• Home
  • Lingkungan
  • Ratusan Pelajar Indragiri Hulu Ikuti Sosialisasi Karhutla

Ratusan Pelajar Indragiri Hulu Ikuti Sosialisasi Karhutla

Kamis, 04 September 2014 09:50 WIB

RENGAT - Ratusan pelajar SMA sederajat serta kepala desa di Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, hadir pada kegiatan sosialisasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diselenggarakan "greenpeace" bekerjasama dengan Ekpresi Sahabat Alam (Eksa), Rabu (3/9) di Gedung Dewan Kesenian Indragiri Hulu. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari road show pemutaran film pendek Silent Heroes oleh Greenpeace pada tiga kota di Riau, yakni Rengat, Dumai dan Pekanbaru.

Hadir sebagai narasumber pada kegiatan tersebut Juru Kampanye Hutan Greenpeace Teguh, Kepala Daerah Operasi  Manggala Agni Rengat Sailendra, Kasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Dinas Kehutanan Inhu Sambodo serta perwakilan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Inhu Muda Taruna. Sosialisasi kebakaran hutan dan lahan ini dibuka Wakil Bupati Inhu H Harman Harmaini.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Teguh didampingi Media Asistant Deby Natalia mengungkapkan bahwa Silent Heroes terdiri dari empat film pendek yang bercerita tentang perjuangan masyarakat pada empat daerah di Indonesia untuk melestarikan lingkungan dan mencari keadilan dalam pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia.

Film pertama bercerita tentang perjuangan masyarakat di Pulau Bangka, Sulawesi Utara menyelamatkan eksosistem laut dan pesisir Pulau Bangka dari aktivitas pertambangan bijih besi yang dilakukan salah satu perusahaan didaerah tersebut. Cerita perjuangan masyarakat Pulau Bangka ini dikisahkan dalam film yang berjudul Save Bangka Island.

Film kedua berkisah tentang Komunitas Adat Sui Utik, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang menjaga kelestarian hutan dengan pengetahuan lokalnya, justru tidak menikmati listrik dari negara selama puluhan tahun. 

Padahal pemerintah terus-menerus membangun pembangkit tenaga listrik besar terpusat melalui sumber-sumber energi yang merusak hutan, salah satunya batu bara.

Meskipun demikian, warga Sui Utik tetap konsisten menjaga hutan adat dengan tidak menggadaikan warisan leluhurnya untuk mendapatkan penerangan. 

Sehingga Greenpeace Indonesia mendorong komunitas adat Sui Utik untuk memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan guna menerangi komunitas mereka melalui energi matahari atau solar panel.

Film ketiga berkisah tentang aktivis bernama Een Irawan Putera bersama dengan teman-temannya yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung Bogor (KPC Bogor) berjuang menggugah pemangku kebijakan dan masyarakat untuk melestarikan Sungai Ciliwung. 

Sejak 6 tahun yang lalu, KPC Bogor mengajak masyarakat memungut sampah di Sungai Ciliwung setiap minggu. Hasilnya, masyarakat berangsur-angsur mulai peduli dan terlibat dalam melestarikan Sungai Ciliwung.

Sedangka film keempat tentang perjuangan Ibu Rusmedi Lumban Gaol yang menjadi pelopor perempuan adat dalam mempertahankan Hutan Kemenyan di Komunitas Adat Pandumaan Sipituhuta, Sumatera Utara dari ancaman perambahan yang dilakukan perusahaan. 

Hutan Kemenyan telah menjadi sumber ekonomi warga adat Pandumaan Sipituhuta selama 13 generasi. “Rengat merupakan kota pertama dari tiga kota di Riau yang akan kami kunjungi pada road show pemutaran film pendek Silent Heroes ini,” ungkap Deby Natalia.

Selain pemutaran film pendek, Greenpeace dan Eksa juga melakukan kunjungan ke SMKN 1 Kuala Cenaku. Greenpeace berharap film pendek Silent Heroes mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat dan generasi muda untuk menjaga kelestarian lingkungan dan berharap Presiden mendatang seratus persen memperhatikan lingkungan.***(mcr-din)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar