RSUD AA Telantarkan Pasien, Legislator Malah Salahkan Bupati Bengkalis
Senin, 02 Maret 2015 19:48 WIB
PEKANBARU - Rasa sakit yang tak tertahankan di sekujur tubuh Jelita (44) akibat luka bakar yang parah dan organ tubuh yang lumpuh, imbas peristiwa kebakaran pada tahun 2007 silam, tidak digubris Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Ahmad Pekanbaru.
Harapan Junihar Silaban (44), suami Jelita, untuk menyembuhkan sang istri juga nyaris kandas. RSUD Arifin Ahmad dinilai pemberi harapan palsu. Junihar hanya dijanjikan operasi amputasi oleh pihak Rumah sakit namun belum terealisasi.
"Saya membawa istri ke RSUD Arifin Ahmad ini sejak pada Minggu (22/2) lalu. Selama di sini, kami tidur di lantai, dikasih obat semacam anti denyut gitu, tapi tidak diinfus," ujar Junihar warga desa Simpang Intan kecamatan Pinggir kabupaten Bengkalis, Riau, Minggu (1/3).
Menanggapi hal itu, anggota Komisi E, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Riau menilai, kasus ini tamparan bagi pemerintah daerah Bengkalis yang dipimpin Bupati Herlyan Saleh.
"Ini tamparan bagi pemerintah daerah propinsi, khususnya yang menangani bidang kesehatan. Jangan sibuk mengurusi BPJS saja, tetapi hal kecil berupa pelayanan rumah sakit diabaikan," ujar Ade Agus Hartanto, anggota Komisi E DPRD propinsi Riau.
Menurutnya, kasus ini seharusnya menjadi atensi semua pihak, khususnya bagi dinas sosial setempat. Ini mengingat pasien adalah dari kalangan menengah ke bawah, yang sama sekali tidak memiliki keluarga untuk menetap sementara di Pekanbaru.
Jelita dan suaminya Junihar Silaban terpaksa tidur di lantai ruang pendaftaran beralaskan tikar plastik yang sangat tipis, karena diberi harapan oleh sang dokter rumah sakit pelat merah tersebut untuk menunggu konfirmasi operasi amputasi.
"Harus ada tindakan, Dinas Sosial mestinya memberi rumah singgah sementara jika pasien itu tak memiliki keluarga. Itu kan bisa dikoordinasikan antara rumah sakit dan Dinsos," kata politisi partai Gerindra ini.
Ade juga menyalahkan pemerintah daerah yang tidak sigap menelusuri permasalahan sosial seperti yang dialami Jelita. Pihak RSUD Arifin Ahmad juga seharusnya memberikan pelayanan yang baik, tanpa memilih dari mana mereka berasal. Bahkan, luka di tangan Jelita yang membusuk dianggap mengganggu aktivitas oleh pihak rumah sakit.
"Ini salah satu contoh kasus pelayanan rumah sakit. RSUD punya standar perawatan. Mungkin RSUD berpikir pasien tak perlu dirawat inap makanya diminta untuk menunggu jadwal operasi. Nah posisinya si pasien tak punya sanak saudara di sini, harusnya jangan dilepas begitu saja, koordinasikan dengan dinas terkait," kata dia.
Kasus Jelita barangkali contoh kecil kasus dari sekian banyak pasien yang mungkin yang mengalami hal serupa. Sebab itu, katanya lagi, pemerintah harus segera memikirkan solusi bagi rakyatnya kalangan menengah ke bawah.
"Dan mirisnya, kasus ini terjadi pada negeri yang dikenal kaya raya akan sumber daya alamnya," pungkas Agus.
Sedikit yang perlu diketahui, sebelumnya Bupati Bengkalis Herlyan Saleh sempat diperiksa penyidik Kejaksaan Negeri Bengkalis. Pasalnya, Herlyan diduga memiliki rekening gendut, sebagaimana hasil temuan Kejaksaan Agung (Kejagung).
(mdk/mdk)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Pendidikan
5 Tips Bijak Bermedia Sosial Ala Remaja Terbaru 2024
-
Hiburan
Via Vallen Teriak Histeris Dengar Suara Rintihan Saat Live IG
-
Sosial
Mensos Bersama Gubernur Riau Kunjungi Balai Abiseka Pekanbaru
-
Sosial
Menteri Sosial Minta Bank Buka Blokir Kartu Bansos di Riau
-
Lingkungan
Upaya Pemerintah Dalam Pelaksanaan Perhutanan Sosial Riau
-
Ekbis
Gubernur Riau Promosikan Produk UMKM Masyarakat Lewat Medsos Pribadinya

