• Home
  • Traveler
  • Gubernur Riau Respon Penolakan LAM Riau Soal Festival Lampion Zhing Qiu

Gubernur Riau Respon Penolakan LAM Riau Soal Festival Lampion Zhing Qiu

Hadi Pramono Rabu, 11 Oktober 2017 17:15 WIB
PEKANBARU - Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau keberatan jika festival lampion raksasa Zhing Qiu akan dimasukkan ke dalam kalender iven nasional Provinsi Riau.

Mereka menganggap bahwa keputusan tersebut tidak mencerminkan visi Riau 2020. Sebab selama ini Riau mengusung slogan Riau the Homeland of Melayu dan bertekad mengangkat Riau berbasis budaya melayu.

Atas keberatan ini, LAM Riau layangkan surat keberatannya atas ucapan Gubernur Riau yang akan memasukkan festival lampion raksasa Zhing Qiu dalam kalender nasional Provinsi Riau.

Menanggapi keberatan ini, orang yang kini menyandang gelar Datuk Seri Setia Amanah ini akan menanggapi surat keberatan LAM dengan menggunakan surat resmi juga, Surat bernomor B-102/LAMR/X/2017.

"Nanti secepatnya akan kita jawab suratnya. Itu tidak apa-apa,"katanya di Mesjid Annur Pekanbaru, Rabu, 11 Oktober 2017.

Tambahnya, sebagai orang nomor satu di Riau, dirinya berkewajiban untuk mengangkat khasanah budaya dan memasukkannya kedalam acara Pemrov Riau meskipun tidak berasal dari budaya Melayu.

"Kalau memang ada budaya lokal, maka sebaikknya akan kita angkat. Jangan sampai tenggelam," imbuhnya.

Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Melayu Riau, Datuk Seri H Al Azhar yang ditemui di ruang kerjanya, membenarkan surat itu dibuat oleh pihaknya. Namun sifatnya hanya internal. 

Isinya mempertanyakan kepada Gubernur Riau Arsyadjuliandi (Andi) Rachman tentang rencana menjadikan Pawai Lampion Raksasa  menjadi kalender tetap pariwisata, layaknya Iven Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).

"Itu memang surat resmi dari Lembaga Adat Melayu Riau kepada Datuk Setia Amanah Gubernur Riau Arsyadjulandi Rahman. Surat itu sifatnya internal. Tapi zaman sekarang sudah juga mengawal surat itu untuk tidak bocor pada publik," tuturnya.

Menurut Al Azhar, mengapa LAM Riau menyurati bukan menyampaikan persoalan itu secara lisan atau langsung, karena tentu terkendala oleh padatnya agenda Datuk Setia Amanah H Arsyadjuliandi Rachman selaku gubernur.

"Sesuai dengan bunyi surat itu, Lembaga Adat Melayu Riau  mempertanyakan terkait kegiatan Festival Kue Bulan yang akan dibesarkan melalui agenda pariwisata, baiknasional maupun daerah," jelasnya. 

"Latar belakangnya sederhana. Dalam surat itu kita contohkan ritual Bakar Tongkang. Kita setuju karena salah satu jualan wisata itu adalah keunikan,'' urainya.

Al Azhar menyebut, Bakar Tongkang itu hanya ada di Kota Bagansiapiapi, Rohil. Sepengetahuan Budayawan Riau ini iven Bakar Tongkang tidak ada di komunitas Tionghoa di belahan bumi mana pun. 

Ini berbeda dengan kegiatan Perayaan Zhong Qiu atau Festival Kue Bulan, ia ada juga di negara lain seperti Singapura.

"Nah kalau kita mengkapitalisasi dengan dana pemerintah, nanti membesar dan akan muncul pengaburan terhadap Visi Riau 2020, Riau the Homeland of Melayu dan Pariwisata Berbasis Budaya setempat yang selama ini dielu-elukan pariwisata dan stakeholder lainnya,'' tegas Al Azhar.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Pawai Lampion Raksasa Zhong Qiu atau Festival Kue Bulan di Jalan Karet Pekanbaru, Sabtu malam (07/10/17) lalu, Gubernur Andi Rachman saat diwawancara wartawan menyatakan iven tersebut bisa saja menjadi iven pariwisata Riau.

"Bisa saja kita usulkan menjadi salah satu iven pariwisata yang ada di Provinsi Riau. Nanti kita bicarakan dengan Dinas Kebudayaan atau Dinas Pariwisata,'' kata gubernur sebelum melepas Pawai Lampion Festival Kue Bulan, ketika itu.

(rdk/rtc)
Tags Budaya MelayuFestival LampionLAMR RiauWisata Riau
Komentar