90 Tahun CPI, Hasilkan 12 Miliar Barrel Minyak

    Minggu, 25 Mei 2014 18:42 WIB

    JAKARTA - Dari 290 peserta pameran, PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) termasuk yang mendominasi. Stand yang diambil cukup besar dengan padat teknologi modern. Apalagi, usai pembukaan acara, dilaksanakan peringatan 90 tahun PT CPI di Indonesia. 

    Tak hayal, Wakil Presiden Boediono usai membuka acara, mampir dan berdialog dengan Chuck Taylor, Managing Director Chevron Indonesia Business Unit.

    Menurut Chuck, Chevron mempunyai 90 tahun track record kemitraan yang berhasil di Indonesia dan berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam mengembangkan sumber daya minyak, gas dan energi terbarukan dan memberikan manfaat bagi seluruh rakyat.

    ‘’Kemitraan dengan masyarakat dan pemerintah Indonesia membuat Chevron dapat menghasilkan 12 miliar barrel minyak sejak mulai beroperasi di tahun 1924 yang mendukung pertumbuhan ekonomi negara,’’ kata Chuck di hadapan Wakil Presiden.

    Chevron, katanya, menerapkan inovasi dan teknologi mutakhir untuk menahan penurunan produksi minyak secara alami pada sumur-sumur tua, memperbaiki keandalan reservoir yang ada dan meningkatkan produksi.

    Chevron, jelasnya, berkomitmen untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia dan Filipina yaitu energi panas bumi dan telah mengembangkan lebih dari 25 persen kapasitas panas bumi dunia saat ini.

    ‘’Ketika era pengambilan minyak bumi secara mudah telah lewat dan semakin besarnya tantangan untuk mengembangkan sumber-sumber baru, Chevron berkomitmen untuk melanjutkan investasinya di sektor energi di Indonesia untuk mensupport tujuan nasional dan menyediakan energi,’’ katanya lagi.

    Chevron, lanjutnya, berinvestasi dalam mengembangkan sumber daya manusia untuk membawa keahlian dan kapabilitas global ke Indonesia. ‘’Chevron saat ini mempekerjakan 6.500 pegawai yang berdedikasi dan keahlian yang tinggi dan mempunyai 30.000 pegawai mitra bisnis dimana 97 persennya adalah pegawai dan manager Indonesia menghasilkan multifier effect yang penting kepada perekonomian di masyarakat,’’ jelasnya.

    Chevron percaya, kata Chuck, kesuksesan bisnis tidak dapat dipisahkan dari kesuksesan masyarakat dimana CPI beroperasi sehingga program investasi sosial fokus pada mendukung pemberdayaan masyarakat dan pembangunan ekonomi. 

    Ubah Cara Pandang terhadap Migas

    Wapres Boediono dalam sambutannya pada pembukaan IPA menyebutkan, selama hampir 5 tahun pemerintahan SBY-Boediono ini, sektor energi termasuk migas merupakan salah satu sektor yang paling banyak mendapatkan perhatian pemerintah. Mengapa demikian? Karena pemerintah ini punya harapan yang sangat besar dalam peran sektor energi. Indonesia harus mampu mandiri dalam kebutuhan energinya sepanjang masa.

    Sementara itu, katanya, pemerintah menyadari bahwa di bidang energi, terutama minyak bumi, Indonesia menghadapi trend penurunan kapasitas produksi jangka panjang, karena absennya investasi yang berarti di bidang eksplorasi dan eksploitasi selama 15 tahun terakhir ini.

    ‘’Saudara Menteri ESDM tentu ingat, di awal masa pemerintahan ini ditetapkan bahwa misalnya, lifting minyak ditargetkan mencapai 1,2 juta barrel/hari di tahun 2014, yang tentunya ada dalam kontrak kerja Bapak. Namun hari ini karena masalah-masalah mendasar, produksi minyak kita hanya dapat mencapai 804 ribu barrel/hari,’’ kata Wapres.

    Gas bumi, kata Wapres, juga mendapat perhatian besar. Lapangan-lapangan gas yang strategis seperti di Natuna, Masela, Cepu dan juga Selat Makassar mendapatkan perhatian dan menjadi prioritas pemerintah. Namun dalam pelaksanaannya banyak yang masih perlu diurai bottleneck-nya. Seperti yang pernah saya sebutkan di konvensi IPA beberapa tahun yang lalu, gas adalah sumber energi masa kini dan juga masa depan Indonesia.

    Khusus untuk minyak bumi, katanya, mengingat bahwa 88,5 persen dari total cadangan minyak awal sudah terkuras selama kurun 60 tahun maka tantangan untuk meningkatkan sisa cadangan menjadi semakin krusial namun disadari juga semakin sulit dan semakin mahal, mengingat smakin rendahnya kuantitas minyak yang diproduksi, semakin bergantungnya upaya eksplorasi dan produksi migas pada penerapan teknologi tinggi dan teknologi yang mahal, lambatnya penanganan proses pembebasan lahan dan perizinan.

    Demi kepentingan bangsa ini ke depan, jelasnya, trend kemerosotan ini harus di balik arahnya. Menghadapi tantangan yang semakin sulit tersebut, saya meminta kepada semua jajaran pemerintah di pusat dan di daerah, dalam 5 bulan terakhir masa bakti pemerintahan ini untuk melakukan hal-hal antara lain sebagai berikut.

    Pertama, katanya, meningkatkan koordinasi antar instansi guna meminimalkan kendala-kendala yang muncul dari sisi pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Kedua, mengamankan pengembangan wilayah migas strategis yang sudah berjalan menuju tahap produksi agar tidak semakin tertunda lagi.

    Ketiga, kata Wapres, meminta Pertamina sebagai BUMN migas untuk merealisasikan potensi cadangan yang dimilikinya. Keempat, memperbaiki seluruh mata rantai tata kelola migas (dari hulu ke hilir) yang belum optimal antara lain misalnya penetapan alokasi gas, pembangunan infrastruktur migas, organisasi/struktur pengelolaan atau pelaksanaan di bidang migas, dan lain-lain.

    Kelima, ujarnya, mengoptimalkan pengelolaan sisa cadangan Migas existing dan sumber daya yang belum di eksplorasi dan keenam, menciptakan dan menjaga iklim investasi yang kondusif bagi investor.

    ‘’Melihat ke depan, kita juga perlu mengubah cara pandang kita yang mendasar terhadap peran migas. Di masa mendatang kita harus mengubah cara pandang kita bahwa pemanfaatan lifting migas saat ini lebih sebagai sumber penerimaan devisa negara, menjadi peran sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,’’ katanya.      
      
    Paradigma seperti ini pulalah, kata Wapres, yang dipakai negara-negara yang telah maju, yaitu sumber daya alam minyak dan gas utamanya bukan sekedar untuk pendapatan negara, melainkan untuk penopang pembangunan industri nasional, untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan teknologi, dan untuk menciptakan kesejahteraan rakyatnya.

    2014, Target Investasi 26 Miliar Dolar

    Dalam pada itu, Presiden IPA Lukman Mahfoedz dalam laporannya mengatakan, industri migas Indonesia menyumbang penerimaan negara serta berperan strategis untuk menggerakkan sektor-sektor lainnya. Tahun 2013, industri migas menyumbang 31 miliar dolar AS. Investasi sektor hulu migas mencapai 20 miliar dolar AS dan tahun 2014 ditargetkan 26 miliar dolar AS. 

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan 6 persen per tahun, paparnya, akan menyebabkan permintaan energi yang semakin besar di masa mendatang. Kebijakan energi nasional memproyeksikan konsumsi energi tiga kali lipat pada tahun 2025, dibandingkan tahun 2010 yaitu dari 3,3 juta barel setara minyak menjadi 7,7 juta barel setara minyak per hari.

    Berdasarkan evaluasi IPA, kegiatan eksplorasi harus ditingkatkan mulai saat ini juga sebanyak tiga kali lipat, agar dapat  memenuhi paling sedikit separuh dari kesenjangan antara kebutuhan dalam negeri dengan pasokan energi tahun 2025.

    Menurut Lukman, Indonesia masih memiliki sumber daya migas yang belum dimanfaatkan. Indonesia memiliki cadangan minyak terbukti 3,7 miliar barel dan cadangan gas 103 TCF. Belum lagi potensi migas non konvensional seperti. CBM dan shale gas. Namun potensi migas itu 75 persen berada di laut dalam di kawasan Indonesia Timur yang memerlukan keahlian tertentu dan pendanaan yang lebih besar.

    Selain itu, sekitar 85 persen kandungan hidro karbon berupa gas. Sedangkan minyak hanyalah 15 persen. Hal ini membuat dibutuhkan infrastruktur gas dalam pengembangannya. Ada pula hidro karbon yang memiliki kadar CO2 yang cukup tinggi.

    “Dengan kondisi potensi migas seperti ini, maka pengembangannya memerlukan dukungan teknologi yang lebih maju, biaya investasi yang lebih besar dan memerlukan SDM yang memiliki keahlian,” katanya.

    Tantangan utama pengembangan industri migas di Indonesia, ujar Lukman, antara lain tingkat penggantian cadangan minyak yang rendah yaitu sebesar 47 persen. Hal ini sebenarnya bisa diperbaiki dengan meningkatkan eksplorasi. Meski demikian, kompleksitas struktur geologi cekungan-cekungan baru di Indonesia makin rumit sehingga penemuan-penemuan migas baru justru semakin berkurang.

    Tantangan lainnya adalah biaya pengeboran eksplorasi yang semakin tinggi. Biaya rata-rata pengeboran sumur eksplorasi telah meningkat hampir 5 kali lipat dalam waktu 10 tahun terakhir.

    Lukman juga menyampaikan tantangan dalam bidang hukum dan regulasi. Investasi migas yang memerlukan biaya tinggi, padat modal, teknologi tinggi dan berjangka panjang, memerlukan kesungguhan semua pihak untuk memenuhi ketentuan dalam kontrak yang telah disepakati.

    Lebih lanjut Lukman memaparkan, berdasarkan data yang ada, dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, ada sekitar 10 KKKS yang akan habis masa kontraknya. Ke 20 KKKS ini memproduksi sekitar 635.000 barel setara minyak per hari di tahun 2013 atau 30 persen dari total kapasitas migas di Indonesia. Jumlah ini meningkat menjadi 1,2 juta barel setara minyak per hari, dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

    “Oleh karenanya sangat penting dibuat aturan yang jelas mengenai perpanjangan kontrak dengan memperhatikan peranan perusahaan negara nasional yaitu Pertamina, perusahaan migas internasional dan nasional,” ungkap Lukman.***(dok)
    IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
    Tags
    Komentar