• Home
  • Infotorial
  • Laporkan Tindak Kekerasan Perempuan dan Anak ke P2TP2A Kota Dumai

Laporkan Tindak Kekerasan Perempuan dan Anak ke P2TP2A Kota Dumai

Advertorial Senin, 12 Februari 2018 22:22 WIB
Ketua Umum P2TP2A Kota Dumai, Hj. Haslinar Zulkifli.
DUMAI - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) merupakan pusat kegiatan terpadu yang didirikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan menyediakan pelayanan bagi masyarakat Indonesia terutama perempuan dan anak korban tindak kekerasan.

P2TP2A bertujuan untuk melakukan pelayanan bagi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dan berupaya memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan perempuan dan anak dalam rangka terwujudnya Kesetaraan dan Keadilan Gender.

Untuk itulah, P2TP2A yang berada dibawah naungan di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Dumai menghimbau kepada para korban kekerasan terutama perempuan dan anak untuk segera melapor guna mendapatkan pendampingan.

''Jika menjadi korban kekerasan, segera saja melapor, sehingg kita bisa memberikan tindakan pencegahan dan pelayanan pendampingan. Sejauh ini kesadaran masyarakat masih rendah untuk melapor ketika menjadi korban kekerasan maupun mengalami pelecehan seksual,'' ujar Ketua Umum P2TP2A Kota Dumai, Hj. Haslinar Zulkifli.

Tidak hanya korban, orang lain pun dikatakannya jika mengetahui adanya tindak kekerasan bisa melaporkan ke P2TP2A Kota Dumai. ''Tetangga pun bisa melaporkan, tapi sekarang ini masalahnya banyak yang takut melapor, padahal dengan melapor ke kita, kita bisa memberikan bantuan untuk mencarikan jalan keluar,'' lanjutnya.

Tak hanya itu, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa kaum perempuan dan anak, yang terjadi dalam rumah tangga, masih sering terjadi, tapi sekarang para korbannya jangan takut dan malu untuk melaporkan, sehingga hal ini tidak akan terus berlanjut. 

"KDRT sejak dulu sampai sekarang masih sering terjadi, namun hal itu sering tidak diketahui publik, karena masih ada masyarakat yang beranggapan, kisruh dalam rumah tangga ‘tabu’ diketahui para tetangga di sekitar lingkungan tempat tinggal," kata Haslinar.

"P2TP2A Kota Dumai siap melayani laporan masyarakat, jika menjadi korban kekerasan orang tua maupun suami," kata isteri orang nomor satu di Kota Pelabuhan dan Industri ini. 

Haslinar mengungkapkan kerisauan dengan peningkatan kasus perempuan dan anak di Kota Dumai. Dia minta masalah tersebut bisa disampaikan pada acara coffe morning Forkompimda yang dihelat 3 bulan sekali. Disamping itu, sosialisasi perlindungan perempuan dan anak harus gencar.
   
''Langkah konkrit P2TP2A saat ini bagaimana membuka kesadaran semua pihak untuk bersama-sama meminimalisir angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Saya sangat kawatir bila angkanya terus bertambah, mari secepat mungkin kita melakukan penanganan,'' bebernya.

Sekarang P2TP2A Kota Dumai sudah menangani banyak kasus denga beragam jenisnya. Kebanyakan kasus itu dilaporkan langsung oleh warga masyarakat yang terlibat atau yang hanya bertindak sebagi pelapor. 

"Selain KDRT kasus yang ditangani adalah pelecehan seksual pada perempuan atau pada anak, penelantaran anak, traffiking dan anak yang bermasalah dengan hukum," jelasnya.

Layanan yang diberikan tidak hanya sebatas konseling psikologis dan spiritual, melainkan juga mediasi sebagai upaya menyelesaikan masalah KDRT secara kekeluargaan. 

Namun apabila kasusnya sudah terlanjur masuk ke ranah hukum dan ditangani kepolisian atau kejaksaan dan bahkan Pengadilan, P2TP2A juga bisa memberikan pelayanan pendampingan hukum bagi korban atau keluarga korban. Juga pendampingan jika perlu berurusan dengan rumah sakit.

Layanan lain diberikan dalam bentuk terapi psikologis bagi korban yang dinilai memerlukan dan pemberdayaan untuk klien yang dinilai sudah selesai proses penangannan kasusnya. Dilanjutkan dengan pemantauan, untuk memastikan kehidupan klien sudah berangsur membaik.

Sedangkan untuk klien yang masih memerlukan perlindungan, lembaga ini juga menyediakan shelter. Dalam kasus-kasus tertentu dengan korban yang dipandang perlu dilindungi atau meminta perlindungan, lembaga ini menyediakan tempat aman sementara.

Untuk menyelenggarakan semua pelayanan tersebut, P2TP2A Kota Dumai saat ini hanya didukung oleh keberadaan seorang konselor, seorang sajarna psikolog. Untuk kasus berat dikonsultasikan ke Piskolog Anak di Pekanbaru. "Dumai sampai dengan saat ini belum memiliki Piskolog Anak. Sejauh ini kami bersyukur karena Pemerintah Kota Dumai terus memberikan dukungan," katanya.

Menurutnya, semua dukungan itu adalah modal yang mereka butuhkan untuk terus berusaha melayani para korban kekerasan. Semua yang bergabung dalam P2TP2A Kota Dumai telah memiliki tekad untuk terus membantu para korban memperoleh kembali martabat yang telah dirusak dan meraih kembali hak mereka untuk menikmati hidup tenang.

Apalagi pada kenyataannya, di dalam kehidupan masyarakat saat ini kasus kekerasan cenderung terus meningkat. Terutama kasus kekerasan seksual pada anak. Baik kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak maupun yang dilakukan oleh anak pada anak.  

“Jumlah kasus ini telah menggeser jumlah kasus KDRT. Ini fenomena yang dahsyat,” ungkapnya yang akhirnya mengajak siapapun para orangtua, untuk lebih melindungi anak-anak dari bahaya pornografi dan pornoaksi.

Pengalaman menunjukan, kelalaian semua pihak atas merebaknya pornografi dan pornoaksi di tengah kehidupan keluarga dan masyarakat, telah mengakibatkan begitu banyak anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Tentu diharapkan, jangan sampai P2TP2A di Kota Dumai terus disibukan oleh maraknya kasus-kasus ini.

Disisi lain, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Dumai (PPPA) Dameria, mengungkapkan keprihatinan terhadap angka kasus perempuan dan anak yang meningkat dari tahun ke tahun. Permasalahan pada perempuan dan anak sangat kompleks, sehingga harus melibatkan seluruh stakeholders dalam menanganinya.
  
''Persoalan ini tanggung jawab kita semua, bukan saja Dinas PPPA dan P2TP2A. Apalagi letak Dumai sangat strategis maka kita melakukan pemetaan daerah rawan yang belum tersentuh dan kita sosialisasikan. Sosialisasi harus kita gencarkan sampai keseluruh lapisan. Kita segera laksanakan rapat kerja membahas trend yang terus meningkat,'' ujarnya.

Menurutnya, bisa jadi jumlah sesungguhnya lebih besar, karena diperkirakan banyak kasus yang tidak dilaporkan. Fenomena ini memang ibarat gunung es. Tampak kecil di permukaan, padahal besar di bawahnya. Hal itu bisa terjadi karena kasus yang tergolong sebagai bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) tersebut adalah kasus yang kerap berulang.

Berapapun jumlahnya, apalagi jika terus bertambah, kasus-kasus itu tentu patut menjadi keprihatinan semua pihak. Sebab sesungguhnya hal ini bukan semata-mata soal angka atau jumlah yang semakin membesar. Tetapi ini adalah perihal kemanusiaan, perihal martabat manusia yang direndahkan serta nasib dan masa depan kelangsungsan hidup seseorang.

"Bisa saja seseorang itu adalah tetangga, teman, kerabat dekat atau bahkan keluarga sendiri. Jadi sedikit apapun jumlah kasus kekerasan pada anak maupun pada perempuan, hal itu sepatutnya perlu menjadi kepedulian semua pihak untuk mengatasinya," ungkapnya. 

(Advertorial)

SEKRETARIAT P2TP2A KOTA DUMAI

Jalan Janur Kuning Exs. Puskesmas Jaya Muti, Kecamatan Dumai Timur
Telepon : 082174460123
Line Call Center : 082174460123

Tags DPPPA DumaiP2TP2A Kota DumaiPemko Dumai
Komentar