• Home
  • Opini
  • Hujan atau Terang, Valentino Rossi Tetap Cemerlang

Hujan atau Terang, Valentino Rossi Tetap Cemerlang

Jumat, 04 September 2015 09:11 WIB
Valentino Rossi menjuarai Grand Prix Inggris, 30 Agustus 2015. (MotoGP.com)
PEKAN Itu, ketika sebuah film tentang MotoGP dirilis dan naratornya Brad Pitt ikut hadir di Grand Prix Inggris, waktunya memang tepat bagi bintang box office balapan untuk naik ke bagian tengah podium.

Sirkuit Silverstone yang mendung, dingin dan becek tidak bisa dibuang demi gemerlap dan keglamoran Tinseltown (bahasa slang untuk Hollywood).

Namun ketika Pitt berusaha mengelak dari mikrofon dan serbuan para pemburu foto selfie, Rossi secara ahli juga mampu menghindari gelombang aspal dan genangan air Silverstone untuk memuluskan jalannya merebut kemenangan pertama di balapan hujan sejak Grand Prix Inggris di Donington Park musim 2005.

Maka cuaca musim panas khas Inggris yang "temperamental" sekali lagi mengubah kondisi klasemen musim 2015.

Kisah musim 2015 ini punya tema yang berulang. Rossi melebarkan jarak di puncak klasemen, dan sesama pembalap Movistar Yamaha Jorge Lorenzo merapat. Dan begitu lagi. Setelah tiga balapan perdana jarak terpaut 29 poin dengan keunggulan Rossi. Empat balapan kemudian tinggal menjadi 1 poin.

Lalu dua balapan kemudian Rossi kembali unggul 13 poin, dan ditambah dua balapan lagi mereka meninggalkan Brno dengan nilai sama di klasemen. Dan dari cara Lorenzo menguasai Republik Cheska, bahkan para pendukung Rossi garis keras pun terlihat gelisah,

Sekarang Rossi menyongsong balapan di kampung halaman tercinta di Misano dengan kembali unggul, yaitu 12 poin.

Tapi mari kita jujur di sini. Kalau saja alam tidak campur tangan, maka besar kemungkinannya Lorenzo akan mengalahkan Rossi di Silverstone.

Ini mungkin bukan observasi yang menyenangkan, namun apa boleh buat memang begitu. Bahkan Rossi sendiri mengakui hal tersebut.

Lorenzo dan Marc Marquez punya kelas sendiri dalam kondisi kering, dan kalau kondisi tetap kering maka akselerasi Rossi tidak cukup kencang untuk menang, seperti di Indianapolis dan Brno.

Apa yang dilakukan dengan cerdas oleh Rossi di Silverstone adalah memanfaatkan situasi yang berkembang. Hujan mungkin memang telah memberinya peluang juara, namun Anda tetap harus merebutnya dengan kedua tangan -- dan itulah yang dilakukan Rossi.

Dia orang tercepat pada hari itu. Dan pada akhirnya, itulah yang terpenting. Anda boleh saja tertinggal 0,7 detik di akhir latihan, dan tetap terpaut seperti itu dari pole position. Namun pada hari Minggu sore baik hujan atau panas, itulah saat Anda harus mendapatkan hasil dan Rossi membalap tanpa cacat dan tanpa takut.

Dia bukan hanya menguasai kondisi yang menakutkan, namun dia juga secara luar biasa mampu menjaga jarak dari Marquez, sebelum kemudian bertahan dari Danilo Petrucci, yang lebih sedikit pertaruhannya kalau kalah dibandingkan Rossi.

Ini bukanlah sebuah kebetulan bahwa juara satu dan dua di balapan juga merupakan dua pembalap tercepat di sesi pemanasan yang diguyur hujan.

Sebagian akan mengatakan keberhasilan Rossi dibantu faktor keberuntungan. Namun soal ini, menurut saya Lorenzo lebih beruntung dari dua orang itu karena dia bisa lolos saat ditabrak Pol Espargaro di awal balapan. Memang kehilangan 12 poin dari Rossi sulit untuk dia telan. Namun kalau dia kehilangan 25 poin, bisa jadi ini akhir dari peluangnya menjadi juara dunia.

Lalu seperti apa Lorenzo? Simpel saja, dia tidak sekencang Rossi dalam balapan basah. Dia lebih lambat 1 detik plus saat pemanasan, dan lap terbaik dia dalam balapan 0,5 detik lebih lambat dari si pembalap Italia.

Dia pasti penasaran bagaimana caranya bisa menggunguli poin Rossi. Pas ketika dia mulai mendapat dorongan naik (head of steam), Rossi kembali menemukan cara untuk merebut inisiatif.

Dan bicara soal "steam" (uap), Lorenzo mengatakan kabut di kaca helmnya membuat dia kalah dalam balapan. Hal yang sama terjadi di Le Mans musim 2013 ketika masalah jarak pandang membuatnya melorot ke posisi tujuh. Tahun itu dia kehilangan gelar juara dunia dari Marquez hanya beda empat poin. Dia akan berdoa semoga hal yang sama tak terulang.

Masalah di Silverstone adalah kedua kalinya tahun ini dia kesulitan karena helm dan kehilangan banyak poin, dan bagi saya dua hal itu tak bisa dijadikan alasan pada level olahraga ini.

Itu semua menambah panas drama dan tensi saat kita mulai masuk sepertiga akhir dari musim ini.

Patut dicatat, tidak ada dalam sejarah pembalap yang terus naik podium di setiap balapan lalu gagal menjadi juara dunia. Saya tak perlu mengingatkan Anda lagi bahwa musim ini Rossi belum pernah luput dari hasil podium.

Sementara itu Lorenzo masih di jalur kencang, meskipun dia gagal naik podium di lima dari 12 balapan yang telah digelar. Pembalap terakhir yang bisa juara dunia padahal sangat sering gagal finis di podium adalah Nicky Hayden di musim 2006.

Saya masih belum bisa menetapkan pikiran siapa yang akan juara dunia. Saat ini Lorenzo masih akan tangguh. Bagi Rossi, dia dalam kondisi puncak menuju Misano. Dan tidak ada tempat terindah selain rumah.

Sumber: beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags MotoGP
Komentar