• Home
  • Lingkungan
  • Pemkab Meranti Sebut Ada 4.000 Haktera Lahan Pertanian Tanaman Padi

Pemkab Meranti Sebut Ada 4.000 Haktera Lahan Pertanian Tanaman Padi

Syawal Jumat, 13 Oktober 2017 16:51 WIB
MERANTI - Semua pihak mulai dari PPL, Gapoktan dan juga Babinsa diminta agar mengejar pelaksanaan Lahan Tambah Tanam (LTT), termasuk di dalamnya lahan cetak sawah baru hingga yang dibuka tahun 2017.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Tanaman Pangan Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Jaka Insita SP, didampingi Danramil 02 Tebingtinggi.

Ada sekitar 4.000 hektare lahan pertanian tanaman padi di Meranti saat ini harus dilakukan penanaman. Tidak ada lahan yang tidak tertanam sehingga tahun 2018 mendatang, Meranti akan membukukan peningkatan produksi gabah yang membanggakan.

Tugas bapak dan ibu di lapangan mengupayakan bagaimana penanaman bibit terlaksana dengan baik. Persolan adanya hama dan gangguan teknis lainnya itu menjadi permasalahan pihak dinas dan instansi terkait lainnya.

Lahan yang sudah dibuka, mulai dari tahun 2016 lalu, dan juga cetak sawah baru 2017 ini, harus segera ditanami. Bahkan lahan di luar CBS juga harus tertanaman dengan maksimal," pinta Kadis Tanaman Pangan Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kepulauan Meranti, Jaka Insita SP, didamping Danramil  02 Tebingtinggi Mayor (Arm) B. Tambunan, SE di kantor Danramil Selatpanjang Kamis (12/10/2017).

Rapat koordinasi yang dihadiri oleh seluruh ketua Gapoktan se Kepulauan Meranti itu, juga dihadiri para PPL maupun Babinsa dari seluruh desa lokasi cetak sawah baru.

Dari pengakuan para Gapoktan umumnya mengeluhkan kurang atau minimnya sarana infrastruktur dasar pertanian. Bahkan sebagian sarana dan prasarana tersebut mengalami kerusakan. 

Seperti jebolnya tanggul di Desa Melai, yang akhirnya  tidak bisa menghambat air laut menerobos ke lahan pertanian tanaman padi yang sudah ditanami itu.

Akibatnya tentu saja tanaman tersebut berangsur-angsur mati. Demikian juga keluhan para gapoktan lainnya. Seperti di Desa Lukun Kecamatan Tebingtinggi Timur, dimana lokasi lahan cetak sawah baru tersebut saat ini tergenang air asin.

Hal ini menjadi alasan petani di desa tersebut untuk tidak melakukan penanaman. Bahkan sebagian anggota kelompok tani hingga saat ini enggan menerima bantuan bibi,"ungkap para gapoktan.

Jaka Insita dalam penjelasannya didampingi Sekretaris Asrul, dan Kabid Tanaman Pangan Syafril  maupun Herman selaku Kasie PPL menyebutkan, persaolan infrastruktur yang terjadi saat ini itu menjadi kendala utama dalam pelaksanaan pertanian di Meranti. 

"Kami juga sudah berulang kali mengusulkan hal tersebut kepada instansi teknis yakni Dinas PUPR. Sebab untuk membangun infrastruktur pertanian konstruksi skala besar harus dilakukan nstansi teknsi tersebut," katanya. 

"Tapi sejauh ini tampaknya memang belum berhasil terwujud. Namun kami akan terus mengupayakan sehingga kendala infrastruktur dasar pertanian tersebut secara bertahab akan kita atasi," kata Jaka.

Kepada PPL dan Gapoktan Jaka memerintahkan agar memberikan laporan rutin setiap hari ke dinas. Dan harus bisa memberikan gambaran umum apa yang terjadi di masing-masing desanya. 

PPL juga harus proaktif bekerja sama dengan Gapoktan sehingga permasalahan atau kendala sekecil apapun dilapangan sesegra mungkin dapat diberitahukan ke kabupaten. 

"Ini harus diindahkan, sehingga dari data lapangan akan bisa diambil kebijakan guna mengatasi berbagai persoalan yang timbul,”tegas Kadis.

Hal senada juga disampaikan Danramil 02 Tebingtinggi Mayor Arm B. Tambunan SE, kepada Babinsa yang ada di desa agar terus melakukan koordinasi dengan PPL maupun Gapoktan. 

"Termasuk pengawalan berbagai bantuan pemerintah mulai dari bibit, pupuk dan juga peralatan pertanian harus tepat sasaran. Dengan demikian sasaran yang akan kita capai yakni swasembada beras dimasa-datang bisa secepatnya terwujud,” tambah Bismi.

(wal/mcr)
Tags Pemkab MerantiPetaniPetani Padi
Komentar