- Home
- Lingkungan
- Enam Pondok Petani Batangkumu Dibakar PT MAI
Enam Pondok Petani Batangkumu Dibakar PT MAI
Senin, 30 September 2013 20:34 WIB
ROHUL, RIAUHEADLINE.COM- Sedikitnya 6 pondok milik petani dari Desa Batangkumu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, berada di areal perbatasan provinsi Riau-Sumatera Utara (Sumut) dilaporkan dibakar pihak PT Mazuma Agro Indonesia (MAI), Senin siang (30/9/2013). Dampak aksi pembakaran menyebabkan situasi di tapal batas dua provinsi semakin tidak kondusif.
Menurut sejumlah warga Batangkumu, peristiwa pembakaran enam pondok petani dilakukan karyawan PT MAI terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Dampak aksi pembakaran, hampir ratusan petani turun ke perbatasan Riau-Sumut yang statusnya masih kawasan hutan produksi (HP) dan hutan lindung Mahato.
Sebagai aksi balasan, petani membakar satu pondok kecil milik PT MAI yang berada di areal perbatasan Riau-Sumut. "Tadi nyaris bentrok. Warga membakar satu pondok karena emosi kepada perusahaan sudah membakar enam rumah mereka (pondok)," kata Martin, salah seorang warga Batangkumu yang ikut ke TKP, Senin sore.
Kepala Polres Rohul AKBP H. Onny Trimurti Nugroho, melalui Kapolsek Tambusai AKP Remil Simamora, membenarkan aksi kerusuhan di tapal batas antara Provinsi Riau-Sumut. "Mereka hampir bentrok tadi, tapi tidak melebar karena kita tiba tepat waktu di lokasi sekitar jam dua siang tadi. Kita masih di jalan pulang sekarang, warga juga sudah kita suruh pulang," jelas AKP Remil kepada riauterkinicom di ujung telepon, Senin petang.
Menurut Kapolsek Tambusai, konflik antara petani Batangkumu dengan PT MAI sudah sering terjadi. Biasanya, keributan dipicu saat perusahaan menurunkan alat beratnya ke areal perbatasan.
"Mereka saling tak sabar karena lambatnya penyelesaian tapal batas dilakukan pemerintah. Memang terus-terusan seperti ini, terutama saat alat berat perusahaan masuk ke lokasi pasti terjadi kerusuhan seperti ini," ungkap AKP Remil.
Kapolsek Tambusai mengakui pada keributan di tapal batas Riau-Sumut siang tadi, PT MAI mengerahkan ratusan karyawan bersenjata tajam (alat kerja) yang didominasi warga asal Nias, Sumut. Polisi sendiri tidak bisa bertindak tegas karena keterbatasan personel.***(zal)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

