Mengenang Tsunami Aceh, Bencana Alam yang Terjadi 18 Tahun Lalu
Redaksi Selasa, 27 Desember 2022 10:48 WIB
RIAUHEADLINE.COM - Tsunami Aceh adalah bencana alam yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di wilayah Aceh, Indonesia.
Bencana ini disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di Samudra Hindia, yang menyebabkan terjadinya tsunami. Tsunami ini merusak wilayah Aceh secara masif dan mengakibatkan kematian ribuan orang.
Tsunami Aceh merupakan salah satu bencana alam terbesar yang pernah terjadi di Indonesia.
Gempa bumi yang terjadi di Samudra Hindia memiliki kekuatan 9,3 skala Richter, yang merupakan gempa terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah.
Gempa bumi ini terjadi pada pukul 07.58 WIB dan merambat hingga ke wilayah Aceh, yang merupakan wilayah paling dekat dengan sumber gempa.
Setelah gempa bumi terjadi, tsunami yang disebabkan oleh gempa tersebut langsung menghantam wilayah Aceh.
Tsunami ini memiliki ketinggian sampai dengan 5 meter dan merusak sebagian besar wilayah Aceh. Banyak rumah, gedung, jembatan, dan infrastruktur lainnya yang hancur terkena tsunami.
Kematian yang terjadi akibat tsunami ini juga sangat banyak, dengan jumlah korban yang dikabarkan mencapai lebih dari 200.000 orang.
Setelah bencana ini terjadi, banyak orang yang mengalami kehilangan keluarga, rumah, dan harta benda. Banyak orang yang terpaksa harus mengungsi ke tempat-tempat aman.
Pemerintah Indonesia juga segera memberikan bantuan kemanusiaan kepada para korban bencana ini, dengan memberikan makanan, air minum, dan tempat tinggal sementara.
Tsunami Aceh merupakan bencana alam yang sangat memilukan dan merusak. Bencana ini menyebabkan kehilangan yang sangat besar bagi para korban, baik secara materi maupun secara emosional.
Meskipun telah berlalu bertahun-tahun, korban bencana ini masih terus mengalami kesulitan untuk pulih dan bangkit dari keterpurukan yang dialami.
Tsunami Aceh Sarana Pembelajaran Membangun Empati dan Solidaritas
Bencana Gempa dan Tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu, tak semata meninggalkan kesedihan yang mengharu biru.
Bencana ini juga meninggalkan pembelajaran tentang pentingnya kebersamaan untuk bangkit pascabencana.
Hal tersebut disampaikan oleh Penjabat (Pj) Gubernur Aceh Achmad Marzuki, dalam sambutannya pada peringatan 18 tahun tsunami Aceh, yang tahun ini digelar di Pemakaman Massal Syuhada korban tsunami Siron, Senin (26/12/2022).
"Bagaimana komunitas internasional bergerak bersama membantu meringankan beban masyarakat Aceh. Perhatian masyarakat internasional ini menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua, bahwa upaya untuk bangkit, upaya untuk maju tidak bisa dilakukan sendiri, semua harus dilakukan secara bersatu padu dan bersama-sama," ujar Pj Gubernur.
Dakam sambutannya, Pj Gubernur juga menegaskan, seluruh elemen masyarakat boleh memberikan sumbangsihnya dalam membangun Aceh.
"Kita bisa bersama-sama terus membangun Aceh tanpa melihat dari mana dia, apa suku dia, apa bangsa dia dan lain sebagainya. Dalam situasi bagaimana pun kita tetap harus bersatu padu untuk membangun Aceh. Karena apapun yang kita lakukan akan kita tinggalkan. Jadi, mari kita berikan sumbangsih terbaik, semoga apa yang kita lakukan tersebut dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah," kata Achmad Marzuki.
"Momentum peringatan tsunami ini harus kita jadikan sarana memperkuat persatuan dan kesatuan kita untuk membangun Aceh agar bisa lebih maju ke depan. Kita tidak bisa bergerak sendiri,” pungkas Gubernur.
Sementara itu, Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab dalam tausyiah singkatnya menjelaskan, bahwa tsunami adalah cara Allah untuk mengingatkan hamba-hambanya untuk mendekat padaNya. Tsunami adalah bencana yang sarat dengan pembelajaran dan sarana pengingat.
“Tsunami menyadarkan kita, bahwa saat musibah datang, kita tidak bisa bangkit sendiri. Sebagai makhluk sosial kita butuh bantuan dan uluran tangan orang lain," katanya.
"Inilah yang Allah contohkan dengan bangkitnya solidaritas global membantu Aceh, dari berbagai negara dan lintas agama, semua turun dan membantu Aceh. Ini bukan hanya hal yang harus kita syukuri, tetapi juga penuh dengan pembelajaran-pembelajaran," ujar ulama yang akrab disapa Tu Sop itu.
"Iman dan amal saleh adalah ‘bangunan’ yang tidak akan pernah runtuh sebesar apapun bencana datang. Orang beriman dan gemar beramal saleh tidak akan pernah takut dengan kehancuran akibat gempa, karena bangunan iman dan amal salehnya tetap kokoh. Ini yangbharus kita wariskan kepada generasi masa depan,” kata Tu Sop.
Peringatan Tsunami di Pemakaman Massal Siron juga dihadiri oleh Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia (PYM) Malik Mahmud Al Haytar, Ketua DPRA Saiful Bahri, anggota DPR RI Illiza Sa'aduddin Djamal, Kapolda Aceh Irjen Pol Ahmad Haydar, Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Mohammad Hasan, Kajati Aceh Bambang Bachtiar, Pj Bupati Aceh Besar Muhammad Iswanto, serta para Kepala SKPA.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait

