Legislator Riau Tuding PLN Tak Transparan Soal Pemadaman Listrik
Kamis, 08 Oktober 2015 10:33 WIB
PEKANBARU - Komisi D DPRD Riau menganggap, Perusahaan Listrik Negara atau PLN Wilayah Riau-Kepri tidak transparan dalam memberikan informasi tentang pemadaman listrik kepada masyarakat.
Dari informasi yang disampaikan PLN ke Komisi D, pemadaman dilakukan hanya sekali dalam dua hari. Namun dalam kenyatannya, pemadaman dilakukan PLN seperti minum obat, sampai tiga kali dalam sehari.
"Orang sibuk mematikan api penyebab kabut asap, PLN malah berusaha mematikan lampu," kata Erizal Muluk, Ketua Komisi D DPRD Riau saat membuka hearing dengan PLN Wilayah Riau-Kepri, Rabu (07/10/15).
Alasan PLN memadamkan listrik dinilai pihaknya sebagai alasan yang sama dan mengada-ada, karena pemadaman listrik selalu terjadi tidak hanya pada musim kemarau tapi selalu terjadi setiap tahun.
Masyarakat pin sebutnya, tidak mau tahu apapun itu alasan PLN, karena mereka sudah membayar kewajiban dan PLN wajib menyediakan daya listrik.
Menanggapi hal ini, Febi Joko Priharto, General Manager PLN Wilayah Riau Kepri menjelaskan, pemadaman listrik disebabkan karena, manajemen beban masih berlanjut sampai musim basah (estimasi November 2015) dan defisit daya cendrung bertambah.
"Kondisi terakhir kelistrikan di sistem Riau mengalami defisit 70 MW pada Waktu Beban Puncak (WBP) dan 40 MW pada Luar Waktu Beban Puncak (LWBP)," jelasnya.
Ia juga menyebut, sistem kelistrikan di Pulau Sumatera saat ini memang bisa dikatakan sakit. Defisit daya yang dimaksud, disebabkan pemeliharaan rutin pembangkit, gangguan pembangkit dan akibat musim kemarau.
Dengan adanya variasi musim, untuk mendapatkan debit air yang cukup maka PLTA Kotopanjang, Maninjau dan Singkarak hanya dapat dioperasikan pada WBP, karena pada siang hari tidak dioperasikan untuk menampung air.
"Terjadinya bencana asap juga mempengaruhi kinerja pembangkit listrik (PLTG/PLTU). Sehingga terjadi penurunan daya (derating) sebesar 200 MW di sistem Sumatera dan kita menginformasikan pemadaman dilakukan sekali dua hari," ujarnya.
Mendengar pernyataan ini, Erizal Muluk mengatakan, alasan cuaca kurangnya debit air dan karena kabut asap merugikan alasan PLN untuk memadamkan listrik karena pemadaman listrik ini, selalu terjadi tidak hanya karena kekurangan debit air.
"Setelah selesai pun kemarau dan asap. PLN tetap akan bermasalah listrik, pemadaman akan tetap ada, karena apalagi sekarang selalu ada permintaan baru dan banyak yang antri," imbuhnya.
Senada dengan itu, Asri Auzar, Sekretaris Komisi D, menjelaskan, alasan yang sama seperti tahun sebelumnya disampaikan PLN, padahal istrik mati ini semenjak berdiri. Solusi yang diberikan juga disampaikan sejak tahun lalu juga sama, namun tetap mati.
"Seperti resep dokter, satu hari sekali dua kali dan menjadi tiga kali. Yang perlu saya pertanyakan apa upaya PLN supaya listrik ini tidak mati. Sebab pemadaman ini jelas merugikan masyarakat," tegasnya.
(rdk/rtc)
Dari informasi yang disampaikan PLN ke Komisi D, pemadaman dilakukan hanya sekali dalam dua hari. Namun dalam kenyatannya, pemadaman dilakukan PLN seperti minum obat, sampai tiga kali dalam sehari.
"Orang sibuk mematikan api penyebab kabut asap, PLN malah berusaha mematikan lampu," kata Erizal Muluk, Ketua Komisi D DPRD Riau saat membuka hearing dengan PLN Wilayah Riau-Kepri, Rabu (07/10/15).
Alasan PLN memadamkan listrik dinilai pihaknya sebagai alasan yang sama dan mengada-ada, karena pemadaman listrik selalu terjadi tidak hanya pada musim kemarau tapi selalu terjadi setiap tahun.
Masyarakat pin sebutnya, tidak mau tahu apapun itu alasan PLN, karena mereka sudah membayar kewajiban dan PLN wajib menyediakan daya listrik.
Menanggapi hal ini, Febi Joko Priharto, General Manager PLN Wilayah Riau Kepri menjelaskan, pemadaman listrik disebabkan karena, manajemen beban masih berlanjut sampai musim basah (estimasi November 2015) dan defisit daya cendrung bertambah.
"Kondisi terakhir kelistrikan di sistem Riau mengalami defisit 70 MW pada Waktu Beban Puncak (WBP) dan 40 MW pada Luar Waktu Beban Puncak (LWBP)," jelasnya.
Ia juga menyebut, sistem kelistrikan di Pulau Sumatera saat ini memang bisa dikatakan sakit. Defisit daya yang dimaksud, disebabkan pemeliharaan rutin pembangkit, gangguan pembangkit dan akibat musim kemarau.
Dengan adanya variasi musim, untuk mendapatkan debit air yang cukup maka PLTA Kotopanjang, Maninjau dan Singkarak hanya dapat dioperasikan pada WBP, karena pada siang hari tidak dioperasikan untuk menampung air.
"Terjadinya bencana asap juga mempengaruhi kinerja pembangkit listrik (PLTG/PLTU). Sehingga terjadi penurunan daya (derating) sebesar 200 MW di sistem Sumatera dan kita menginformasikan pemadaman dilakukan sekali dua hari," ujarnya.
Mendengar pernyataan ini, Erizal Muluk mengatakan, alasan cuaca kurangnya debit air dan karena kabut asap merugikan alasan PLN untuk memadamkan listrik karena pemadaman listrik ini, selalu terjadi tidak hanya karena kekurangan debit air.
"Setelah selesai pun kemarau dan asap. PLN tetap akan bermasalah listrik, pemadaman akan tetap ada, karena apalagi sekarang selalu ada permintaan baru dan banyak yang antri," imbuhnya.
Senada dengan itu, Asri Auzar, Sekretaris Komisi D, menjelaskan, alasan yang sama seperti tahun sebelumnya disampaikan PLN, padahal istrik mati ini semenjak berdiri. Solusi yang diberikan juga disampaikan sejak tahun lalu juga sama, namun tetap mati.
"Seperti resep dokter, satu hari sekali dua kali dan menjadi tiga kali. Yang perlu saya pertanyakan apa upaya PLN supaya listrik ini tidak mati. Sebab pemadaman ini jelas merugikan masyarakat," tegasnya.
(rdk/rtc)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar
Berita Terkait
-
Ekbis
PLN Kejar Target 1.434 Sertifikasi Tanah di Riau
-
Ekbis
Menteri BUMN Bangga PLN Jaga Pasokan Listrik di Blok Rokan
-
Ekbis
Menteri BUMN Erick Thohir Kunjungi Blok Rokan dan Sapa Pekerja
-
Advertorial
PLN Buka Hotline Center Penanganan Keluhan Tagihan Listrik
-
Sosial
Lindungi Petugas dari Corona, PLN Tidak Lakukan Pengecekan Meteran Listrik
-
Ekbis
Tanggapan PLN Dumai Soal Keluhan Pelanggan Terkait Tagihan PJJ

