kawasan beruang madu yang jumlahnya masih sekitar 5 ekor lagi.

"Jangan setelah dibunuh warga, mereka baru ribut. Semua pun ditanya," tegas Firdaus, Rabu (11/3/15).

Menurut Firdaus, jika biasanya TNI masuk desa, namun kali ini justru beruang yang masuk ke desanya. Dirinya merasa khawatir, beruang madu jantan yang pasangan dibunuh balas dendam, karena biasanya hewan liar punya insting kuat.

"Karena biasanya hewan liar punya penciuman tajam. Saat salah satu pasangannya disakiti, biasanya hewan akan menyakiti," jelasnya.

Firdaus mengakui telah melaporkan soal kawanan beruang madu masuk ke desanya, baik ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rohul, BKSDA Riau, dan Polsek Rambah. Namun demikian, hingga saat ini, BKSDA Riau yang belum turun.

"Sejak kejadian itu, setiap malam warga was-was. Mau ke kebun pun tidak bebas, mau malam atau sore. Sekarang ngeri-ngeri juga. Warga sudah siaga, mereka sudah siapkan tombak. Jika sewaktu-waktu beruang madu masuk kampung, entah apalah jadinya," ujar Firdaus.

Sebelumnya, pada Kamis 28 Maret 2013 silam, warga Desa Menaming juga pernah dibuat geger. Pasalnya, seekor beruk masuk ke rumah warga dan membunuh seorang bayi di dalam ayunan.

Beruk pembunuh itu juga diburu warga satu kampung menggunakan senapan. Sebelum terbunuh, beruk ini sempat mengacak-ngacak seisi rumah dan membuka lemari es milik salah seorang warga di desa tersebut.

(zal/mad)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar