• Home
  • Ekbis
  • Pasar Internasional Minati Olahan Sabut Kelapa Meranti

Pasar Internasional Minati Olahan Sabut Kelapa Meranti

Minggu, 22 Maret 2015 18:29 WIB
MERANTI - Kabar baik bagi petani kelapa di Kepulauan Meranti. Hasil perkebunan mereka yang telah sekian lama lesu akibatnya murahnya harga kelapa, kini telah mulai bisa diolah menjadi barang bernilai ekonomis.

Adalah Syaiful, asal Desa Kedaburapat Kecamatan Rangsang Pesisir. Berkat pengalaman bekerja di Malaysia beberapa tahun silam, ia berhasil mengolah sabut kelapa menjadi bahan baku dalam bentuk serat (cocofiber) dan serbuk (cocopeat).  

Bahan baku inilah yang dicari pasar dalam jumlah besar, untuk diolah menjadi berbagai produk seperti bahan baku jok mobil, furniture, geotekstil dan lain sebagainya.

"Saya sedih di tempat orang (Malaysia, red) sabut laku dijual. Di tempat kita sabut berserakan tak berguna," ucap Syaiful, saat dikunjungi di kilang sabutnya di Desa Kedabu Rapat.

Berangkat dari keprihatinan tersebut dan sedikit pengalaman di negeri orang, Syaiful memberanikan diri untuk mencoba mengolah sabut-sabut tak berguna hasil perkebunan masyarakat petani kelapa di kampungnya. "Harus ada yang duluan mencoba dan memberikan contoh kepada masyarakat," katanya.

Proposal untuk meminta mesin pengolahan sabut kelapa pun diajukan ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kepulauan Meranti. Namun dikarenakan harga mesin yang diajukan lumayan mahal, dia direkomendasikan untuk memasukkan ke Dinas Perindustrian Provinsi Riau.

"Gayung bersambut, provinsi bantu anggaran 4 mesin untuk 4 desa," ujar lelaki 38 tahun itu.

Dari empat buah mesin tersebut, satu unitnya telah mulai beroperasi di Desa Kedabu Rapat. Untuk kilang ini, Syaiful mempekerjakan 20 orang warga tempatan sebagai karyawan.

"Target ekspor perdana kita sebanyak 50 ton serat untuk satu trip (sekali pengiriman)," jelasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, pasar Malaysia menghargai serat sabut kelapa Rp 4000 perkilogramnya dan untuk serbuk yang dijadikan bahan baku fiber ini dihargai Rp 3000 perkilogram. Sedangkan di tingkat petani di Pulau Rangsang, harga sabut kelapa dapat dijual dengan harga Rp 100 perkilogramnya kepada para pengepul.

"Kini sabut kelapa petani yang selama ini terbuang, sudah memiliki nilai jual," tutur Syaiful.

Perkebunan kelapa cukup banyak ditemukan di Pulau Rangsang dan menjadi salah satu mata pencarian terbesar masyarakat. Untuk Desa Kedabu Rapat Kecamatan Rangsang Pesisir saja, dalam satu bulan mencapai 400 ribu buah.

"Jenis kepala kita cukup bagus dibanding kelapa daerah lain yang berbeda jenis," kata Syaiful.

Saat ini ia ingin mensukseskan eskpor perdana serat sabut kelapa ini terlebih dahulu, setelah itu pihaknya akan memberdayakan desa-desa lain untuk mulai mengoperasikan mesin mereka.

(fan/rdk/hrc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Ekbis
Komentar