Karhulta di Buruk Bakul Bengkalis Meluas

Kamis, 12 Februari 2015 18:03 WIB
BENGKALIS - Meski Pemerintah Kabupaten Bengkalis dibantu perusahaan dan kepolisian telah berusaha maksimal, namun kebakaran hutan dan lahan di Desa Buruk Bakul, Kecamatan Bukitbatu saat ini sulit dikendalikan dan terus meluas. Perkembangan terakhir hingga Kamis (12/2) sore, sudah ratusan hektar hutan dan lahan yang terbakar.

Kebakaran diprediksi akan terus meluas mengingat kondisi udara yang panas terik ditambah oleh kondisi eks lahan perusahaan banyak kayu yang sudah ditebang atau mati sehingga dengan mudah terbakar.

"Pembatas yang kita buat dua hari lalu menggunakan alat berat, sudah dilewati api. Kita perkirakan luas lahan yang terbakar di Buruk Bakul ini sudah lebih 100 hektar," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-Damkar) Kabupaten Bengkalis, Moch Jalal, Kamis (12/2).

Mengingat api semakin sulit dikendalikan, tambah Jalal, maka Bupati Bengkalis sejak Rabu kemarin menyatakan Darurat Karhutla. Untuk itu pihaknya saat ini sedang menyiapkan Posko Terpadu yang nantinya akan ada komando untuk penanganan karhutla ini. 

"Pihak Provinsi telah meminta data kepada kita terkait kondisi terakhir luas lahan yang terbakar di Kabupaten Bengkalis untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya," ujar Jalal.

Selain di Buruk Bakul, tambah Jalal, kebakaran besar juga terjadi di Desa Sungai Linau dan Sumber Jaya.  Kebakaran di dua wilayah tersebut juga terjadi di lahan eks perusahaan yang arealnya cukup luas. 

Sementara akses menuju lokasi cukup sulit sehingga regu pemadam tidak mampu berbuat banyak. Kebakaran juga terjadi di  Kecamatan Rupat, tepatnya di Desa Terkul dan Pergam. Sementara di Rupat Utara terjadi di Hutan Samak.

"Untuk Pulau Sumatera, 3 titik tersebut yang cukup besar areal yang terbakar. Kemudian di Pulau Rupat. Untuk Pulau Rupat, kita tidak terlalu khawatir karena masih bisa dikendalikan dan lahan yang terbakar tidak terlalu luas," ujarnya.

Terpisah, Bupati Bengkalis H Herliyan Saleh mengatakan, kebakaran yang terjadi di Kabupaten Bengkalis selain karena unsur kesengajaan masyarakat tertentu, juga didukung faktor kemarau yang berkepanjangan dan angin kuat.

"Memang ada masyarakat tertentu yang sengaja membakar lahan, namun faktor kemarau yang berkepanjangan serta tiupan angin kencang juga menjadi faktor pemicu. Heran juga saya, di tempat lain hujan tapi di Bengkalis sudah lebih sebulan ini terjadi kemarau," ujar Herliyan ditemui usai menghadiri acara pelepasan magang mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Bengkalis.

Dengan peningkatan status Bengkalis Darurat  Karhutla, Pemkab Bengkalis bersama seluruh pihak terkait mulai aparat keamanan, perusahaan hingga lapisan masyarakat bekerja maksimal mengerahkan seluruh kekuatan untuk melakukan upaya pemadaman. Pihaknya pun terus melaporkan setiap perkembangan yang terjadi di lapangan ke provinsi dan juga pusat.

"Seluruh resources di lapangan kita kerahkan dan kita melaporkan ke propinsi dan nasional bahwa memang situasi di tempat kita, cuaca kita sangat ekstrim sekali," katanya.
 
Water Bombing

Untuk menahan laju api, meski tidak terlalu efektik, PT Sinarmas Forestry tetap menurunkan 1 unit helikopter water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran lahan di Desa Buruk Bakul. Terlihat di lapangan, helikopter yang dipiloti Kapten Vino melakukan beberapa kali bom air pada lokasi kebakaran yang diduga ex PT Pan United.

Juru bicara dan Public Relations Sinarmas Forestry Wilayah Riau, NurulHuda, ketika dihubungi media menjelaskan, water bombing menggunakan heli ini untuk mendukung pemadaman ground (darat) yang dilakukan Regu Pemadam Kebakaran Sinarmas dan  PT Sakato Pratama Makmur bersama Tim BPBD-Damkar Bengkalis di bawah kendali Kapolres Bengkalis. 

Selain Regu Pemadam Kebakaran berjumlah 65 orang, perusahaan juga membantu 2 alat berat untuk membuat sekat api dan enam unit pompa Tohatsu serta nozle.Kendati upaya pemadaman melalui udara sudah dilakukan, namun sulitnya medan, diantaranya masih terdapatnya kayu yang menjulang tinggi serta jauhnya sumber air, menyulitkan helikopter melakukan manuver pemadaman.  

"Namun paling tidak heli telah berusaha membantu mendinginkan areal agar petugas ground dapat masuk memadamkan api," ujar Nurul.

Berdasarkan pantauan dari udara, jika kondisi cuaca tidak turun hujan beberapa hari ke depan, ditambah dengan udara kering dan tiupan angin, diprediksikan kebakaran akan semangkin meluas karena di beberapa tempat yang berjarak 600 sampai dengan 1.000 meter dari pusat api saat ini, sudah mulai timbul titik api kecil-kecil "api loncat" yang telah membakar perkebunan sawit di sebelahnya.

(der/der/mcr)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar