• Home
  • Sosial
  • Kebutuhan Premium Tinggi Memicu Kelangkaan di Meranti

Kebutuhan Premium Tinggi Memicu Kelangkaan di Meranti

Jumat, 07 November 2014 08:44 WIB
Terlihat sejumlah pengendara roda dua di Kabupaten Meranti sedang antri pembelian premium eceran
SELATPANJANG : Kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium bersubsidi di Selatpanjang sangatlah tinggi. Hal ini pula yang sering membuat premium bersubsidi ini menjadi langka atau dijual mahal di Kota Sagu.

Seperti yang terjadi beberapa hari belakangan. Banyak tempat yang biasanya jual premium bersubsidi tidak lagi menjual. Terlihat kios-kios itu tutup.

"Tanggal 5 baru minyak masuk," kata beberapa warga yang mengetahui jadwal masuknya premium bersubsidi di Ibukota Kabupaten termuda se Riau ini.

Benar saja, sejak tanggal 2 November 2014, memang tidak banyak terlihat yang menjual premium bersubsidi. Kalaupun ada, warga harus antre atau mendapatkan dengan harga yang sangat mahal.

Di Alah Air misalnya, Rabu(5/11) malam, penulis melintasi jalan yang sehari-hari dilalui jika hendak ke kota. Dengan waktu yang bersamaan, ketika melintasi kios yang ada jual bensin, tiba-tiba kendaraan roda dua itu mati, karena kehabisan bahan bakar.

"Berapa (harga, red) minyaknya kak," tanya penulis dengan logat kampung. "Rp15 ribu," jawab perempuan penjaga kios dengan singkat.

Terlihat bensin yang dimasukkan dalam botol air mineral 1500ml itu tidak penuh. Itu menandakan bahwa harga bensin lebih dari Rp10 ribu perliter.

Beda dengan yang dialami penulis, beberapa teman yang berada di Selatpanjang menyampaikan hal lain. Mereka mengaku membeli premium bersubsidi yang harga resminya Rp6500 perliter itu, dengan harga Rp20 ribu perbotol air mineral ukuran 1500ml.

"Kami beli Rp20 ribu perbotol," kata beberapa teman yang ditemui di Selatpanjang.

Hingga, Kamis (6/11/14) kemarin, premium bersubsidi belum terlihat dijual. Siang harinya, barulah ada kios yang menjual premium bersubsidi dengan harga normal Rp8 ribu perliter.

Namun, kenyamanan belum juga didapatkan konsumen meski sudah tersedianya premium. Warga yang hendak membeli premium harus rela antre. Terlihat antre itu hingga sore menjelang malam.

Sebenarnya, kondisi ini merupakan rutinitas di Selatpanjang. Namun, belum ada kebijakan khusus yang berhasil merubah fenomena ini. Harga mahal dan antre sepertinya tidak masalah lagi oleh warga, karena yang mereka inginkan adalah ketersediaan premium jenis bersubsidi ini.

Sedangkan SPBU yang ada tak kunjung beroperasi, meski pihak DisperindagkopUKM Meranti beberapa bulan terakhir mengeluarkan pernyataan bahwa SPBU itu akan segera beroperasi. Namun, kenyataannya sampai saat ini tidak ada tanda-tanda SPBU yang terletak di Jalan Imam Bonjol itu beroperasi. 

(riky/red)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Sosial
Komentar