• Home
  • Nasional
  • Budi Waseso Kepala BNN, Anang Iskandar Kabareskrim

Budi Waseso Kepala BNN, Anang Iskandar Kabareskrim

Jumat, 04 September 2015 09:37 WIB
JAKARTA - Desas-desus pergantian Komjen Pol Budi Waseso dari Kabareskrim Mabes Polri yang selama ini santer terdengar di publik terkuak sudah setelah posisinya bakal digantikan Komjen Pol Anang.

Kepala BNN Komjen Pol Anang Iskandar dipastikan bertukar posisi dengan Kabareskrim Komjen Pol Budi Waseso alias Buwas. "Benar. Pak Anang akan bertukar posisi (dengan Buwas)," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, kepada awak media, Kamis (3/9/15) malam.

Kapolri Badrodin, tidak menjawab saat ditanya alasan Buwas akhirnya benar-benar dirotasi. Jenderal bintang empat itu juga tidak menjawab kapan serah terima jabatan itu bakal digelar.
Sebelumnya, ‎menurut sumber, supaya elegan, maka Buwas dipindah ke pos yang sama-sama bisa melakukan penindakan dan penegakan hukum.

"Maka nama Pak Anang muncul untuk menggantikan Pak Buwas. Berganti posisi untuk kebutuhan organisasi," kata seorang sumber di Mabes Polri. Anang adalah lulusan Akpol 1982, seangkatan dengan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti. Sedangkan Buwas lulusan Akpol 1984. 

Anang yang secara tipikal dikenal tenang dan kalem, pernah menjabat Kapolres Metro Jakarta Timur dan juga Kapolwiltabes Surabaya. Bintang satu di pundaknya semakin bersinar saat Anang menjabat Kapolda Jambi. Kemudian, bintangnya bertambah menjadi dua saat dia menjabat sebagai Kadiv Humas Polri.

Buwas sendiri sudah memberi sinyal jika dirinya bisa jadi akan dimutasi atau dirotasi. Dia menolak menggunakan istilah "pencopotan". "Tidak ada istilah pencopotan. Kalau toh ada, itu penggantian dan sifatnya adalah mutasi, cross area, untuk kepentingan personel Polri dan organisasi itu sendiri," kata Buwas yang mengaku ikhlas.

Di BNN, "gairah" Buwas untuk melakukan penegakan ‎hukum bisa tersalurkan. BNN berwenang melakukan penyelidikan dan penyidikan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang mana selama ini cukup meresahkan masyarakat Indonesia.

Berikut ini sepak terjang delapan Kabareskrim Komjen Budi Waseso alias Buwas menjadi sorotan pascapernyataan Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan yang mengatakan penegak hukum supaya tidak menimbulkan kegaduhan dalam menegakkan hukum.

Spekulasi pun merebak jika yang dimaksud Luhut adalah posisi Buwas. Itu karena jenderal bintang tiga ini memang tak kenal kompromi menyapu hampir seluruh kasus yang masuk ke kantornya. Beberapa kasus pun menimbulkan kontroversi di tangan Buwas. 

Seperti kasus pimpinan KPK non-aktif Abraham Samad dan Bambang Widjojanto, kasus penyidik KPK Novel Baswedan, dan kasus dua komisioner KY yang terkait Hakim Sarpin Rizaldy.
Lalu kasus-kasus korupsi besar yang menyangkut orang besar juga disikat Buwas. 

Sebut saja kasus TPPI-SKK Migas, kasus Pertamina Foundation, kasus Pelindo II, kasus High Speed Diesel, kasus cetak sawah fiktif, dan kasus stadion Gedebage. Lalu kasus-kasus yang menarik perhatian publik juga tak luput dari tangan dingin Buwas yang ibaratnya bekerja tanpa rem itu. 

Contohnya, kasus penimbunan sapi kendati dalam perkara ini belum ada tersangkanya. "Selama ini saya menolak diintervensi dan tidak ada yang mengintervensi. Salah sendiri orang itu gerah pada saya, yang gerah itu yang bikin salah, yang benar tidak bikin gerah," kata Buwas soal sepak terjangnya itu.

Buwas terpilih menggantikan Kabareskrim Suhardi Alius pada Januari lalu. Saat itu proses pergantian ini juga diwarnai bumbu kisah pengkhianatan dan fitnah di tengah pusaran batalnya Komjen Budi Gunawan jadi kapolri. Ceritanya, Suhardi, yang kini menjabat Sestama di Lemhanas itu, dituding tidak mampu melindungi Budi Gunawan dari jerat KPK.

Suhardi memang mengaku dekat dengan KPK dan PPATK. Tapi itu terkait pekerjaannya dan dia membantah telah berkhianat dan merasa difitnah. Sertijab dari Suhardi kepada Buwas bahkan sampai berlangsung tertutup dipimpin Plt Kapolri Komjen Badrodin Haiti.

Suhardi adalah kabareskrim yang dilantik pada Desember 2013. Suhardi saat itu menggantikan posisi Kabareskrim Komjen Sutarman yang kemudian dilantik menjadi kapolri. Sebelum Sutarman, pos kabareskrim diisi oleh Komjen Ito Sumardi yang kini menjabat sebagai dubes di Myanmar. 

Ito saat itu berhenti dari kabareskrim karena pensiun. Ito sendiri menggantikan Kabareskrim Komjen Susno Duadji yang dicopot di tengah jalan setelah ucapan kontroversialnya "cicak kok lawan buaya" untuk menggambarkan Polri dengan KPK.

Belakangan Susno bahkan digeret ke balik jeruji besi oleh institusinya sendiri. Susno saat itu ditangkap langsung oleh Buwas yang menjabat Kapus Paminal. Susno kemudian dijerat kasus korupsi PT Salmah Arowana Lestari dan korupsi dana pengamanan Pilkada Jawa Barat.

Susno menggantikan posisi kabareskrim sebelumnya yang diisi oleh Komjen Bambang Hendarso Danuri alias BHD. Bambang meninggalkan posisi kabareskrim karena dipromosikan sebagai kapolri. Sebelum BHD sebagai kabareskrim, posisi itu diisi Komjen Makbul Padmanagara yang kemudian dipromosikan menjadi wakapolri.

Makbul sendiri menjadi kabareskrim menggantikan Komjen Suyitno Landung yang dicopot oleh Kapolri Jenderal Sutanto. Belakangan Suyitno juga dijerat pidana oleh korpsnya sendiri dan dijadikan tersangka penyalahgunaan wewenang pada saat menangani kasus pembobolan Bank BNI dengan tersangka Adrian Waworuntu.

Itulah kisah delapan kabar‎eskrim terakhir. Dua orang berhasil menjadi kapolri dan dua orang berakhir di tahanan menjadi pesakitan. Lalu kemana kisah Buwas selanjutnya dan apa yang bakal terjadi berikutnya?

Sumber: beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags BNNBareskrim
Komentar