Serbu Mahasiswa Dalam Musholla
Ormas Islam Desak Sejumlah Petinggi Polda Dicopot
Jumat, 28 November 2014 09:08 WIB
PEKANBARU : Sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Riau bakal menggelar aksi demonstrasi besar-besaran menuntut Kapolri, Kapolda Riau, Kapolresta Pekanbaru dan Kabag Oprs Polresta Pekanbaru dicopot.
Aksi ini sebagai reaksi atas tindakan dugaan penistaan rumah yang dilakukan sejumlah anggota kepolisian, baik di Mushalla Asyakirin RRI Pekanbaru dan sejumlah rumah ibadah lain yang ada di Indonesia.
Rapat dan diskusi rencana aksi demonstrasi itu berlangsung di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau, Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru yang berakhir pukul 23.00 WIB tadi malam (27/11/14).
Rapat dan diskusi itu dihadiri sejumlah pimpinan BEM se Riau, HMI MPO, FPI, GERRAM (Gerakan Rakyat Riau Menuntut), dan sejumlah organisasi Islam lainnya.
Dalam diskusi itu disepakati aksi menyikapi tindakan penistaan rumah ibadah, khususnya yang dilakukan sejumlah anggota Polresta Pekanbaru di Mushalla RRI, sehari sebelum kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Riau, disepakati menunjuk Zulfan Hendri sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) dan penanggung jawab.
Dalam pertemuan itu juga disepakati massa aksi akan mengajukan Petisi Riau yang berisi 3 tuntutan;
Pertama, mengusut tuntas tindakan brutal polisi terhadap mahasiswa yang menuntut pemerintah membatalkan harga BBM.
Kedua, mencopot Kapolri, Kapolda Riau dan Kapolresta Pekanbaru atas tindakan represif terhadap mahasiwa serta penistaan rumah ibadah di Mushalla Asy Syakirin RRI Pekanbaru dan beberapa tempat ibadah lainnya di Indonesia.
Ketiga, menolak bangkitnya rezim represif, otoriter dan fasis di Indonesia.
Sebagai data tambahan, dalam demo menolak kenaikan harga BBM di RRI Pekanbaru kemarin sore. Puluhan mahasiswa terluka akibat tindakan represif polisi yang membubarkan paksa demo tersebut. Tindak brutal polisi juga dilakukan terhadap beberapa mahasiswa yang sedang dan usai sholat di Musholla Assyakirin RRI.
Dalam aksi brutalnya tersebut, polisi menerobos masuk ke dalam tempat suci tersebut lengkap dengan sepatu botnya. Tindakan aparat tak sekedar menyebabkan mahasiswa terluka, tapi juga menyebabkan lemari kecil tempat menyimpan sajadah dan Al Qur'an rusak. Isinya berserakan di lantai musholla, termasuk Al Qur'an.
Atas kebrutalan tersebut, sejumlah pihak melontarkan kecaman. Seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau yang menilai tindakan polisi sebagai penistaan agama.
(son/son)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Politik
DPRD Pekanbaru Sahkan Ranperda Keuangan dan Administrasi
-
Hukrim
Kinerja Tim Saber Pungli Pekanbaru Dipertanyakan
-
Hukrim
Keributan di Rutan Sialang Bungkuk Dipicu Provokasi Napi
-
Hukrim
Tak Mau Dipindahkan, Narapidana Rutan Sialang Bungkuk Mengamuk
-
Hukrim
Pemilik Home Industri Ekstasi Tega Mengusir Istrinya di Pekanbaru
-
Kesehatan
Walikota Pekanbaru Bantah Pemberitaan Pejabat Pemko Keracunan Makanan

