Bank Indonesia Sampaikan Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah
Wili Hidayat Senin, 02 Agustus 2021 17:35 WIB
PEKANBARU - Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran Covid-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik.
Demikian diungkapkan Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, Senin (2/8/21).
Menurutnya, indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi. Perkembangan nilai tukar pada 26 –30 Juli 2021, rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.480 per dolar AS. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,28%.
"Indeks Dolar menunjukkan pergerakan dolar terhadap rupiah (DXY) melemah ke level 91,86," terangnya.
Sedangkan yield UST (US Treasury) atau surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 10 tahun, tambahnya, turun ke level 1,269%.
Untuk aliran modal asing pada minggu ke V Juli 2021, Premi CDS Indonesia 5 tahun naik ke level 79,09 bps per 29 Juli 2021 dari 77,21 bps per 23 Juli 2021.
"Berdasarkan data transaksi 26-29 Juli 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp0,64 triliun terdiri dari beli neto di pasar SBN sebesar Rp1,12 triliun dan jual neto di pasar saham sebesar Rp0,47 triliun. Sementara berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden beli neto Rp3,78 triliun," terangnya.
Perkembangan harga pada Juli 2021, menurutnya masih relatif terkendali dan diperkirakan inflasi sebesar 0,01% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Juli 2021 secara tahun kalender sebesar 0,75% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,45% (yoy).
Penyumbang utama inflasi Juli 2021 sampai dengan minggu kelima yaitu komoditas cabai rawit sebesar 0,03% (mtm), tomat dan bawang merah masing-masing sebesar 0,02% (mtm), kangkung, bayam, kacang panjang dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01% (mtm).
Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi, antara lain daging ayam ras sebesar -0,09% (mtm), telur ayam ras, emas perhiasan dan jeruk masing-masing sebesar -0,02% (mtm), beras dan tarif angkutan udara sebesar -0,01% (mtm).
"Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," pungkasnya.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Editor : Hadi PramonoSumber : Riauterkini.com
Tags Bank IndonesiaEkonomi RiauKota PekanbaruNilai Rupiah
Komentar
Berita Terkait
-
Sosial
Wako Pekanbaru Hadiri Peringatan HUT Bhayangkara ke-79, Tegaskan Komitmen Kolaborasi dengan Polri
-
Hukrim
Sering Mimpi Keluarga, Seorang Napi Berusaha Kabur di Pekanbaru
-
Ekbis
Tes SKD CPNS Pekanbaru, Ini Jadwal dan Lokasinya
-
Ekbis
Wali Kota Pekanbaru Tinjau Penerapan Prokes di STC dan MP
-
Ekbis
341 Ribu Pelaku UMKM di Riau Terima Bantuan dari APBN 2021
-
Ekbis
Tiongkok Penyumbang Impor Non Migas Terbesar Riau

