Bupati Meranti: Kulit Sagu Mampu Ciptakan Jalan Kualitas Bagus
Rabu, 14 Januari 2015 17:50 WIB
MERANTI : Uyung atau kulit sagu yang selama ini dianggap tidak bermanfaat dan dibuang begitu saja oleh pihak perusahaan industry sagu di wilayah Kepulauan Meranti, ternyata memeiliki nilai ekominosmis.
Uyung bisa digunakan untuk meninggikan tanah. Uyung sagu tersebut juga sangat bagus dijadikan lapisan atau pondasi untuk pembangunan infrastruktur jalan. Demikian diungkapkan Bupati Kepulauan Meranti Drs H.Irwan Msi kepada sejumlah wartawan baru-baru ini.
"Selama ini pembangunan pengerasan atau penimbunan jalan- selalu dilapis dengan terpal atau kayu-kayu kondroi, namun selalu saja terbenam karena lahan di wilayah Kepulauan meranti memilik ketebalan gambutnya juga sangat sangat tebal," katanya.
Lanjut Bupati, uyung sagu memiliki ketahanana yang luar biasa jika berada di tanah, dan tidak mau terbenam, serta beberapa pembangunan jalan yang di lapis dengan kulit sagu atau uyung tersebut, kualitasnya sangat bagus dan tidak mau terbenam sehingga jalan yang dibangun dengan mengunakan lapisan uyung tersebut kualitasnya cukup memuaskan.
"Kedepannya Pemkab Meranti akan kembali melanjutkan pengerjaan jalan poros dari Mekar Delima mengarah ke Desa Tanjung Padang kecamatan Tasik Putripuyu. Pengerjaan jalan poros oleh rekanan dari PT Andam Dewi Lestari sepanjang 3 kilometer tersebut saat ini sudah dikerjakan lebih kurang 250 meter. Termasuk jalan poros Melai, Lukun –Sungai Tohor,dan jalan Pramuka Selatpanjang," katanya.
Sedangkan mengenai teknis pengerjaannya, kata dia, sama dengan jalan poros Selat Akar (Bernas, red) ke desa Tanjung Pisang. Dimana, pondasi/alasnya dilapisi dengan uyung sagu yang dialas terpal, dan ditimbun sirtu (Pasir Batu). Ternyata hasil nya sangat memuaskan ,dimana setelah di lapisi dengan uyung tersebut,pondasi jalan semakin padat dan kokoh.
"Saya sudah mengundang pabrik pengolah uyung sagu. Tak tanggung-tanggung kulit sagu atau yang sering disebut dengan uyung itu kini telah diproduksi lagi menjadi pelet atau arang briket mampu menjadi salah satu potensi yang hanya satu-satunya diproduksi di Indonesia," ujarnya.
Adalah PT SaraRasa Biomass selaku pihak investor yang melirik uyung yang berada di Kepulauan Meranti sejak tahun 2012 lalu. Melihat uyung hanya menjadi sampah bagi perusahaan pengolahan sagu, baik berskala besar, maupun perusahaan pengolahan milik masyarakat tempatan.
Perusahaan tersebut mengambil tempat di Dusun Tanah Kuning, Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat atau tepatnya di bekas lokasi PT Uniseraya. Peluang itu diambil oleh pihak perusahaan asal Finlandia yang menyatakan niat ingin mengelola kulit sagu menjadi pelet pada tahun tahun 2011 lalu.
Semuat itu merupakan potensi tersendiri bagi daerah-daerah penghasil sagu, selain mendapatkan hasil dari pati sagu itu sendiri limbahnya juga dapat menjadi komoditi yang juga bernilai dan bisa menghasilkan uang ,jika diolah dan dikemas sedemikian rupa.
"Uyung juga bisa diolah menjadi barang penghasil energi, yang menjadi sumber bahan bakar yang dikemas dalam bentuk arang briket. Peluang inilah yang sedang dilirik oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Berbagai peluang tersebut coba direbut dan dimenet sedemikian rupa oleh pemkab untuk mengembangkan potensi daerah yang merupakan penghasil sagu terbesar di Indonesia.
"Untuk uyung sendiri, petani sagu di Kepulauan Meranti bisa menjualnya dengan harga Rp75 ribu per kilogramnya kepada PT SaraRasa, perusahaan yang memproduksi bahan bakar jenis arang briket," katanya.
(fan/fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Pendidikan
5 Tips Bijak Bermedia Sosial Ala Remaja Terbaru 2024
-
Hiburan
Via Vallen Teriak Histeris Dengar Suara Rintihan Saat Live IG
-
Sosial
Mensos Bersama Gubernur Riau Kunjungi Balai Abiseka Pekanbaru
-
Sosial
Menteri Sosial Minta Bank Buka Blokir Kartu Bansos di Riau
-
Lingkungan
Upaya Pemerintah Dalam Pelaksanaan Perhutanan Sosial Riau
-
Ekbis
Gubernur Riau Promosikan Produk UMKM Masyarakat Lewat Medsos Pribadinya

