- Home
- Lingkungan
- HSNI Meranti Minta Pemerintah Usut Perusahaan Pembuang Limbah
HSNI Meranti Minta Pemerintah Usut Perusahaan Pembuang Limbah
Kamis, 06 Februari 2014 09:24 WIB
MERANTI - Ketua Dewan Perwakilan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kabupaten Kepulauan Meranti H Wan Amirudin minta pemerintah mengusut tuntas pihak yang telah memicu terjadinya pencemaran perairan Meranti.
"Kita minta persoalan ini agar ditelusuri, sampai ke Selat Malaka, dugaan tampat terjadinya pembuangan limbah tersebut. Pelaku tersebut harus diganjar dengan hukuman yang seberat-beratnya," ungkap Wan Amirudin, kepada wartawan, kemarin.
Menurutnya, tindakan tersebut sangat merugikan masyarakat Meranti dan juga bagi masadepan daerah itu sendiri. Amir mengungkapkan akibat tebaran limbah tersebut, tak kurang 480 jaring nelayan tidak bisa lagi di pakai.
"Seluruh jaring itu dibalut limbah, sama sekali tidak bisa lagi digunakan. Hal ini menjadi dampak buruk yang dialami nelayan, setelah sejak Sabtu lalu perairan Kepulauan Meranti itu tercemar parah," keluhnya menyikapi persoalan ini.
Untuk itulah, dia bersama nelayan lainnya berharap kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi agar menindaklanjuti persoalan pencemaran ini. Sehingga ada upaya kuat untuk mengetahui perusahaan atau kapal tanker mana yang telah membuang limbah di Selat Malaka.
Jamhur Pranata, warga nelayan yang mengalami nasib apes mengeluhkan kondisi laut yang mereka rasakan dan juga rusaknya peralatan tangkap ikan yang mereka miliki selama ini.
"Kami tidak bisa mengelak, saat kami mau bangkit jaring, tiba-tiba jarring telah terbalut oleh limbah minyak hitam tersebut. Ikan tidak dapat, jaringpun akan rusak. Tidak bisa lagi kita gunakan jaring ini, karena sudah dibalut minyak," katanya.***(fan/hkc)
"Kita minta persoalan ini agar ditelusuri, sampai ke Selat Malaka, dugaan tampat terjadinya pembuangan limbah tersebut. Pelaku tersebut harus diganjar dengan hukuman yang seberat-beratnya," ungkap Wan Amirudin, kepada wartawan, kemarin.
Menurutnya, tindakan tersebut sangat merugikan masyarakat Meranti dan juga bagi masadepan daerah itu sendiri. Amir mengungkapkan akibat tebaran limbah tersebut, tak kurang 480 jaring nelayan tidak bisa lagi di pakai.
"Seluruh jaring itu dibalut limbah, sama sekali tidak bisa lagi digunakan. Hal ini menjadi dampak buruk yang dialami nelayan, setelah sejak Sabtu lalu perairan Kepulauan Meranti itu tercemar parah," keluhnya menyikapi persoalan ini.
Untuk itulah, dia bersama nelayan lainnya berharap kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi agar menindaklanjuti persoalan pencemaran ini. Sehingga ada upaya kuat untuk mengetahui perusahaan atau kapal tanker mana yang telah membuang limbah di Selat Malaka.
Jamhur Pranata, warga nelayan yang mengalami nasib apes mengeluhkan kondisi laut yang mereka rasakan dan juga rusaknya peralatan tangkap ikan yang mereka miliki selama ini.
"Kami tidak bisa mengelak, saat kami mau bangkit jaring, tiba-tiba jarring telah terbalut oleh limbah minyak hitam tersebut. Ikan tidak dapat, jaringpun akan rusak. Tidak bisa lagi kita gunakan jaring ini, karena sudah dibalut minyak," katanya.***(fan/hkc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Ekbis
6 Pilihan Popok Sweety Sesuai Kebutuhan Si Kecil, Mana yang Cocok untuk Anak Anda?
-
Sosial
Hari Raya Waisak 2026 Jadi Bukti Kokohnya Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
-
Politik
Hewan Kurban Presiden di Dumai, Sapi Samson 950 Kilogram Jadi Kebanggaan Peternak Lokal
-
Sosial
Hari Kenaikan Yesus Kristus 2026, Menag Ajak Perkuat Harmoni dan Persatuan
-
Lingkungan
Bhabinkamtibmas Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pekarangan Rumah di Dumai Kota
-
Ekbis
Hari Buruh Internasional 2026, Prabowo Resmikan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

