Bank Indonesia Simulasi Dampak Kenaikan Harga BBM di Riau

    Kamis, 04 September 2014 09:48 WIB

    PEKANBARU - Pihak Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Riau membuat simulasi untuk memperkirakan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terhadap inflasi di Riau sebagai bentuk antisipasi dini dan pengawasan.

    "Kalau memang terjadi kenaikan BBM sampai Rp3.000 itu bisa menambah tingkat inflasi sebesar 2,28 persen, dan kalau tidak ada dampak psikologis maka inflasi hingga akhir tahun ada dikisaran tujuh persen," kata Kepala BI Perwakilan Riau, Mahdi Muhammad, pada diskusi ekonomi di Pekanbaru, Rabu (3/9).

    BI membuat simulasi dampak kenaikan harga BBM bersubsidi berdasarkan tiga opsi besarnya angka kenaikan. Opsi pertama, apabila BBM bersubsidi naik sebesar Rp1.000 per liternya, maka dampaknya terhadap inflasi akan bertambah 0,77 persen dibandingkan saat kondisi normal.

    Misalkan, apabila kenaikan terjadi pada bulan September, maka inflasi yang saat kondisi normal mencapai satu persen akan meningkat jadi 1,77 persen.

    Kenaikan harga sebesar Rp1.000 per liter tersebut akan menimbulkan dampak langsung sebesar 0,62 persen terhadap inflasi dari komponen bahan bakar. Sedangkan, dampak tak langsung mencapai 0,15 persen seperti dari kenaikan harga bahan pangan dan transportasi.

    Opsi kedua, apabila harga naik Rp2.000 per liter, maka dampaknya terhadap inflasi Riau akan mencapai 1,53 persen. Dampak langsungnya mencapai 1,24 persen dan dampak tak langsung sebesar 0,29 persen.

    Opsi ketiga atau yang kenaikan tertinggi sebesar Rp3.000 per liter, maka dampak totalnya terhadap inflasi Riau akan bertambah 2,28 persen. Dampak langsungnya mencapai 1,86 persen dan dampak tak langsungnya 0,42 persen.

    "Namun, simulasi ini belum memasukan faktor ekspektasi. Kalau terlalu lama dampaknya psikologisnya akan semakin panjang terasa," katanya.

    Mahdi menjelaskan, faktor ekspektasi berkaitan dengan psikologis masyarakat yang bisa muncul jelang kenaikan harga BBM, diantaranya seperti penimbunan BBM dan bahan pangan tertentu. 

    Menurut dia, cara menekan faktor ekspektasi adalah dengan mengambil kebijakan kenaikan harga disaat yang tepat dan jangan diputuskan terlalu lama yang akan menimbulkan ketidakpastian. "Ekspektasi ini berkaitan dengan kepastian waktu dan harga," ujarnya.

    Ia mengatakan pemerintah dalam mengeksekusi kenaikan harga BBM bersubsidi juga akan memperhitungkan tren inflasi. Tren lonjakan inflasi biasanya terjadi pertengahan tahun karena momen penerimaan murid sekolah, puasa Ramadhan dan Idul Fitri. ]

    Lonjakan juga biasanya terjadi lagi pada akhir tahun karena momen Natal dan tahun baru. "Kalau September-Oktober, itu sejarahnya kita deflasi," ujarnya.***(mcr-adi)
    IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
    Tags
    Komentar