- Home
- Lingkungan
- Kabupaten Kampar Telah Lakukan Transformasi Tanaman Kehidupan
Kabupaten Kampar Telah Lakukan Transformasi Tanaman Kehidupan
Minggu, 22 Februari 2015 15:45 WIB
KAMPAR - Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menyatakan dibutuhkan transformasi atau perubahan pola budidaya bagi tanaman kehidupan di daerah ini untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan penyebab bencana kabut asap.
"Selama ini masyarakat hanya terfokus pada tanaman seperti kelapa sawit. Bahkan karena yang seharusnya masih produktif, karena harganya terus merosot maka lahannya kemudian berganti tanaman sawit," kata Ketua LAMR Al Azhar kepada wartawan, Ahad (22/2/15).
Ia menjelaskan, maka diperlukan transformasi untuk tanaman kehidupan dimana masyarakat harus disadarkan bahwa tidak hanya sawit yang bisa memenuhi kebutuhan dan meningkatkan perekonomian.
Menurut dia, di Riau seharusnya tidak hanya dipenuhi oleh tanaman seragam, namun ada banyak jenis tanaman kehidupan yang dapat memenuhi segala kebutuhan perekonomian.
"Jika transformasi tanaman kehidupan telah dilaksanakan, maka secara bersamaan dan sejalan, masalah kebakaran hutan dan lahan akas dapat diminimalisasi," katanya.
Karena menurut Al Azhar, selama ini yang menjadi pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan adalah pembukaan baru lahan perkebunan kelapa sawit dan akasia.
"Sementara kalau masyarakat hanya membuka lahan untuk tanaman sayuran, tidak akan membutuhkan lahan yang luas dan mereka tidak perlu membakar," katanya.
Penerapan ragam tanaman kehidupan di Riau selama ini juga telah dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Kampar. Transpormasi itu dilaksanakan dengan mengedepankan program-program peningkatan perekonomian kerakyatan.
Salah satunya adalah pengembangan Desa Mandiri Pangan dan Energi. Program ini juga telah dijalankan di lahan percontohan di Pusat Pelatihan Petanian Pedesaan Swadaya Masyarakat (P4S) Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar.
Pemerintah Kabupaten Kampar pada tahun ini sedang fokus menjalankan program Desa Mandiri Pangan dan Energi (DMPE) sebagai upaya untuk mewujudkan "Tri Zero" atau membebaskan masyarakat dari kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh.
Kesiapan lahan percontohan untuk program tersebut dilaporkan telah mencapai 80 persen. Bupati Kampar Jefry Noer memberi tenggang waktu program itu telah tuntas pada 5 Maret 2015.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Holtikultura Kabupaten Kampar Hendri Dunan menjelaskan, bahwa untuk membangun kawasan mandiri pangan dan energi dapat dilakukan di atas lahan seluas 1.000 meter persegi.
Jika berhasil, maka masyarakat per keluarga akan dapat menghasilkan Rp6 juta per bulan. Jauh lebih besar dibandingkan perkebunan sawit yang dua hektare baru menghasilkan kurang dari Rp3 juta per bulan.
Menurut Ketua LAMR Al Azhar, penerapan program seperti yang dilakukan Pemkab Kampar adalah salah satu cara transformasi tanaman kehidupan bagi masyarakat. "Ini patut dilaksanakan juga di sejumlah wilayah kabupaten/kota lainnya di Riau," katanya.
(man/rtc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Lingkungan
Pertamina Drilling Tanam 1.000 Pohon Mangrove di Pesisir Jakarta Utara
-
Lingkungan
Sejarah dan Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023
-
Lingkungan
Minyak CPO Diduga Milik IPB Tumpah ke Laut Dumai
-
Lingkungan
Pelatihan Pengelolaan Pohon Menjadi Langkah Pekanbaru Wujudkan Kota Ramah Lingkungan
-
Hukrim
Kapolres Dumai Tindaklanjuti Aktivitas Illegal Logging Hutan Senepis
-
Lingkungan
Link Download Logo Twibbon Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2022

