• Home
  • Lingkungan
  • Karhutla di Kepulauan Meranti Ancam Ekonomi Masyarakat

Karhutla di Kepulauan Meranti Ancam Ekonomi Masyarakat

Minggu, 02 Maret 2014 18:05 WIB

SELATPANJANG - Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten diminta bergerak cepat menanggulangi karhulta di Meranti. Pasalnya, hampir sebagian besar lahan yang terbakar merupakan kebun sagu dan karet masyarakat, dan merupakan sumber penghasilan satu-satunya. 

Bencana Karhutla yang terjadi diwilayah Kepulauan Meranti, tak kunjung selesai. Akibat bencana ini juga, ekonomi masyarakat di kabupaten yang terkenal dengan potensi sagu terbaik dunia ini, juga terancam merosot. Pasalnya, ribuan hektar lahan yang terbakar tersebut didominasi perkebunan milik masyarakat .

"Bencana ini sangat mengancam ekonomi masyarakat. Makanya Pemerintah, khususnya Pemerintah Pusat, harus segera mengambil langkah tegas dalam menurunkan bantuan. Dampak kebakaran ini dapat menyebabkan bertambahnya kemiskinan masyarakat," ungkap Ketua Forum Masyarakat Meranti Bersatu (FM2B) Zulkhairil, Ahad (2/3/2014).

Seperti karhutla yang terjadi di Kecamatan Rangsang Barat, Kata Zulkhairi, rata-rata didominasi perkebunan karet dan sagu milik masyarakat.

"Sementara masyarakat yang lahan perkebunannya terbakar, banyak menggantungkan hidupnya hanya di perkebunan itu. Makanya jika seluruh lahan masyarakat terbakar, tentunya sama saja mata pencaharian dan penghasilan masyarakat tersebut akan hilang," tambahnya.

Zulkhairil mengungkapkan, dalam mengatasi kebakaran tersebut, keterbatasan sumber air menjadi kendala. Ditambah lagi dengan musim kemarau saat ini.

"Tidak sedikit masyarakat yang menangis akibat lahannya habis terbakar. Karena mata pencaharian masyarakat tersebut sudah tidak ada. Api terus saja membakar, air sulit didapat. Jangankan mencari air untuk memadamkan api, mencari air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit," jelasnya.

"Hujan buatan harus diturunkan segera, agar kemiskinan masyarakat di Meranti tidak bertambah banyak. Kami mau adanya upaya cepat, tepat dan tegas dari Pemerintah. Jangan hanya diskusi dan strategi pemadaman saja dilakukan, tapi diiringi tindakan nyata yang ditunggu masyarakat dengan hujan buatan," harapnya.

Senada dengan FM2B, Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Masyarakat Desa (LSM Perades) juga meminta Pemerintah Pusat segera turunkan hujan buatan. Pasalnya masyarakat sudah sangat resah dan stress dengan kebakaran yang terjadi, khususnya di wilayah Kecamatan Merbau.

"Sekitar 90 hektar lebih lahan perkebunan karet dan sagu di Pulau Merbau sudah habis terbakar. Masyarakat pemilik kebun sudah menangis dan stress. Kebun yang menopang hidup mereka selama ini sudah habis terbakar. Bahkan masyarakat di desa sudah jarang ditemukan, sebab semuanya berada di lahan perkebunan untuk memadamkan api," kata Ketua LSM Perades, Guntur Musa kepada wartawan.

Disebutkan Guntur lagi bahwa masyarakat sangat sulit sekai mencari air dalam upaya memadamkan api. Makanya hujan buatan menjadi solusi terbaik saat ini.***(rud)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Lingkungan
Komentar