• Home
  • Sosial
  • Mantan Anggota Satpol PP Kampar Jadi Peternak Sapi

Mantan Anggota Satpol PP Kampar Jadi Peternak Sapi

Minggu, 12 Januari 2014 21:34 WIB

KAMPAR - Tiga setengah tahun lalu, Maswardi masih nampak gagah berseragam coklat muda, bersepatu lars. Dan saban hari pula, kepalanya yang cepak berhiaskan baret kebesaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kampar. 

Tapi penampilan gagah itu cuma bertahan lima tahun. Pegawai honorer di Pemkab Kampar ini akhirnya memutuskan untuk menyimpan seragam itu selamanya dan menggantinya dengan pakaian sederhana dan sepatu boot. 

“Saya memilih jadi peternak sapi saja. Sebab saya merasakan bahwa masa depan saya ada di sini,” ujar ayah satu anak ini dalam sebuah perbincangan di komplek kelompok peternak sapi “Bukit Batang Potai” di Bukit Injin Penyesawan Selatan, Desa Penyesawan Kecamatan Kampar, Kamis pekan lalu. 

Semula, kata Wardi, dia cuma punya modal dua ekor sapi. Sapi itu dia angon sendiri. Persis 3,4 tahun lalu, ada program pengembangbiakan sapi Sarjana Masuk Desa (SMD) bikinan Pemerintah Pusat. Wardi pun bergabung dengan kelompok yang dikomandani oleh Muhammad Lubis. 

Saat itu, kelompok ini kebagian 43 ekor sapi plus kandang. Sebanyak 24 ekor betina, sisanya jantan. Dari sinilah kemudian Wardi mulai merasakan perubahan hidup. Dengan penghasilan bersih sekitar Rp2 juta per bulan, Wardi sudah bisa bikin rumah berukuran 5x6 meter. 

Perabotan rumah dia lengkapi, plus sepeda motor baru. Pas istrinya yang mau melahirkan harus dioperasi, Wardi tak kelimpungan. “Alhamdulillah, saya dikasi rezeki oleh Allah. Kalau saya masih terus bertahan sebagai pegawai honor, barang kali sampai sekarang saya masih tinggal di rumah orangtua,” katanya tertawa. 

Tak hanya Maswardi yang ekonominya mulai kinclong dari hasil ternak sapi itu. Tapi semua anggota kelompok yang kini tersisa 7 orang. Arpi Putra misalnya. Lelaki 34 tahun ini sudah bisa membeli tanah seluas 20x25 meter. Di atas lahan itu, dia bisa mendirikan rumah berukuran 9x25 meter plus sepeda motor baru. “Dulu saya numpang di rumah mertua,” ujar ayah tiga anak ini malu-malu. 

Selama 3,4 tahun usaha peternakan sapi itu kata Muhammad Lubis, mereka berhasil menjual sekitar 80 ekor sapi jantan. Harga jual perekor antara Rp8,2 juta hingga Rp9,5 juta. Lalu, tiap bulan kelompok ini bisa menambah pundi-pundi Rp8 juta dari air kencing sapi-sapi itu. “Sekarang kami masih punya 68 ekor. Belum termasuk 3 ekor pejantan,” Lubis merinci. 

Sapi-sapi jenis Bali dan Brahman itu, kata Lubis, digembalakan di lahan seluas 2 hektar. “Kami juga punya Hijauan Makanan Ternak (HMT) seluas 4 hektar. HMT ini kami rawat dengan biaya Rp2,5 juta per hektar,” ujarnya. 

Selain bisa mendongkrak ekonomi para anggota, hasil penjualan sapi tadi mereka pakai untuk membikin tempat pakan ternak yang lebih bagus. Konstruksinya terbuat dari beton. Mereka juga sudah bisa membikin saluran air sepanjang 1 kilometer. “Dulu di sini air sangat susah. Tapi sekarang sudah 24 jam. Kami juga berencana menambah luasan HMT,” katanya. 

Sebab, kata Lubis, satu hektar HMT hanya cukup untuk 8-10 ekor ternak. Supaya nilai tambah meningkat, Lubis dan kawan-kawan juga sudah akan mengintegrasikan komplek peternakan mereka itu dengan tanaman hortikultura semacam cabai ataupun bawang merah. 

Termasuk nilai tambah lain seperti kompos. “Selama ini kami sudah diajari oleh Dinas tentang tata cara bikin kompos. Dan sebenarnya kami sudah ada tawaran kontrak 1000 karung per bulan. Tapi lantaran kompos masih kami manfaatkan sendiri untuk HMT, sementara kontrak itu tak kami ambil,” kata Lubis. 

Meski ternak yang ada sudah lumayan, Lubis dan kawan-kawan justru masih berupaya terus mengembangkan peternakan yang selama ini diasuh oleh Dinas Pertanian dan Peternakan itu -kini sudah berubah menjadi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan- tapi mereka terkendala dengan bibit sapi penggemukan yang harganya lumayan mahal. Antara Rp5,7 juta hingga Rp7,8 juta. 

Cokroaminoto yang kala berkunjung ke komplek peternakan itu masih menjabat Kadis Pertanian dan Peternakan, mengaku akan berupaya mencarikan solusi untuk misi Lubis dan kawan-kawan. “Intinya kami akan terus melakukan pembinaan. Yang belum ada usaha saja kami bina supaya bisa berusaha, apalagi yang sudah ada kayak gini,” kata Cokro. 

Bupati Kampar Jefry Noer, mengaku simpati dengan pilihan yang dibikin oleh Maswardi yang lebih memilih ‘bercengkrama’ dengan kotoran sapi daripada menjadi pegawai honorer di Pemkab Kampar. “Inilah anak muda yang benar-benar berjiwa enterpreneurship itu. Lantaran pengen sejahtera, dia memilih jadi pengusaha,” ujar Jefry.***(man)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tags Sosial
Komentar