Kabupaten Kampar Ganti Swasembada Padi Jadi Cabai dan Bawang
Selasa, 23 Desember 2014 19:09 WIB
KAMPAR : Kabupaten Kampar dalam menerapkan swasembada beras sejauh ini masih sulit untuk dikembangkan seperti halnya daerah Provinsi tenatngga Sumbar yangs sudah terkenal terlebih dahulu.
Oleh karena itu, petani padi di kampar hanya menanam padi sekedar pertanian kebiasaan turun temurun bukan untuk kesuksesan dalam bertani.
Hal tersebut disampaikan Bupati Kampar H Jefry Noer, dalam sambutannya saat membuka acara Pembukaan Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupetan Kampar 2014 di Hotel Tiga Dara Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar Selasa (23/12/14)
Jefry menjelaskan bahwa kedepan untuk menjadikan Kampar bisa swsembada dalam bentuk apapun, maka dari sekarang kita mesti dulu apa yang meyakinkan bisa kita swasambada dengan hasil yang bisa dengan cepat membantu peningkatan ekonomi masyarakat.
Hal tersebut bisa kita lihat dari kebutuhan swasembada Provinsi Riau Kampar khususnya disetiap tahun, seperti kebutuhan khusus bawang dan cabe 95% masih membutuhkan impor dari daerah lain begitu juga dalam imfor sai korban pada tahun 2010 saja mencaai 27.000 ekor sapi.
"Nah dengan demikian, program yang utama kita buat adalah program bagaimana keutuhan mayarakat sendiri dulu bisa mencukui kebutannya, baik kebutuhan cabe, bawang, sayur mayur, ikan atau daging. Karena apabila kita sudah bisa penuhi kebutuhan kita sendiri disetia desa untuk swasembada keluar pasti akan mudah,"ujarnya.
Diungkapkannya makanya Pemda Kampar terus melaksanakan pelatihan P4S setiap dua kali seminggunya, agar para masyarakat kampar bisa bertani dengan petani propesional buka petani keturunan saja.
Untuk itu pertanian yang sudah bisa menjadi contoh dikampar yang bisa menjadi contoh bisa petani jadi manager di kampar adalah perkebunan Cabe dan Bawang..
"Karena kebun cabe dan bawang sudah barang pasti bisa meningkatkan ekonomi dengan pemasaran tetap ada sebelum kita swasembadanya, serta juga akan bisa secara langsung melengkapi kebutuhan sehari-hari," jelasnya.
Kemudian swasembada cabe dan bawang sebenarnya mudah sekali bisa saja kita melaksanakan tanam cabe satu desa cukup dua keompok, maka itu sudah bisa sawsembada untuk desa sendiri, atau setiap rumah mesti menanam cabe 50 batang saja dangan memberikan bantuan bibit,"jelasnya.
Dengan demikian enam bulan kedeannya masyarakat tidak akan membeli cabe dan bawang lagi, karena minimal setiap rumah sudah menghasilkan cabe 50 kg per enam bulannya dengan harga cabe yang selalu teratas.
Jefry juga berharap kepada dinas terkait mesti juga paham untuk membantu masyarakat, baik dalam segi pemberian bibit dan benih sampai ke pengolahan Jalan-jalan tani serta saluran air yang memadai yang bisa mendukung usaha masyarakat.
Dimana Pemerintah bertanggung jawab dalam penyelenggaraan peraturan, pembinaan, pengendalian dan pengawasan terhadap ketersedian pangan, maka disetiap daerah dipriritaskan pembangunan ketahan pangan yang pencapaiannya diposisikan sebagai pondasi bagi pembangunan sektor-sektor lainnya.
"Kita tau bahwa seluruh program yang kita lakukan mesti bermuara pada tri zero, dan ketahan pangan ini juga merupakan wujudan percepatan lima pilar pembangunan dan tri zero diakhir tahun 2015 natinya," katanya.
Selain itu, peran Pemerintah juga mesti memiliki tanggung jawab dalam penyelenggaraan peraturan, pembinaan, pengendalian dan pengawasan terhadap ketersedian pangan sangat perlu, untuk itu disetiap daerah dipriritaskan pembangunan ketahan pangan yang pencapaiannya diposisikan sebagai pondasi bagi pembangunan sektor-sektor lainnya.
(man/man)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Pendidikan
5 Tips Bijak Bermedia Sosial Ala Remaja Terbaru 2024
-
Hiburan
Via Vallen Teriak Histeris Dengar Suara Rintihan Saat Live IG
-
Sosial
Mensos Bersama Gubernur Riau Kunjungi Balai Abiseka Pekanbaru
-
Sosial
Menteri Sosial Minta Bank Buka Blokir Kartu Bansos di Riau
-
Lingkungan
Upaya Pemerintah Dalam Pelaksanaan Perhutanan Sosial Riau
-
Ekbis
Gubernur Riau Promosikan Produk UMKM Masyarakat Lewat Medsos Pribadinya

