• Home
  • Kesehatan
  • Direktur RSUD Meranti Membantah Dokter Spesialis Banyak Keluar

Direktur RSUD Meranti Membantah Dokter Spesialis Banyak Keluar

Rabu, 29 Juni 2016 13:41 WIB
MERANTI - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti membantah informasi yang menyatakan bahwa ramai dokter spesialis meninggalkan Kota Sagu.

Berita tersebut dianggap tidak tepat dan sumbernya tidak jelas karena sesungguhnya tidak ada esksodus dokter spesialis dari RSUD Selatpanjang, Kepulauan Meranti.
 
Bantahan tersebut secara khusus disampaikan Direktur RSUD drg Ruswita didampingi Kepala Bagian Humas Setdakab Kepulauan Meranti Ery Suhairi, kepada media. 

"Berita ini betul-betul mengagetkan kami karena kondisi sesungguhnya tidak demikian. Jadi informasi yang berkembang itu sangatlah tidak benar," ungkap Ruswita, Selasa (28/6).
 
Ruswita mengaku sudah melakukan rapat dengan para dokter spesialis dan staf RSUD. Hasilnya tidak satupun menyatakan memberikan informasi demikian.
 
"Saat ini saja kita memiliki 12 dokter spesialis dan bulan Juli nanti akan datang lagi dua spesialis. Perlu saya sampaikan bahwa banyak dokter spesialis berminat bertugas di Meranti, bahkan ada lamaran dari dokter bedah plastik. Tapi tentu kita sesuaikan dulu dengan fasilitas yang kita miliki," jelasnya.
 
Menurutnya, perhatian Pemkab terhadap RSUD terutama dokter spesialis sangat besar. Sejak tahun 2014 insentif dokter spesialis dinaikkan dari Rp25 juta menjadi Rp35 juta per bulan. Jumlah tersebut merupakan salah satu yang tertinggi di Provinsi Riau.
 
Selain itu para dokter spesialis juga mendapatkan tambahan pendapatan dari jasa pelayanan. Namun tidak setiap bulan diberikan karena disesuaikan dengan pembayaran dari BPJS dan Jamkesda.
 
"Kita juga menyediakan mess di lantai tiga RSUD. Untuk mess dibawah diperuntukkan bagi dokter PNS dan kita sudah mengusulkan penambahan mess baru dimana detail engineering design (DED) sudah selesai dibuat. Ini terkait kenaikan kelas RSUD dari D ke C," tambah Ruswita.
 
Bahkan para dokter yang akan bertugas di Meranti sudah terlebih dahulu diinformasikan mengenai tempat tinggal dan fasilitas yang akan mereka dapat. Selama ini tidak ada yang keberatan. 

Bahkan bagi dokter spesialis paru yang diberitakan keberatan dengan kondisi mess diakui Ruswita sudah ditanyakan. Malah yang bersangkutan berterima kasih karena saat keluarganya datang bisa menggunakan ruangan mes lainnya.
 
"Hubungan kita dengan para dokter sangat baik. Komunikasi kita cukup baik. Kalau ada keterlambatan pembayaran insentif selalu kita informasikan. Namun untuk spesialis yang THL jarang terjadi keterlambatan karena gaji mereka dari APBD, kecuali dokter PNS yang digaji dari APBN dimana sekarang mengalami keterlambatan," urai Ruswita.
 
Menyangkut dokter spesialis paru yang disebut bertugas sejak tahun 2013 sudah meninggalkan RSUD, disebut Ruswita adalah informasi yang tidak benar. Justru dokter spesialis paru itu baru mulai bertugas April 2015 dengan masa kontrak hingga Desember 2015.
 
"Memang kontraknya sudah habis tahun lalu dimana karena alasan keluarga yang bersangkutan tidak mengajukan permohonan perpanjangan kontrak," imbuh Ruswita.
 
Sedangkan dokter spesilias bedah memang akan berakhir kontraknya per Juni tahun ini. Hal ini memang kontrak yang bersangkutan hanya dua bulan. 

Sedangkan untuk dokter spesialis kandungan masih berjalan kontraknya hingga akhir tahun ini dan belum ada yang mengajukan permohonan untuk tidak memperpanjang kontraknya. Demikian juga dokter anak.
 
"Bahkan saat ini sudah ada spesialis yang bermohon memperpanjang kontraknya. Kita juga selalu lebih dahulu mencari spesialis pengganti bila dokter spesialis yang ada menyatakan tidak memperpanjang kontraknya. Bulan Juli ini kita akan kedatangan dua spesialis lagi yakni spesialis bedah dan rehab medik. Kita selalu mengusahakan agar tidak terjadi kekosongan spesialis," tegas Ruswita.
 
Dia juga menegaskan mohon dukungan seluruh elemen masyarakat agar RSUD bisa terus meningkatkan pelayanan. Saat ini terdapat 12 dokter spesialis utama di RSUD yakni spesialis kebidanan dan kandungan sebanyak 3 orang, spesialis penyakit dalam (internis) 2 orang, spesialis anak 2 orang, spesialis bedah 1 orang, spesialis anastesi 2 orang, patologi klinik 1 orang, dan rehab medik 1 orang.
 
"Rencananya Agustus akan ada penambahan spesialis radiologi," tambah dia.
 
Sedangkan dokter umum terdapat 20 orang yang terdiri dari dokter PNS dan PTT. Jumlah ini masih ditambah 14 dokter umum internship yang ditugaskan Kementerian Kesehatan. Khusus dokter ini masa tugasnya satu tahun.
 
Ruswita mengharapkan dukungan seluruh masyarakat terutama pihak media untuk memberikan informasi yang benar dan berimbang tentang pelayanan di RSUD. Hal ini dikarena RSUD adalah lembaga pelayanan yang sangat dibutuhkan masyarakat.
 
"RSUD ini kebutuhan kita bersama. Jika kita tidak menjaganya dengan baik dan benar siapa lagi," harap dia.

(rdk/rls)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags
Komentar