• Home
  • Hukrim
  • Inilah Cerita Pembunuhan Bayi Perempuan di Dumai

Inilah Cerita Pembunuhan Bayi Perempuan di Dumai

Rabu, 25 September 2013 14:40 WIB

DUMAI, RIAUHEADLINE.COM- Misteri tewasnya bayi perempuan baru berumur 9 bulan yang ditemukan ditumpukan sampah eks perumahan PT. Patra Dock menyisakan duka mendalam bagi semua kalangan. Pasalnya, bayi mungil itu sengaja dibunuh oleh orang tua kandungnya sendiri bernama Budiman, warga Jalan Nelayan Darat Kelurahan Pangkalan Sesai, Kecamatan Dumai Barat.

Pengakuan dari pemilik rumah kontrakan, Anizar mengatakan, bahwa Budiman dan Yunirta sebelum menghabisi nyawa anak kandungnya tersebut sering cek-cok mulut. Pemicu utama sendiri, pemilik rumah kontrakkan tidak mengetahui secara persis. Hanya saja, kata dia, sumai Yunirta tersebut bekerja di salah satu perusahaan yang ada di Kelurahan Lubuk Gaung dan sering pulang malam.

"Orang tua bayi ini sering adu mulut, apa penyebabnya saya kurang tahu. Yang jelasnya, suaminya kerja di perusahaan yang ada di Lubuk Gaung. Padahal, setiap pagi datang, kedua orang tua bayi naas itu selalu pergi ke pasar berduaan. Entah kenapa, sampai kejadian ini bisa dilakukan oleh orangtunya dengan sengaja menghabisi anak kandungnya yang saat ini masih dalam kadungan," ungkap Anizar.

Mirisnya lagi, dalam pengakuan Yunirta kepada pemilik rumah kontrakan, bahwa selama menikah suaminya sering menelatarkan dirinya. Mengenai kehamilan Yunitra sendiri, Anizar dan juga tetangga di sekitar kontrakan tidak ada yang mengetahui hal tersebut, karena Yunitra selalu memakai baju longgar. Sedangkan, Budiman dan Yunitra saat ini sudah memiliki putri bernama Fitria yang berusia satu tahun satu bulan.

"Padahal sebelum kejadian ini, mereka berdua menjalani hidup biasa-biasa saja dan tinggal di kontrakan tersebut tidak pernah bermasalah dengan pemilik kontrakan, bahkan uang kontrakan selalu lancar. Kalau dia hamilpun kita tidak ada masalah, karena diakan punya suami, tetapi setelah hari Minggu itu, Yuni sudah memakai pakaian yang ngepas di badan tidak seperti biasanya dan wajahnya saya lihat agak pucat," ujarnya.

Menurut Anizar, Ibu pemilik rumah kontrakan yang ditumpangi Budiman dan Yunitra, sebagai seorang kepala keluarga, Budiman mengaku seorang superveyor di perusahaan yang beroperasi di Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan. Budiman, sebutnya, merupakan suami yang jarang pulang sehingga istri beserta anaknya yang berusia satu tahun tidak diperhatikan. 

"Dia pulang hanya sebentar saja, paling tidak kalau pagi hari hanya mengantar istrinya ke pasar sudah itu Budiman tidak ada di rumah karena sibuk kerja saja. Saya sedih mendengar keluh kesah Yunitra, karena tidak mempunyai keluarga di Dumai. Yuni (sapaan akrabnya), pernah mengatakan kalau dirinya di Kota Dumai tidak memiliki keluarga, dan punya ibu angkat di Pekanbaru," urai pemilik kost menceritakan rumah Budiman dan Yunirta.

Dikatakan dia, Budiman tidak kasihan dengan anak dan istrinya. Budiman juga tidak pernah bergaul di lingkungan rumahnya. Anizar mengaku pada Minggu (15/9) lalu sebelum bayi ditemukan, ia melihat darah di dalam selokan rumahnya yang mengalir dari aliran kontrakan yang berada diatas rumahnya. "Tapi saya tidak menduga kalau itu darah habis melahirkan si Yuni," jelas Anizar sambil menunjukkan selokan yang berada di belakang rumahnya.

Tak hanya itu saja, perkataan cerai yang selalu diucapkan Budiman selalu terdengar ditelinga pemilik rumah kontrakkan itu. "Yuni pernah mengatakan kalau hubungan mereka tidak disukai oleh mertuanya. Jadi, saya pernah mendengarkan lontaran cerai yang diutarakan suami Yuni tersebut. Miris sekali saya mendengarkan kehidupan rumah tangga orang itu," tegasnya.

Mengenai penangkapan terhadap Yuni dan Budiman yang dilakukan oleh aparat kepolisian, Anizar tidak mengetahui kejadian tersebut karena pada saat itu dia berada di Masjid yang dekat dengan rumahnya. "Kami sekeluarga tidak tau kalau dia ditahan polisi, karena saya sedang sholat, informasinya Yuni dijemput oleh polisi dan juga pak RT, sedangkan Budiman pada saat itu tidak ada di rumah," terangnya.

Salah seorang teman semasa duduk di bangku MTS dengan Budiman tidak menyangka kalau Budiman tega melakukan hal tersebut, bahkan dari penilian teman-teman Budiman termasuk orang yang baik. "Yang benar saja Budiman melakukan hal demikian, setahu saya dia orangnya baik-baik saja," terang wanita yang mengaku teman semasa sekolah Budiman dulu.

Saking mengenal baik Budiman, wanita pekerja swasta ini menduga perbuatan menghilangkan hak hidup manusia yang dilakukan tersangka berkemungkinan anak hasil selingkuhan istrinya. "Kalau istrinya tidak pernah berbuat selingkuh berarti Budiman sudah gila, karena tega membunuh darah dagingnya sendiri. Padahal dia baik orangnya (Budiman)," ungkapnya penuh dugaan.****(die)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags
Komentar