• Home
  • Nasional
  • Pengguna Narkoba Kalangan Pelajar dan Generasi Muda Mengkhwatirkan di Riau

Pengguna Narkoba Kalangan Pelajar dan Generasi Muda Mengkhwatirkan di Riau

Kamis, 26 November 2015 21:19 WIB
JAKARTA - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau Kamsol mengatakan, pengguna narkoba di kalangan pelajar dan generasi muda di Riau sangat mengkhawatirkan.

Jika hal ini tidak mendapatkan perhatian serius dari semua pihak, dikuatirkan nasib sumberdaya manusia di Riau terbengakalai dan tidak memiliki masa depan. Hal itu disampaikan Kamsol saat menyampaikan pertanyaan dalam Diskusi Bahaya Narkoba: Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Penyalagunaan Narkoba yang diselenggarakan Perpustakaan MPR RI di Jakarta, Kamis (26/11/15).

"Saya tidak bisa membayangkan bila hal ini tidak diatasi atau dicegah, merekalah yang akan menggantikan kita yang tua-tua dalam pembangunan," kata Kamsol.

Menurut Kamsol, angka pengguna narkoba di kalangan pelajar dan generasi muda terus meningkat signifikan dari tahun ke tahun. Mereka yang menjadi terlibat atau menjadi pengguna narkoba, karena putus sekolah.

"Angka putus sekolah di Riau cukup tinggi karena pengaruh narkoba. Kelas 1 misalkan 1000, kelas 2 jadi 900 dan kelas 3 jadi 800. Angka partisipasi pendidikan di Riau sekarang hanya 68 persen," katanya.

Akibat narkoba, pelajar dan generasi muda di Riau bersikap apatis, tidak bergairah terhadap masa depan.

"Pelajar putus sekolah rawan terlibat narkoba. Kondisi saat ini di Riau kategori darurat, tidak bisa diselesaikan melalui sosialisasi atau slogan saja, tapi harus ada gerakan nyata," katanya.

Gerakan mencegah bahaya narkoba antara lain mengefektifkan Gerakan Pramuka dikalangan pelajar, Karang Taruna untuk generasi muda dan BEM untuk mahasiswa. "Karena itu, kita mempelopori Riau Bangkit melawan narkoba pada Hari Kebangkitan Nasional kemarin," katanya.

Kamsol mengungkapkan, hampir setiap hari Polda Riau menangkap bandar maupun pengedar narkoba. Hasil operasi terhadap bandar maupun pengedar yang ditangkappun kategori besar atau kakap.

"Di Riau setiap hari ada yang ditangkap, hasil tangkapannya juga besar-besar. Ini yang kita prihatinkan," katanya.

Direktur Deserminasi Informasi Badan Narkotika Nasional (BNN) yng menjadi narasumber dalam diskusi tersebut mengatakan, Indonesia saat ini memang darurat narkoba yang luar biasa sehingga perlu ada tindakan serius untuk mencegahnya.

"Ibu hamil juga banyak ditemukan menggunakan narkoba stress memikirkan janinnya. Dan tragisnya anak-anak kena narkoba gara-gara makan brownies yang diberi ganja, ini kasusnya kita temukan di Blok M," kata Gun Gun.

BNN, kata Gun-Gun, mencatat jumlah pengguna narkoba se-Indonesia mencapai 4 juta orang. Yakni 1,6 juta coba pakai, teratur pakai 1,4 juta dan pencandu 943 ribu orang.

Narasumber lain, Anggota Komisi X DPR Popong Otje Djunjunan mengatakan, Indonesia saat ini masuk jaringan internasional peredaran narkoba, karena Indonesia memeliki kekayaan alam dan ingin dikuasai.

"Ada kesengajaan mereka mengedarkan narkoba di Indonesia, sampai kiamat pun tidak akan berhenti sampai kekayaan kita dikuasai. Narkoba sudah seperti bahaya laten," kata Popong.

Popong menceritakan anaknya yang nomor tiga juga terlibat narkoba, sehingga sekolahnya ketika itu sampai berhenti satu tahun, saat pertama kali menjadi Anggota DPR pada 1987 lalu.

Popong menjelaskan, keterlibatan anak-anak dalam narkoba penyebabnya tidak sederhna lagi, seperti putus sekolah, broken home, di manja dalam keluarga, tapi juga sudah disebabkan oleh budaya konsumtif ingin cepat kaya sehingga menjadi pengguna dan pengedar narkoba.

(rdk/rtc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Narkoba
Komentar