• Home
  • Nasional
  • Media Australia Sebut Jenderal Gatot Punya Ambisi jadi Presiden Indonesia

Media Australia Sebut Jenderal Gatot Punya Ambisi jadi Presiden Indonesia

Jumat, 06 Januari 2017 19:45 WIB
kepala angkatan udara Australia Marsekal Mark Binskin dan Jenderal Gatot Nurmantyo. Kementerian Pertahanan Australia
JAKARTA - Markas Besar Tentara Nasional Indonesia beberapa hari lalu mengatakan menghentikan kerja sama militer dengan Australia setelah muncul kasus penghinaan terhadap Pancsila di markas pasukan khusus mereka di Kota Perth.

Menteri Pertahanan Australia Marise Payne kemarin sudah menyampaikan permohonan maaf dan menyesalkan kejadian ini. 

Payne mengatakan materi yang bersifat sensitif bagi Indonesia itu kini sudah dicabut dari markas militer di Perth, seperti dilansir Financial Review, Kamis (5/1).

Koran Sydney Morning Herald dua hari lalu memuat tulisan seorang koresponden Fairfax di Indonesia bernama Jewel Topsfield yang di dalam tulisannya bernada menyesalkan penghentian kerja sama militer itu. 

Apalagi hal itu menurut dia dilakukan secara sepihak oleh Panglima Gatot Nurmantyo. Topsfield menulis juru bicara presiden mengatakan keputusan itu tidak dibuat oleh Presiden Joko Widodo. 

Artikel Topsfield itu bahkan berjudul "Mengapa Jenderal Gatot memutus hubungan militer dengan Australia". Dalam tulisannya Topsfield seperti ingin mencari tahu ada apa di balik penghentian kerja sama militer ini oleh Jenderal Gatot.

Masih menurut dia, keputusan untuk memutus kerja sama militer selayaknya dilakukan oleh menteri pertahanan atau menteri luar negeri.

Topsfield kemudian tiba-tiba mengutip seorang sumber yang seolah mengatakan Jenderal Gatot telah melampaui kewenangannya. 

"Gatot punya ambisi jadi presiden atau wakil presiden,: kata sumber Topsfield. "Di saat yang sama banyak orang di militer Indonesia yang tidak suka dengan Gatot. Isu ini jadi cara yang bagus buat dia untuk mengharumkan namanya."

Topsfield kemudian mengutip pernyataan pengamat keamanan dari Universitas Deakin, Damien Kingsbury, yang mengatakan keputusan sepihak Gatot memutus kerja sama militer tanpa seizin presiden tidak lazim terjadi dalam suatu hubungan bilateral.

"Itu sangat aneh. Dia pasti tahu apa dampak dari keputusannya itu dalam hubungan bilateral," kata Kingsbury. 

"Jadi keputusan ini menimbulkan pertanyaan soal apa yang sedang dituju oleh Gatot. Apakah murni karena kasus penghinaan atau ada maksud lain."

Sumber: merdeka.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags
Komentar