Petani Jamur Tiram Butuh Perhatian Pemkab Rohul
Minggu, 31 Agustus 2014 15:18 WIB
PASIRPANGARAIAN - Petani jamur tiram di Desa Persiapan Kepenuhan Makmur, Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) membutuhkan perhatian pemerintah. Mereka mengaku masih kesulitan mendapatkan peralatan dan minim penyuluhan dari dinas terkait.
Supriyanto (34) dan istrinya Purbasari Artikadewi (30) merupakan sosok ulet dalam membudidayakan jamur tiram. Warga Dusun III, Desa Persiapan Kepenuhan Makmur itu sudah tiga tahun terakhir mengembangkan jamur tiram. Karena minimnya penyuluhan, budidaya jamur mereka beberapa kalinya gagal panen.
Budidaya jamur mereka menggunakan lahan di belakang rumah dengan pondok bambu berukuran 7X7 meter beratapkan daun nipah. Dari lahan itu, suami istri itu bisa membudidayakan sekitar 7.500 log jamur tiram.
Hasilnya budidaya baru sekitar 10 kilo per hari selama ini. Itupun baru dijual kepada warga setempat atau karyawan PT PIS yang kebetulan akan pulang kampung. Produksi belum memenuhi pasaran luar desa, karena mereka masih minim penyuluhan.
Mereka mengharapkan ada perhatian dari Pemkab Rohul dan Pemrov Riau. Baik dukungan secara fasilitas dan semangat, termasuk penyuluhan. Dukungan itu sangat diharapkan karena bisa saja menular kepada warga lain.
"Karena adanya dukungan dapat meningkatkan motivasi agar produksi jamur pun meningkat," kata Supriyanto kepada riauterkinicom di lokasi budidaya jamur tiram miliknya, Ahad (31/8/14).
Supriyanto mengakui untuk pemasaran mereka belum ada kendala. Hasil jamur itu masih belum mencukupi untuk permintaan dari warganya yang memang sudah cukup peminatnya. "Namun kami berusaha mencukupi agar budidaya jamur tiram ini lebih besar dari sekarang," ujar dia.
Budidaya jamur tiram dinilai dia menjanjikan. Pasca ditanam, dua bulan kemudian mereka bisa dipanen sampai jangka enam bulan. Perkiraannya, jika 3.000 log, seharusnya mereka bisa memanen sampai 8 kg per hari sampai empat bulan kemudian.
"Namun, saat memasuki musim tanam baru, kami harus mengganti total media tanamnya. Ini yang masih menyulitkan mencari peralatannya," ungkap Supriyanto.
Dia mengakui masih kesulitan dalam menemukan plastik log dan kapas berharga murah di Provinsi Riau dan Sumatera Utara. Alhasil, mereka lebih banyak belanja di pulau Jawa seperti di Kota Solo.
"Kalau untuk serbuk kayu, jagung halus dan alkohol, masih bisa ditemukan di Rokan Hulu. Namun untuk mendapatkan plastik, cincin dan kapas bekas pabrik masih sulit," jelas Suryanto dan mengakui saat musim tanam baru, tidak menghabiskan dana sampai Rp1 juta.
Untuk serbuk kayu, Suryanto dan istrinya meski rajin ke dusun-dusun tetangga untuk mencarinya. Bahkan, tidak sedikit warga yang menawarkan kepada mereka meski tidak gratis. "Kalau untuk serbuk kayu masih mencukupi," tandas Supriyanto dan diiyakan oleh istrinya, Purbasari Artikadewi.
Supriyanto menambahkan, dinas terkait dari Pemprov Riau pernah menjadwalkan akan memberikan penyuluhan budidaya jamur tiram di Kantor Camat Kepenuhan. Sayangnya, hingga saat ini belum ada kabar dari pihak provinsi.
Sementara itu, Kepala Desa Persiapan Kepenuhan Makmur Syamsul Bahri, mengakui punya rencana akan meningkatkan budidaya jamur tiram di desanya. Dia berencana menjadikan desanya sebagai budidaya jamur tiram ini dan bisa mengolahnya dalam berbagai jenis penganan ringan sebagai buah tangan.
"Kalau ada dana ADD (Anggaran Dana Desa) akan dibicarakan bersama untuk peningkatan budidaya jamur tiram ini. Semoga disetujui. Namun akan kita coba konsultasi ke pemerintah daerah," kata Syamsul.
Menurut dia, untuk budidaya jamur tiram memang ada potensi dari desanya. Sebab itu akan dicoba konsultasi dengan kabupaten sebagai upaya peningkatan mutu Usaha Kecil Menengah atau UKM yang akan semakin digalakkan oleh pemerintah pada 2015 mendatang.
"Bahan baku seperti serbuk kayu sudah mencukupi, sebab disini ada bekas panglong atau sawmill," jelas dia.
Namun kendalanya, diakui Kades, Suryanto dan istrinya sering gagal panen karena gangguan cuaca yang buruk. Seperti musim angin kencang, gubuk tempat budidaya pernah ambruk. Dan pada musim kemarau, disebabkan suhu udara yang panas, budidaya jamur tiram juga terganggu.
"Sebab itu mereka masih membutuhkan penyuluhan rutin dari pihak terkait," tambah Syamsul Bahri.***(zal)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

