• Home
  • Lingkungan
  • BRG Tuntaskan Konflik Masyarakat dengan Perusahaan di Meranti

BRG Tuntaskan Konflik Masyarakat dengan Perusahaan di Meranti

Rabu, 13 April 2016 18:20 WIB
MERANTI - Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia merencanakan berbagai program agar lahan gambut memberikan manfaat bagi masyarakat di Kepulauan Meranti. Program itu akan dimulai dengan penyelesaian konflik lahan antara Masyarakat dan Perusahaan.

Seperti diungkapkan Kepala Badan Restorasi (BRG) RI, Nazir Fuad, agar keberadaan lahan gambut di Kabupaten Kepulauan Meranti bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat, khususnya para petani.

"Program restorasi gambut selain bertujuan untuk melestarikan gambut juga harus mampu memberikan profit sebesar-besarnya untuk masyarakat khususnya petani," ujarnya, saat kenduri aksi Restorasi Gambut Nasional yang dipusatkan di Sungai Tohor, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Selasa.

Lahan gambut di Kabupaten Kepulauan Meranti diakui Nazir Fuad memiliki karakteristik dan keunikan dibandingkan daerah lainnya, terbukti diawal kepemimpinan Presiden Jokowi sangat antusias mengunjungi daerah ini, hal itu pula yang membuat BRG menjadikannya sebagai daerah prioritas.

"Kondisi gambut dan keberhasilan Pemda Kepulauan Meranti melibatkan peran masyarakat dalam mengantisipasi bencana ekologi lewat perkebunan khususnya Sagu, kami nilai mampu memberikan dampak ekonomi besar," ucapnya.

Untuk mempertegas itu, lanjutnya, Perpres Nomor 1 Tahun 2016 telah menjadikan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai prioritas BRG dari 7 Kabupaten lainnya yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.

"Hal itu karena daerah ini berhasil melaksanakan restorasi dengan melibatkan masyarakat dan berhasil mengangkat ekonomi kerakyatan," ujar Nazir Fuad dalam sambutannya.

Salah satu program yang menarik adalah perkebunan Sagu masyarakat dilahan gambut yang mampu memberikan dampak ekonomi besar bagi masyarakat, tercatat kebun Sagu seluas 43 Ribu hektar ditanam diatas gambut dengan jumlah total 318 Ribu Hektar.

"Kedepan BRG akan berupaya memberdayakan potensi Sagu tersebut dengan mendirikan pabrik pengolahan yang lebih banyak, menciptakan peluang pasar sehingga perkebunan Sagu Meranti terus tumbuh dan menjadi percontohan perkebunan dan Industri Sagu di Indonesia," harapnya.

Nazir Fuad juga berjanji akan membantu petani sagu Kepulauan Meranti untuk memperoleh modal yang tepat dan pasar yang luas, namun sebelum itu dilakukan, pertama sekali BRG akan menyelesaikan konflik lahan yang masih terjadi antara masyarakat dengan perusahaan pemegang HPH.

Pada kesempatan itu Kepala BRG RI dan rombongan juga membuka dialog dengan masyarakat setempat dengan tema "Pulihkan Gambut Negeri" untuk mendengarkan langsung berbagai masalah lahan Gambut yang dihadapi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti.

Adapun yang menjadi aspirasi masyarakat seperti diutarakan Camat Rangsang Mulyadi, meminta bantuan dana APBD Riau dan APBN untuk memecah ombak mengantisipasi abrasi minimal Rp 500 Miliar pertahun, selain itu juga pembangunan sekat kanal.

Aktifis lingkungan Abdul Manan meminta BRG mengharamkan tanaman sawit dan akasia dilahan gambut yang dinilai sebagai penyebab bencana asap, pembinaan pengelolaan sagu dan lainnya.

Sekedar informasi, lahan gambut yang akan direstorasi di wilayah Sungai Tohor Kecamatan Tebingtinggi Timur seluas 10.300 hektar. Untuk tahap awal dilokasi tersebut akan dilakukan pembibitan anak pohon kayu alam lokal dan Sagu serta membangun Sekat Kanal.

(adv/hum/fan)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags
Komentar