- Home
- Lingkungan
- Warga Sungai Sembilan Hidup Dalam Kawasan Terisolir
Akses Jembatan Dinilai Tak Layak
Warga Sungai Sembilan Hidup Dalam Kawasan Terisolir
Kamis, 11 Desember 2014 17:18 WIB
DUMAI : Warga di Kecamatan Sungai Sembilan masih hidup dalam kawasan yang terisolir. Meski di sebagian kawasan ini terdapat puluhan industri besar, namun belum bebas dari jembatan kayu.
Dari 27 sungai yang melintasi Kecamatan Sungai Sembilan baru beberapa jembatan yang dinilai layak dilewati. Belasan jembatan lainnya dalam kondisi darurat, dan tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat.
Di antara bentaran jembatan darurat tersebut, terdapat di antara Jalan PU Lama hingga daerah Basilam Baru. Sedikitnya ada 5 jembatan darurat sebagai penghubung pemukiman warga. Lima jembatan tersebut berada di atas sungai yang lebarnya mencapai 15 meter ke atas.
Sementara dari daerah Bulu Hala hingga Sungai Sepit juga dilintasi banyak sungai. Di kawasan itu terdapat banyak jembatan kayu yang digunakan warga sebagai penyambung akses dari kampung ke kampung.
Selain itu, ada lagi sebanyak 5 jembatan kayu dalam kondisi memprihatinkan yang berada antara daerah Parit Kitang sampai Jalan Sukajadi. Jembatan tersebut berada di daerah Rimbun Jaya, Parit Kitang, Suka Bumi dan sekitarnya. Namun, jembatan-jembatan itu tidak terlalu panjang, karena berada di atas anak sungai selebar 5-6 meter.
Dari belasan jembatan darurat di Sungai Sembilan, yang paling parah adalah Jembatan Bulu Hala. Jembatan ini juga menjadi urat nadi bagi daerah Basilam Baru dan Batu Teritip.
Jembatan darurat tersebut memiliki panjang hingga 105 meter dengan lebar 4 meter. Beberapa bulan terakhir, lantai jembatan sudah banyak keropos. Sehingga, tidak bisa dilintasi kendaraan roda empat.
Jembatan itu sebenarnya menghubungkan daerah Geniot, Bulu Hala, Tanjung dan Sungai Sepit menuju pusat Kota Dumai. Dari keterangan masyarakat setempat, akibat tidak layaknya jembatan itu warga terpaksa mengangkut komoditas perkebunan dan pertanian menggunakan jalur air.
Namun akibatnya warga harus menanggung biaya angkut yang lebih mahal. Pasalnya, dari beberapa daerah di Basilam Baru dan Batu Teritip mengumpulkan komoditas perkebunan dan pertanian di suatu tempat.
Kemudian diangkut menggunakan pompong menuju Sungai Mesjid. Dari Sungai Mesjid, komoditas tersebut sudah bisa dilansir menggunakan mobil hingga ke pusat Kota Dumai.
Komoditas yang harus diangkut misalnya Kepala Sawit, Padi, Jeruk, Pinang dan Pisang. Termasuk hasil home industri skala besar seperti kripik keladi ungu. Apalagi, hasil industri rumah tangga kripik keladi ungu itu sebagian besar diekspor ke Malaysia.
"Kondisi ini sudah lama kami alami. Jika jembatan Bulu Hala bagus, mungkin dapat lebih memudahkan kami untuk mengangkut barang dagangan ke kota," ujar warga sekitar, Wilma, Kamis (11/12/14).
Menurut dia, sudah puluhan tahun jembatan kayu tersebut belum ada perbaikan dari pemerintah. Sehingga, warga dengan swadaya selalu merawat jembatan itu. Jika ada lantai yang patah, warga bersama-sama memperbaiki. Namun, kondisi perbaikan tidak seimbang dengan keroposnya pekayuan jembatan itu.
"Kalau ada perlu kami kadang terpaksa melalui jalur air. Karena takut lewat di atas jembatan. Apalagi, sering orang jatuh di jembatan itu. Malah pernah sampai ada yang jatuh hingga ke sungai," katanya.
Sementara itu, Camat Sungai Sembilan, Zulkarnaen, S.Sos mengatakan jembatan Bulu Hala memang agak lambat pembangunannya. Karena ada kendala pembangunan sejak awak.
Menueurnya, awalnya kendala hal itu disebabkan karena lokasi yang memang masuk ke hutan. Sementara masyarakat banyak bermukim di daerah itu yang sangat membutuhkan akses jalan darat.
"Kami sudah membuat surat terkait kondisi jembatan itu, bahkan sekalian melampirkan foto-fotonya. Harapan kita, di APBD 2015 nanti, jembatan sudah dianggarkan. Sama dengan jembatan Suka Damai, yang mulai dikerjakan," kata Zulkarnain yang didampingi oleh Sekretaris Kecamatan Ibasri.
Ketika ditanya mengenai rencana pemerintah dan anggaran yang diusulkan, Zulkarnain mengaku tidak tahu. Sebab, hal-hal teknis diatur oleh Dinas PU Dumai. Namun, Kepala Dinas PU Dumai Jhoni Amdani belum bisa dikonfirmasi.
Sedangkan ketua Komisi II DPRD Dumai sekaligus anggota DPRD Dumai Dapil Sungai Sembilan, Ponimin, tidak menampik kondisi jembatan itu. Apalagi, sebagai warga Sungai Sembilan ia mengenal betul kondisi darurat jembatan tersebut.
"Sekarang kita kan belum bisa cek anggaran, karena masih ditangan pemerintah. Tapi kita akan tetap memperjuangkan pembangunan jembatan ini, supaya ada pemerataan pembangunan," kata Ponimin.
(adi/adi)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Lingkungan
Pertamina Drilling Tanam 1.000 Pohon Mangrove di Pesisir Jakarta Utara
-
Lingkungan
Sejarah dan Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023
-
Lingkungan
Minyak CPO Diduga Milik IPB Tumpah ke Laut Dumai
-
Lingkungan
Pelatihan Pengelolaan Pohon Menjadi Langkah Pekanbaru Wujudkan Kota Ramah Lingkungan
-
Hukrim
Kapolres Dumai Tindaklanjuti Aktivitas Illegal Logging Hutan Senepis
-
Lingkungan
Link Download Logo Twibbon Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2022

