- Home
- Advertorial
- Kualitas Sagu Meranti Terbaik di Indonesia, Pemprov Sulsel Belajar ke Meranti
Kualitas Sagu Meranti Terbaik di Indonesia, Pemprov Sulsel Belajar ke Meranti
Selasa, 28 April 2015 18:14 WIB
MERANTI - Langkah demi langkah Kabupaten kepulaun Mernti terus meglami Kemajuan yang sngat signifikan dari berbagai hal mulai dari pembangunan infrastruktur, ekonomi, Pertanian pelayanan public sampai pada sector Perkebunan mengalami kemajuan yang ,luar biasa dan tentunya menjadi kebanggaan semua pihak.
salah satunya perkebunan Sagu di kepulun Meranti yang mengalami perkembangan dan kemjuan yang sangat Luar biasa.bahkan kuliatas sagu yng dihasilkan dari perkebunan sagu di kepulauan Mernti memiliki kualitas terbaik untuk di Indonesia.
Perkembngan dan bagusnya kualitas perkebunan sagu di kabupaten kepulaun Meranti itu terbukti dan di akui oleh beberapa Provinsi lainnya di Indonesia. Hal itu juga dibuktikn dengan kedatangan Rombongan Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) sebanyak 15 orang pada sepekan lalu kemeranti untuk belajar dan melihan langsung Proses pengelolan dan pembibitan serta budidaya sagu di kabupaten kepulauan meranti.
Sebanya 15 orang rombbongan Pemerintah Pemprov Sulsel yang datang Kekabupaten kepulaun meranti,untuk belajar megelola dan budidaya sagu tersebut, terdiri dari Dinas Pekebunan (Disbun) b petani dan penakar dari empat Kabupaten/Kota di Provinsi Sulsel diantaranya Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur dan Kota Palopo.
Setelah belajar bagaimana membudidayakan sagu, nantinya mereka ingin memaksimalkan komoditi sagu yang ada di Sulsel.dengn serius, sehingga diharapkan ilmu dan Pengalamanan yang mereka dapatkan selama di Kepulauan Mernti dpat di kembangkan di beberapa wilayah di provinsi Sulsel itu nantinya.sehingga melalui komiditi sagu yang ada disana bisa mendorong dan peningkat Pendapatan dan Kesejahteraan msyrakat disana
Oleh Karea itu mereka segaja datang dari jauh-jauh Ke kabupaten kepulauan Meranti,untuk belajar.Mereka ingin belajar bagaimana membudidayakan sagu dan pengolahannya. Sehingga nantinya komoditas sagu bisa membantu meningkatkan ekonomi masyarakat seperti halnya di Kepulauan Meranti.
Komiditi sagu ternyata mampu menggangkat Kehidupan msyarakat dari keterupurukn ekonomi dana di kbupaten kepulauan Meranti bisa dikatakan seratus persen masyarakat pengelola atau pemilik Kebun sagu hidup mereka sejahtera.
Ketua Romobongan Pemprov Sulsel, M Syarir yang juga merupakan Kepala Seksi (Kasi) Pembenihan Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan Pemprov Sulsel mengaku bahwa dari informasi yang mereka dapat bahwa sagu di Meranti dibangun secara budidaya.
Makanya mereka ingin melihat dari dekat dan sekaligus ingin belajar bagaimana caranya membudidayakan sagu- denggan ilmu dan pengaalman yang di dapatkan selama merek berada di Meranti akan di manfaatkan dn dikembangkan di wilayah Provinsi Sulsel. Nantinya.
Pemilihan Meranti sendri karena di Meranti dikabarkan menjadi daerah yang terbaik dalam membudidayakan sagu. Apalagi Kepulauan Meranti sudah mengeluarkan varietas sagu dan sudah memiliki serifikasi bibit sagu.
Budidaya yang dilakukan dengan baik nantinya bisa menjadikan sagu di Sulsel berkembang biak dengan baik dan maksimal. Sebab di Sulsel, sagu masih berupa hutan, bukan budidaya seperti halnya di Kepulauan Meranti."katanya saat memberikan penjelasan kepada sejumlah wartawan baru-baru ini.
Walaupun saat ini komoditas sagu di Sulsel belum menjadi unggulan, namun Disbun Pemprov Sulsel berencana menjadikan sagu menjadi komoditas perkebunan unggulan. Apalagi saat ini Pemerintah Pusat sedang menggalakkan dan mencari alternatif pangan. Dan sagu salah satu alternatif pangan itu."Makanya kita mau menjadikan sagu sebagai komoditas unggulan," ujar M Syarir.
Dengan pengembangan sagu tersebut nantinya diharapkan akan sejalan dengan peningkatan ekonomi masyarakat di Sulsel. "Sagu berpotensi untuk dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat nantinya, sebgai mana di kabupaten kepulauan Meranti saat ini," Sebutnya.
Di Sulsel, batang sagu tidak dirawat layaknya sebuah tanaman perkebunan. Parahnya lagi karena tidak dirawat sepertiga batang sagu yang sudah terlalu tua berubah menjadi kayu, sehingga tidak bisa diolah lagi.
"Kalau ditempat kami, sagu seperti hutan dan tidak dirawat. Bahkan bagian bawah batang sagu yang sudah tua tidak bisa diolah lagi karena berubah menjadi kayu," ceritanya.
Diceritakannya di Sulsel, Industri hilir sudah sangat berkembang dan sangat maju. Bahkan sejumlah menu yang berbahan dasar sagu sudah menjadi hidangan high class. Namun industri hulu dari sagu masih sangat lemah. Hal itu terbukti belum ada satupun kilang atau pabrik untuk mengolah tanaman sagu. Masyarakat disana masih mengolah batang sagu secara manual.
Sementara di Kepulauan Meranti M Syarir melihat industri hilir masih dijual di kaki lima. Hal itu menjadi keheranannya. Selain itu menu sagu menjadi makanan sehari-hari oleh masyarakat di Sulsel layaknya makanan pokok. Sedangkan di Meranti sagu tidak dikonsumsi setiap hari dan masih menjadi makanan sampingan.
"Harga dan penyajian berbagai jenis makanan berbahan sagu di Sulsel sudah high class dan sudah disajikan di restoran khusus. Harganya pun paling murah Rp 25 ribu per porsi makanan," katanya.
Lebih jauh M Syarir menjelaskan satu batang sagu di Sulsel hanya bernilai Rp 100 ribu. Jika dibandingkan di Kepulauan Meranti, sagu sudah lebih ekonomis. Untuk satu tual sagu saja sudah mencapai Rp 40 ribu. Sedangkan satu batang sagu terdiri dari sebanyak minimal 10 tual sagu. Artinya satu batang sagu di Kepulauan Meranti sudah dihargai sebesar Rp 400 ribu.
Makanya dengan melakukan study banding ke Meranti, nantinya budidaya sagu bisa dilakukan lebih baik dan maksimal seperti di Kepulauan Meranti. Di Kepulauan Meranti sendiri rombongan Pemprov Sulsel dibawa melihat pembibitan unggul yang dibangun oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kepulauan Meranti. Selain itu rombongan Sulsel tersebut juga dibawa ke kilang sagu milik masyarakat. Termasuk juga dibawa melihat pengolahan sagu sehingga menjadi tepung.
Untuk diketahui kunjungan Pemprov Sulsel bersama penakar dari empat Kabupaten/Kota di Sulsel berada di Kepulauan Meranti untuk melakukan study selama tiga hari mulai dari senin (20/4) sampai dengan rabu (22/4).
Ditambahkan Mantan Kepala Dinas Perkebunan (Dishutbun) Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Bahrun Abidin yang juga turut datang ke Meranti bersama rombongan, usai melihat langsung operasional Kilang Sagu di Meranti, mengaku kagum dan berharap bisa diterapkan di daerahnya sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan potensi daerah.
"Terus terang di Sulsel baru mulai, karena selama ini masih alami bukan budidaya. Informasi yang kami tau Meranti adalah daerah yang sudah mengolah secara profesional. Memang ternyata kami sudah tertinggal," ujarnya.
Bangun Kebun Induk
Setelah verietas sagu Kepulauan Meranti dilepaskan oleh Pemerintah Pusat, maka Pemkab Meranti terus menapak ke langkah selanjutnya dengan membangun kebun induk. Bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Palma (Balitpalma) Manado beberapa waktu lalu, kini dibangun kebun induk seluar 3 hektar di Desa Tanjung Kecamatan Tebingtinggi Barat. Luasan kebun induk tersebut secara bertahap akan ditambah sehingga nantinya mampu mencukupi kebutuhan bibit unggul yang dibutuhkan oleh masyarakat di Meranti.

"Program pembangunan kebun induk untuk varietas unggul sagu ini sudah kita mulai sejak 2014 lalu. Tahun lalu sudah kita bangun 3 hektar dan tahun ini akan kita tambah lagi seluas 3 hektar tenjadi total 6 hektar," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kepulauan Meranti, Ir Mamun Murod MM MH.
Dijelaskannya, dari kebun induk ini nantinya akan dikeluarkan bibit unggul dalam tiga bentuk, yakni dalam bentuk biji, abut (anakan sagu) dan penggunaan polybag. Bibit-bibit inilah nantinya akan disebarkan untuk masyarakat petani sagu di Kepulauan Meranti untuk meningkatkan hasil produksi pati sagu.
"Pemkab sangat komit. Sejak 2014 sudah digelontorkan sebanyak Rp 24 miliar untuk pengembangan tanaman komoditas Meranti ini," ungkapnya.
Luas perkebunan sagu di Kepulauan Meranti sendiri saat ini sudah mencapai 60 ribu hektar, terdiri dari perkebunan milik rakyat dan juga perusahaan yakni PT Nationasl Sago Prima (NSP) yang beroperasi di Kecamatan Tebingtinggi Timur.
Kebun induk tersebut kata Murod akan terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan perkebunan sagu. Bukan hanya didalam wilayah Kepulauan Meranti saja, tapi juga untuk memenuhi permintaan dari luar wilayah Kepulauan Meranti.
"Bibit-bibit unggul di kebun induk tesebut memiliki sertifikasi," ujarnya.
Menurut MUrod untuk menghasilkan tanaman sagu yang baik juga harus mendapatkan perlakuan khusus dengan perawatan yang intensif. Mulai dari menjaga rumpun sagu, sampai dengan memberikan pupuk dan membersihkan tanaman sagu tersebut. Namun perawatan tanaman sagu tidak sesulit merawat tanaman perkebunan lainnya seperti sawit dan karet.
Dijelaskannya bahwa sagu memiliki anak yang banyak layaknya seperti pohon pisang. Jumlah anak akan terus bertambah tanpa terkontrol. Untuk satu rumpun paling banyak harus memiliki tanaman sagu sebanyak 5 sampai 6 batang saja. Sehingga Pohon sagu akan semakin cepat besar dan berkembang.
"Satu rumpun sagu yang terus beranak bisa mencapai 30 batang. Makanya kita harus mengeliminasi dan membibitkan lagi anak-anak sagu yang kecil tersebut. Karena satu rumpun hanya boleh maksimal 5 sampai 6 batang saja. sehingga nantinya pohon sagu bisa lebih cepat tumbuh dan berkembang dengan baik," sebutnya.
Selain itu walaupun tetap akan tumbuh jika dibiarkan tetap saja tanaman sagu tidak akan memiliki hasil yang baik. Untuk itu tetap harus dilakukan pemupukan. Dengan begitu sagu tersebut akan menghasilkan yang terbaik.
MoU Dengan BI
Masyarakat Kepulauan Meranti khususnya para petani sagu patut merasa bersyukur. Pasalnya pihak Bank Indonesia (BI) mendukung upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti yang melakukan pengembangan klaster sagu dalam rangka memperkuat pangan.
Dukungan BI tersebut dituangkan dalam Momerandum of Understanding (MoU) antara pihak BI dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. MoU tersebut dilaksanakan bulan lalu (jum'at 19 Maret 2015) di kantor BI jalan Jendral Sudirman Pekanbaru. MoU tersebut disaksikan juga oleh Plt Gubernur Riau, Andi Rahman.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Kadishutbun) Kepulauan Meranti, Ir Mamun Murod MM MH usai MoU mengaku bahwa pihak BI mendukung upaya Pemkab Meranti yang saat ini mengembangkan klaster sagu. Dukungan tersebut dalam bentuk dana untuk pengembangan klaster sagu itu.
"Kita ingin mengembangkan sagu, tetapi sagu yang dikembangkan harus diproduksi dari bibit berkualitas bagus dan penghasil tinggi. Untuk memenuhi sagu bibit berpenghasilan tinggi perlu dilakukan survei oleh balitpalma, Dirjendbun, Disbun Riau, dan lainnya, termasuk Dishutbun Kepulauan Meranti. Untuk mensukseskan itu BI siap membantu," ungkapnya.
Murod menjelaskan BI siap membantu karena sagu merupakan pangan alternatif. Tahap awal sebut Murod akan dilakukan kegiatan pengkajian dan membuat bibit sagu penghasil tinggi. "Untuk itu kita akan segera mendatangkan tim ahli balitpalma mando bersama dirjend bun, UPT benih perkebunan Riau," ujarnya.
Ditargetkan Murod bahwa alam waktu dekat harus dihadilkan sebanyak 250 ribu bibit unggul. Untuk itu nanatinya Dishutbun akan membentuk kelompok penakar benih unggul sagu di Kepulauan Meranti. Dengan begitu dapat dihasilkan bibit berkualitas. Setelah itu bibit-bibit berkualitas itu akan kita sertifikatkan," tambahnya.
Setelah MoU antara pihak BI dengan Pemkab Meranti yang dilakukan tersebut, sebut Murod akan ditindaklanjutinya dengan melakukan kerjasama teknis nantinya. Sehingga kegiatan tersebut bisa dilaksanakan sesegera mungkin.
(adv/hum/fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Sosial
Bupati Meranti Ajak Seluruh Masyarakat Dukung Program Pembangunan
-
Sosial
Bupati Meranti Klaim Sukses Turunkan Angka Kemiskinan Meski Anggaran Minin
-
Ekbis
Sekda Klaim Kemampuan Anggaran Pemda Kepulauan Meranti Memprihatinkan
-
Hukrim
Puluhan Pengunjukrasa Geruduk Kantor Bupati dan DPRD Meranti
-
Hukrim
Korupsi Dana Desa, Dua Oknum Kades di Kepulauan Meranti Menghilang
-
Sosial
Wabup Meranti Hadiri Peringatan Ke-71 Bhayangkara dan Sunatan Massal

