Hasil Panen Belum Maksimal,
Pemkab Kampar Tetap Semangat Tanam Bawang
Kamis, 02 Januari 2014 20:12 WIB
KAMPAR - Kalau saja Siswanto 54 tahun bisa lebih serius lagi mengurusi tanaman bawang merah varietas Bima di lahan sekitar satu hektar itu, bisa jadi hasil yang bakal didulang warga Desa Kayu Jangkar Sungai Potai Kecamatan Kampar Kiri Hilir ini akan sama dengan hasil panen bawang merah pilot project Desa Sei Geringging Kecamatan Kampar Kiri.
“Mestinya rumput ini nggak dibiarkan membesar dulu baru dibersihkan. Terus drainasenya juga kan sudah musti diperhitungkan dari awal. Coba Pak Sis lebih serius lagi, lah. Berdayakan warga di sini untuk merawat tanaman ini,” pinta Jefry Noer sembari memanen bawang merah yang ada di lahan itu Kamis (2/1/13).
Menurut Jefry, tanaman bawang merah milik Siswanto itu kualitasnya bagus. Buktinya, satu bibit masih bisa menghasilkan hingga 12 siung bawang merah. “Kalau perawatannya benar, hasilnya akan seperti ini semua,” ujar Jefry. Wajah lelaki 50 tahun ini nampak kecewa.
Setelah memanen bawang merah di hamparan bagian depan, Jefry kemudian berjalan menuju bawang merah yang baru berumur 31 hari. Luasannya sekitar separuh dari total luas lahan itu. “Lihat nih Pak Sis, daunnya menguning. Ini lantaran kurang dirawat. Cobalah lebih serius lagi ya. Biar ke depan hasilnya lebih baik lagi,” pinta Jefry.
Jefry yang sedang menjalani puasa Kamis itu tak segan-segan membuang tenaga di sana. Dia cabuti sejumlah rumput yang tumbuh diantara bawang merah itu. Kadis Pertanian dan Peternakan Cokroaminoto, Kabid Tanaman Pangan dan Hortukultura Hendri Dunan serta Camat Tapung Hilir Mulatua, segera nimbrung.
Keringat mulai membanjiri kening, Jefry menghentikan aktivitasnya. “Saya minta total hasil tanaman bawang merah ini dibikin datanya. Lantas bawang merah yang bagus jangan dijual. Biar kita jadikan bibit. Bawang merah yang masih bisa diselamatkan, tolong diselamatkan. Tempatkan satu petugas teknis di sini, supaya bisa langsung berinteraksi dengan petani,” pinta Jefry kepada Cokroaminoto.
Dua bulan lalu, Siswanto menanami lahan tadi. Dia adalah satu-satunya petani yang segera menanam bawang merah hampir satu hektar pasca pilot project bawang merah Desa Sei Geringging. Tapi sayang, Siswanto musti berjibaku melawan cuaca yang ekstrim.
Pernah tanaman bawangnya itu diguyur hujan hingga tergenang. Meski tergenang sebentar, luapan air itu ternyata langsung berdampak. Dedaunan bawang merah yang tadinya menghijau, spontan berubah warna.
“Saya juga kewalahan untuk menangani gulma yang tumbuh subur. Tapi untuk awal-awal ini tak apalah. Ini menjadi pengalaman berharga bagi saya. Sebab saya sudah tahu kekurangan apa saja yang musti saya benahi untuk tanaman berikutnya,” kata Siswanto dengan wajah bersemangat.
Kadis Pertanian dan Peternakan Cokroaminoto mengaku tak akan tinggal diam dengan masalah yang dihadapi Siswanto. Tanaman bawang merah itu akan terus diawasi. “Dan kami juga akan tata lagi. Biar di siklus tanaman kedua, hasil yang didapat Siswanto bisa lebih bagus,” katanya.
Meski tanaman pertama milik Siswanto belum berhasil maksimal, tak membikin niat sejumlah warga lain untuk memilih bawang merah sebagai sumber penghidupan baru. Kekurangan dan kendala yang dialami oleh Siswanto justru menjadi pengalaman berharga bagi mereka, sebelum mereka benar-benar terjun menjadi petani bawang merah yang sebenarnya.***(man)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Hukrim
Kasat Reskrim Polres Siak Tinjau Korban Percobaan Pencurian di Kampung Dosan
-
Sosial
Bupati Siak Afni Dorong Penyelesaian Konflik HGU di Jakarta
-
Hukrim
Operasi Narkotika Diperketat di Bengkalis, Ratusan Pelaku Ditangkap
-
Hukrim
Kejari Bengkalis Musnahkan Barang Bukti 110 Perkara Inkracht
-
Lingkungan
Rumah Kompos Pekanbaru Dorong Pengurangan Sampah TPA Muara Fajar
-
Politik
DPRD Pekanbaru Desak Prioritas Drainase 2026

