- Home
- Infotorial
- Dear Orang Tua, Yuk Bersama Kita Stop Kekerasan Pada Anak!
Dear Orang Tua, Yuk Bersama Kita Stop Kekerasan Pada Anak!
Advertorial Kamis, 07 Februari 2019 23:11 WIB
DUMAI - Pemberitaan tentang kekerasan pada anak masih banyak muncul di berbagai media. Sebagai orang tua, tentunya merasa prihatin dengan berbagai kasus yang terjadi. Apalagi, kekerasan yang terjadi tidak hanya berasal dari lingkungan luar, namun juga dalam keluarga.
Tidak ingin anak mengalami hal yang sama? Yuk #LindungiAnak dengan ikut mengedukasi diri dan mendukung stop kekerasan pada anak dengan pola pengasuhan yang tepat.
Mendidik Anak Dengan Kasih Sayang, Hindari Menggunakan Kekerasan di Rumah
Saat si kecil rewel, tidak menurut dan melakukan hal nakal, sebagian orangtua kadang merasa kesal dan tidak sengaja bicara dengan nada tinggi. Hal sepele ini tanpa disadari bisa memicu kekerasan pada anak, mengingat usia anak yang masih di bawah umur.
Orang tua dihimbau untuk mendidik anak dengan kasih sayang, memberitahunya dengan cara yang dapat diterima sesuai dengan usianya. Hindari menggunakan kekerasan di rumah, agar si kecil bisa selalu merasa aman dan disayangi.
Dampingi Si Kecil Saat Memakai Teknologi dan Mengakses Internet

Kemudahan mengakses internet dewasa ini ternyata juga dinikmati oleh sebagian besar anak. Belajar dan mengetahui banyak hal baru lewat internet memang menyenangkan, tapi pastikan orang tua selalu memberi pendampingan.
Jika perlu gunakan aplikasi online monitoring, agar bisa selalu memonitor aktivitas digital si kecil dan membatasi konten yang diakses sesuai dengan usianya. Hal ini mungkin terlihat sepele, namun kasus kekerasan pada anak secara online banyak terjadi.
Mengedukasi Anak Fungsi Bagian Tubuh
Beberapa kekerasan pada anak sering kali terjadi tanya sepengetahuannya. Hal ini terjadi karena anak belum mengerti sepenuhnya apa saja bentuk kekerasan yang bisa terjadi padanya. Untuk itu, orang tua perlu mengedukasi anak tentang fungsi bagian tubuh, mana yang boleh dan tidak boleh dipegang.
Ada empat bagian tubuh yang tidak boleh dipegang yakni, bibir, dada, bagian di antara kaki (alat kelamin) dan pantat. Ajarkan pada si kecil jika keempat bagian tersebut adalah bagian pribadi. Hanya orang yang paling dekat seperti Ibu yang boleh melihat dan menyentuhnya.
Beritahu si kecil untuk membedakan, mana sentuhan yang memberikan rasa aman dan mana yang berbahaya. Misalnya, jika dipeluk Ibu atau diperiksa dokter dengan didampingi Ayah dan Ibu itu adalah sentuhan yang diperbolehkan.
Berbeda jika ada orang lain yang memaksa membuka baju dan menyentuh empat bagian tersebut, itu berarti berbahaya. Ajarkan juga si kecil apa yang harus dilakukan ketika hal itu terjadi padanya. Mulai dari berteriak ‘jangan’, berlari minta tolong kepada orang yang dipercaya dan memberitahu orang yang dipercaya seperti guru atau orang tua.
Lebih Peka Dengan Apa Yang Terjadi Pada Anak-Anak

Sebagian anak-anak yang mengalami tindakan kekerasan sulit menemukan cara untuk berterus terang pada orang tuanya. Hal ini biasa terjadi karena mendapatkan ancaman, tertekan, takut dimarahi dan lain sebagainya.
Sebagai orang tua, penting sekali untuk lebih peka dengan apa yang terjadi pada anak-anak. Amati dan observasi kegiatannya sehari-hari, mulai dari yang paling kecil.
Misalnya, ketika anak tiba-tiba merasa sedih, ada bagian tubuh yang berusaha ditutupinya, atau ketika ia bersikeras ingin bermain keluar rumah tanpa bilang mau ke mana.
Selain berperan sebagai orang tua, jadilah teman untuk anak-anak. Di mana ia bisa bercerita banyak hal tanpa perlu takut. Dengan begitu, anak akan lebih terbuka dan jujur dalam berbagai hal. Kekerasan pada anak di luar rumah pun bisa dihindari.
Mengenali Ciri-Ciri Orang Yang Berpotensi Melakukan Kekerasan
Kepekaan yang harus dimiliki orang tua selanjutnya adalah mengenali ciri-ciri orang yang berpotensi melakukan kekerasan. Merasa curiga demi kebaikan anak bukanlah hal buruk, asalkan masih dalam kewajaran.
Mulailah curiga jika ada orang lain yang tiba-tiba menawarkan untuk mengasuh anak, berusaha mendekat pada anak dengan pandangan yang tidak biasa, serta mengajak anak bermain dengan menawarkan hadiah yang tidak wajar.
Dampingi si kecil di mana pun ia berada, pastikan ada orang yang bisa dipercaya ada di dekatnya. Jika terjadi tindakan kekerasan pada anak baik dialami atau terlihat di lingkungan.
Segera laporkan melalui Unit Pelayanan Teknis Pemberdayaan Perempuan dan Anak yang ada di Kota Dumai. Kini pemerintah juga sudah membuat program bernama Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).
Program ini merupakan sebuah gerakan atau jaringan masyarakat yang bekerja sama melindungi anak. Dengan peran serta pemerintah dan orang tua atau keluarga, diharapkan dapat stop kekerasan pada anak. Yuk #LindungiAnak sekarang juga!.
Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Dumai.
(Advertorial)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Ekbis
Dumai Expo 2026, Antara Perayaan Hari Jadi ke-27 dan Dampak Ekonomi Lokal
-
Lingkungan
Konflik Agraria di Jalan Sudirman Dumai Memanas, APRJ Desak BPN dan Pemkot Bertanggung Jawab
-
Sosial
Penataan Pedagang Dumai di Jalan Sultan Syarif Kasim, Kota Jadi Destinasi Kuliner
-
Tekno
Pemko Dumai Ajak RAPI Perkuat Peran dalam Komunikasi Publik dan Darurat
-
Pendidikan
Wali Kota Dumai Pimpin Upacara Hari Santri Nasional Tahun 2025
-
Traveler
Pawai Obor Idaman Berlangsung Meriah pada Malam Hari Raya Idul Fitri 2025

