Salah Satu Pemborong Akui Material Pasir Tidak Sesuai Spek
Jumat, 13 Desember 2013 15:25 WIB
PELALAWAN - Fakta mengejutkan terhadap pembangunan jalan lintas Bono di Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan sepertinya jauh panggang dari api.
Jika diperkirakan dari total pembangunan badan jalan hanya berkisar 30 persen menggunakan pasir bono, selebihnya menggunakan matrial tanah ataupun pasir bercampur tanah dipinggir kiri-kanan badan jalan.
Demikian pengakuan yang mengejutkan disampaikan Darlis, salah seorang pemborong subkontraktor dari PT Brantas Ady Praya, kepada riauterkini dan sejumlah awak media di Media Center kantor Bupati Pelalawan Jumat (13/12/13).
Menurutnya, jalan lintas Bono ini dimenangkan oleh PT Brantas Ady Praya selaku pemborong utama. Namun, dilapangan perusahaan ini, melakukan subkontraktor.
Menurut tokoh Pemuda Kecamatan Teluk Meranti ini, untuk satu kilo meternya, pihak PT Brantas melepas harga kepada pihak subkontraktor, senilai Rp 400 juta."Iya kita tahu, nilai kontrak itu, 1 kilometernya, Rp 1 mliyar kepada kita di lepas Rp 400 juta, ya gimana lagi kitakan, butuh kerja," papar Darlis.
Katanya, awal pekerjaan yang dilakukan, mengacu kepada spekasi yang dirujuk oleh PT Brantas, yakni menggunakan pasir bono untuk penimbunan badan jalan.
Akan tetapi dipihak lain, PT Brantas juga melakukan pekerjaan badan jalan malah menyedot tanah bercampur pasir diparit kiri-kanan jalan. Tidak itu saja, bahkan mereka melakukan penimbunan badan jalan dengan menggunakan tanah tok.
"Satu ketika, saya merekam pekerjaan yang dilakukan PT Brantas ini. Alasanya, rekaman ini untuk menjadi alat perlawanan kepada mereka. Mereka seenak aja, mengeruk pasir bercampur tanah dikiri kanan parit, sementara kita disuruh mengambil bono di sungai Kampar," tegas Darlis seraya mengatakan rekaman itu membuat orang Brantas mati kutu dan memuluskan pekerjaannya.
Meskipun apa yang dilakukan itu sangat bertolak belakang dengan hati kecilnya, namun Darlis mengaku hal itu tidak terlepas dari pekerjaan yang dilakukan PT Brantas."Pastilah hati kecil saya, menolak. Apalagi jalan ini masyarakat kami yang menikmatinyan" papar Darlis.
Dia berterus terang. Bahwa jika dicek secara keseluruhan hanya berkisar 30 persen badan jalan lintas bono itu menggunakan pasir bono. "Ada rekanan subkontraktor, dibuat bangkrut akibat menggunakan pasir bono. Sebab tidak sesuai dengan kos yang ada," jelasnya.***(feb)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Ekbis
Pergerakan Harga Minyak Sawit Dunia Mengalami Fluktuasi pada Awal Februari 2026
-
Lingkungan
Harimau Sumatera Masuk Permukiman Warga Mempura, Masyarakat Diminta Waspada
-
Ekbis
Produksi Padi Riau Naik 12,7 Persen, Targetkan Ketahanan Pangan Hingga 2029
-
Lingkungan
Riau Dorong Swasembada Pangan Nasional, Petani Milenial Jadi Kunci Modernisasi Pertanian
-
Hukrim
Polisi Kehutanan Gakkum Riau Usut Jaringan Pembunuh Gajah Sumatera di Blok Ukui
-
Sosial
Penataan Pedagang Dumai di Jalan Sultan Syarif Kasim, Kota Jadi Destinasi Kuliner

