• Home
  • Ekbis
  • Chevron Paling Merugi Akibat Dampak Kabut Asap Riau

Chevron Paling Merugi Akibat Dampak Kabut Asap Riau

Minggu, 16 Maret 2014 18:07 WIB
JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan kabut asap di wilayah Riau mengganggu kinerja beberapa kontraktor minyak mentah di kawasan tersebut.

Sedikitnya ada tiga perusahaan minyak yang terkena dampak kabut asap kebakaran hutan yakni PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI),  PT BOB- Bumi Siak Pusako, dan PT EMP Malacca Strait.

Menurut juru bicara SKK Migas, Handoyo Budi Santoso, gangguan produksi minyak paling tinggi terjadi di wilayah kerja Rokan yang dioperasikan Chevron Pacific. (Baca: Chevron Terjunkan 320 Personel Padamkan 2.038 Titik Karhutla)

Kualitas udara yang buruk memaksa Chevron untuk melakukan perawatan darurat terhadap sumur North Duri Cogen dan menyebabkan penurunan daya (power shedding) sebesar 70 mega watt (MW).

Handoyo mengatakan Chevron harus menutup 573 sumur dan 19 unit pompa untuk injeksi air. SKK Migas memperkirakan Chevron kehilangan potensi produksi 8.800 barel minyak per hari (Bph) dari wilayah kerjanya. 

"Beberapa kegiatan konstruksi dan perawatan fasilitas produksi terpaksa dihentikan karena minimnya jarak pandang di area kegiatan tersebut," kata dia dalam keterangan tertulis, Ahad, 16 Maret 2014.

Menurut Handoyo, Chevron kini menghadapi kenaikan biaya operasional rig karena sampai penundaan operasi pengeboran. Hingga saat ini Chevron sudah menunda pengeboran selama 800 jam dari 15 rig.

Sejak 13 Maret 2014, semua wilayah operasi Chevron Pasific sudah berada dalam kategori merah yang ditunjukkan dengan Indeks Standar Polusi (Pollution Standards Index/ PSI) di atas 500. 

"Kegiatan pekerja di luar ruangan terpaksa dikurangi dan harus dilakukan secara bergantian untuk menghindari paparan asap," ujarnya. 

Selain Chevron Pasific, gangguan operasi juga dialami oleh PT BOB- Bumi Siak Pusako yang mengoperasikan Wilayah Kerja Coastal Plains and Pekan Baru (CPP). 

Potensi produksi yang hilang akibat gangguan di wilayah kerja CPP mencapai 4 ribu Bph. 

Kabut asap juga mempengaruhi operasi wilayah kerja Malacca Strait yang dioperasikan PT EMP Malacca Strait. Di ladang ini, potensi kehilangan produksi mencapai 7 ribu Bph.

Secara keseluruhan, SKK Migas memperkirakan kehilangan produksi minyak akibat kabut asap  Riau sebesar 12 ribu Bph.***(dok)

Produksi Minyak Mentah Anjlok Gara-gara Kabut Asap

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan kabut asap akibat kebakaran hutan di wilayah Riau dan sekitarnya membuat produksi minyak mentah nasional terganggu. 

Menurut juru bicara SKK Migas, Handoyo Budi Santoso, ratusan sumur minyak terpaksa ditutup karena pekerjanya terganggu kabut asap. 
"Kondisi ini sangat memprihatinkan. Apabila terus berlanjut, produksi nasional terancam karena Riau adalah tulang punggung penghasil minyak," kata dia dalam keterangan pers, Ahad, 16 Maret 2014.

SKK Migas memperkirakan kehilangan produksi minyak sejak Rabu, 12 Maret 2014, mencapai 12 ribu barel per hari (Bph). Hal ini terjadi bersamaan dengan penutupan ratusan sumur minyak yang dikelola oleh beberapa operator. 

Para kontraktor yang beroperasi di Riau dan terganggu kabut asap antara lain  PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI),  PT BOB- Bumi Siak Pusako, dan PT EMP Malacca Strait.

Handoyo berharap semua pihak bekerja sama untuk mengatasi masalah kabut asap agar gangguan terhadap produksi minyak tidak berlangsung lama. 

Menurut dia, saat ini pelaku industri hulu minyak dan gas sudah berusaha membantu penanggulangan kabut asap di Riau.

Handoyo mencontohkan Chevron Pasific, yang membantu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memadamkan api di sejumlah wilayah. 

Selain memberikan dukungan logistik, Chevron juga mendistribusikan masker asap untuk masyarakat di sekitar daerah operasi mereka.***(dok) 
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Ekbis
Komentar