• Home
  • Tekno
  • World Economic Forum Sorot Google, Facebook & Amazon Soal Penghindaran Pajak

World Economic Forum Sorot Google, Facebook & Amazon Soal Penghindaran Pajak

Hadi Pramono Jumat, 26 Januari 2018 19:59 WIB
World Economic Forum
JAKARTA - Dalam sejumlah pertemuan World Economic Forum (WEF) sebelumnya, perusahaan teknologi dipandang sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi. Namun pada pertemuan tahun ini, persepsi itu tak lagi muncul.

Pasalnya, dalam pertemuan yang digelar di Davos, Swiss sepekan terakhir tersebut, kecurigaan dan persepsi yang buruk justru lebih banyak muncul kepada perusahaan teknologi. 

Kecurigaan dan kewaspadaan pada bentuk bisnis perusahaan sektor tersebut muncul dari para pejabat pemerintahan, pebisnis dan masyarakat umum yang hadir di pertemuan tersebut.

Kritik kepada perusahaan teknologi seperti Google, Facebook hingga Amazon.com salah satunya muncul dalam bentuk tudingan penghindaran pajak. Selain itu, mereka juga dituding sebagai medium penyebar konten kaum ekstrimis dan politik hitam.

Di sisi lain, dalam konferensi tersebut, perusahaan teknologi juga dikritik karena kurangnya kesadaran mereka dalam melindungi privasi konsumen. 

Bisnis sektor ini juga disorot karena kehadirannya berpotensi membuat masyarakat di seluruh dunia kehilangan pekerjaan, terutama karena tren otomatisasinya.

Hal itu membuat para petinggi perusahaan teknologi mengeluarkan jawaban yang cenderung diplomatis sembari meredakan kekhawatiran publik akan kehadiran mereka. Salah satunya muncul dari mulut CEO Uber Technologies Inc. Dara Khosrowshahi.

“Kami akan lebih akomodatif dengan para regulator. Kami berjanji akan ‘membayar’ apa yang telah kami dapatkan dari masyarakat dengan mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan,” katanya, seperti dikutip dari lama Weforum.org, Jumat (26/1/2018).

Dia pun menyebut kehadirannya di WEF sebagai bentuk tur permintaan maaf secara global atas bentuk bisnis mereka selama ini. Seperti diketahui, Uber selama ini dikritik karena bentuk bisnisnya yang terlalu agresif dan eksploitatif.

Sikap hampir serupa pun muncul dari CEO Google Sundar Pichai. Kritik yang tajam ke perusahaanya, membuat Google ingin lebih terbuka dan aktif menjalin komunikasi serta kerja sama dengan para regulator. Salah satu upayanya adalah dengan menerima pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi kepada bisnisnya.

“Di Google, kami ingin melayani semua orang di dunia. Untuk itu kami perlu lebih terbuka terhadap umpan balik dari siapapun,” kata Pichai, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (26/1).

Sementara itu, Chief Operating Officer Facebook Sheryl Sandberg pun turut memberikan pembelaan ke publik. Dia menjanjikan untuk meningkatkan keamanan privasi pengguna, memberantas ujaran kebencian dan memerangi penggunaan platformnya sebagai alat kampanye hitam.

Sikap ‘manis’ para petinggi sektor teknologi ini muncul setelah sejumlah pejabat negara memberikan peringatan yang tegas kepada korporasi tersebut. 

Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pidatonya pun mengancam akan menaikkan pajak kepada perusahaan teknologi AS, jika mereka tak segera membangun pusat penelitian di Prancis, dan merekrut tenaga kerja baru.

Perdana Menteri Inggris Theresa May bahkan mengambil sikap yang lebih ekstrim. Dalam pidatonya di WEF dia mendesak para investor untuk menjual saham perusahaan teknologi, jika korporasi tersebut tidak meningkatkan upayanya untuk memerangi persebaran konten ekstrimis.

"Perusahaan teknologi masih perlu melangkah lebih jauh dalam meningkatkan tanggung jawab mereka dalam menangani aktivitas online yang berbahaya dan ilegal," kata May.

George Soros bahkan turut mengkritisi kehadiran perusahaan teknologi seperti Facebook dan Google. Menurutnya, kedua media sosial tersebut telah menciptakan kecanduan yang cenderung negatif dan berbahaya bagi publik, terutama kaum muda.

Sumber : bloomberg
Tags AmazonFacebookGooglePajak
Komentar